Syiahindonesia.com - Setiap mendatangi bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh rasa syukur dan refleksi spiritual. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum) yang di dalamnya terdapat hari Asyura (10 Muharram)—sebuah hari bersejarah di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari cengkeraman Firaun. Di dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hari suci ini diperingati dengan ibadah puasa sunah Asyura sebagaimana yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah SAW.
Namun, pemandangan yang bertolak belakang terjadi di dalam komunitas Syiah, khususnya sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyyah). Bagi mereka, bulan Muharram bukanlah momen syukur, melainkan musim duka cita nasional dan histeria massal. Mereka mengubah momentum Asyura menjadi ritual Matam—sebuah ritus meratap, memukul-mukul dada, menyiksa diri dengan rantai, hingga melukai kepala dengan pedang dan pisau sampai bersimbah darah demi memperingati kematian tragis cucu Nabi, Husain bin Ali RA, di Padang Karbala pada tahun 61 Hijriah. Jika dibedah secara mendalam, ritual ini menyimpan rentetan kejanggalan teologis, historis, dan kemanusiaan yang sangat nyata serta bertentangan dengan kemurnian syariat Islam.
1. Kejanggalan Teologis: Pelanggaran Terbuka terhadap Syariat Niyahah
Kejanggalan paling mendasar dari ritual Matam adalah tabrakannya yang sangat telak dengan hukum Islam mengenai larangan meratapi kematian (niyahah). Islam secara tegas mengajarkan umatnya untuk bersabar dan beristirja' ketika ditimpa musibah, bukan malah mengekspresikannya dengan jeritan frustrasi atau penyiksaan fisik.
Rasulullah SAW telah memperingatkan hal ini dalam sebuah hadis sahih:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi (saat ditimpa musibah), merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan-seruan Jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 1294).
Praktik Matam yang dipamerkan kaum Syiah setiap tahun—mulai dari Sina-Zani (memukul dada), Zanjir-Zani (memukul punggung dengan rantai besi tajam), hingga Tatbir (membacok kepala sendiri)—adalah visualisasi nyata dari apa yang dilarang keras oleh Nabi SAW di atas. Mengklaim ritual yang dilarang oleh Nabi sebagai bentuk "ibadah tertinggi" dan "bukti cinta kepada Ahlul Bait" adalah sebuah paradoks teologis yang sangat rancu.
2. Kejanggalan Historis: Mengabaikan Wasiat Langsung Sayyidina Husain RA
Para teolog Syiah selalu mengeklaim bahwa darah yang mereka kucurkan dalam ritual Tatbir adalah bentuk kesetiaan dan tebusan atas penderitaan Sayyidina Husain RA. Namun, klaim sejarah ini runtuh apabila kita membaca literatur sejarah, bahkan yang ditulis oleh ulama Syiah sendiri.
Sebelum syahid di Karbala, Sayyidina Husain RA telah memberikan wasiat luhur secara langsung kepada saudarinya, Sayyidah Zainab binti Ali, agar menjaga ketabahan dan tidak melakukan tindakan-tindakan destruktif ala Jahiliyah jika beliau gugur. Sejarawan besar Syiah, Abu Mikhnaf, dalam kitabnya Maqtal al-Husain, merekam perkataan Husain RA:
"Wahai saudariku, bertakwalah kepada Allah dan carilah hiburan dengan hiburan dari Allah... Aku bersumpah kepadamu dengan sungguh-sungguh, janganlah engkau merobek pakaianmu karena (kematian)-ku, janganlah engkau mencakar wajahmu, dan janganlah engkau menyeru dengan kebinasaan dan kehancuran jika aku telah binasa."
Melalui wasiat ini, Sayyidina Husain RA secara eksplisit melarang segala bentuk ratapan massal, pencakaran wajah, dan histeria fisik. Dengan demikian, ritual Matam dan menyiksa diri yang dilakukan kaum Syiah hari ini justru merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap wasiat suci Husain RA itu sendiri. Mereka mengeklaim membela Husain, namun di saat yang sama menginjak-injak pesan terakhirnya.
3. Kejanggalan Logika: Inkonsistensi Duka Cita antara Para Nabi dan Imam
Jika parameter ritual Matam didasarkan pada besarnya rasa duka atas wafatnya figur-figur suci umat Islam, maka ritual Syiah ini menyimpan inkonsistensi logika yang sangat tajam.
Umat Islam sepakat bahwa manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di bumi adalah Rasulullah SAW. Kematian Rasulullah SAW adalah musibah terbesar bagi alam semesta. Demikian pula dengan wafatnya sang singa Allah, Ali bin Abi Thalib RA (ayah dari Husain), yang dibunuh secara keji oleh Ibnu Muljam saat mengimami salat subuh. Namun kejanggalannya, mengapa kaum Syiah tidak pernah membuat ritual menyayat kepala, mengucurkan darah, atau mencambuk punggung dengan rantai pada hari wafatnya Rasulullah SAW atau hari syahidnya Imam Ali RA?
Mengapa histeria berdarah ini hanya dieksploitasi secara masif dan teatrikal khusus untuk Sayyidina Husain RA pada tanggal 10 Muharram? Diferensiasi ekstrem ini menunjukkan bahwa perayaan Asyura dalam tradisi Syiah bukan sekadar ekspresi duka cita murni, melainkan sebuah komoditas politik ideologis yang dirawat secara sengaja untuk memelihara sentimen kebencian terhadap mayoritas Sahabat Nabi dan umat Islam (Ahlus Sunnah).
4. Akar Historis yang Sesungguhnya: Ritual Penyesalan Kaum Tawwabun
Secara melankolis, sejarah mencatat bahwa ritual meratap dan menyiksa diri ini sebenarnya tidak dikenal pada masa generasi awal Ahlul Bait. Ritual ini tidak pernah dilakukan oleh putra Husain yang selamat, yaitu Imam Ali Zainal Abidin, tidak pula oleh cucunya Muhammad al-Baqir, maupun cicitnya Ja'far ash-Sadiq.
Akar historis dari ritual meratap ini bermula dari gerakan politik kelompok Tawwabun (Orang-orang yang bertaubat) yang dipimpin oleh Sulaiman bin Surad al-Khuza'i pada tahun 65 Hijriah. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang Syiah Kufah yang sebelumnya mengirimkan ribuan surat undangan berbaiat kepada Husain RA agar datang ke Irak, namun ketika Husain dikepung oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad, orang-orang Syiah Kufah ini berkhianat, ketakutan, dan membiarkan Husain beserta keluarganya dibantai tanpa pertolongan.
Setelah Husain wafat, perasaan bersalah dan berdosa yang luar biasa menghantui kolektifitas Syiah Kufah. Mereka kemudian berkumpul di makam Husain sembari menjerit, meratap, dan memukul-mukul tubuh mereka sebagai ekspresi penyesalan atas pengkhianatan mereka sendiri. Jadi, esensi dari ritual Matam pada mulanya adalah ritus penyesalan para pengkhianat, yang anehnya hari ini diwariskan menjadi doktrin akidah yang diwajibkan kepada generasi Syiah kontemporer di berbagai belahan dunia.
5. Dampak Kerusakan: Islamofobia dan Islam yang Terdistorsi
Di era digital hari ini, visualisasi ritual Asyura dan Matam ala Syiah yang dipenuhi darah, anak-anak kecil yang kepalanya disayat dengan pisau, serta jalan-jalan kota yang memerah oleh darah manusia, telah menjadi amunisi segar bagi media Barat dan kaum orientalis untuk menyudutkan Islam.
Dunia internasional disajikan potret barbarisme yang diklaim sebagai representasi ajaran Islam. Akibatnya, citra Islam yang penuh kedamaian, kebersihan, kemurnian tauhid, dan keluhuran akhlak terdistorsi secara radikal di mata masyarakat global. Ajaran suci yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang sangat menghargai keselamatan jiwa (Hifzhun Nafs) direduksi menjadi agama kultus yang mengerikan. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“...dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan...” (QS. Al-Baqarah: 195).
Menyiksa diri hingga pingsan dan kehilangan banyak darah jelas-jelas bertentangan dengan ayat di atas. Islam datang untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk melegalkan siksaan fisik sukarela atas nama agama.
Kesimpulan
Ritual Matam dan perayaan Asyura berdarah versi Syiah adalah potret nyata dari infiltrasi tradisi lokal non-Islam dan kepentingan politik yang dibungkus dengan baju agama. Praktik-praktik ekstrem tersebut sama sekali tidak memiliki pijakan, baik dari Al-Qur'an, Hadis sahih, maupun keteladanan murni dari para Imam Ahlul Bait yang sejati.
Bagi masyarakat Muslim di Indonesia, memahami kejanggalan-kejanggalan ini merupakan langkah preventif yang sangat krusial. Kita wajib membentengi keluarga dan lingkungan dari penetrasi ajaran Syiah yang mencoba masuk melalui dalih "kecintaan kepada keluarga Nabi". Mencintai Ahlul Bait dan Sayyidina Husain RA yang sah adalah dengan meneladani keteguhan iman dan ketundukan mereka pada syariat Rasulullah SAW, bukan dengan menghidupkan kembali tradisi meratap ala Jahiliyah yang telah dihapuskan oleh Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: