Syiahindonesia.com - Dalam dunia Islam, kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim (yang sering disebut sebagai As-Shahihain) menduduki posisi paling agung setelah Al-Qur'an al-Karim. Umat Islam dari generasi ke generasi telah sepakat (ijma') bahwa hadis-hadis yang termaktub di dalam kedua kitab tersebut memiliki derajat keotentikan tertinggi karena disaring melalui metodologi kritik sanad dan matan yang sangat ketat.
Namun, kelompok Syiah Rafidhah secara total menolak, mengabaikan, bahkan kerap mencela kedua kitab induk kebanggaan kaum Muslimin ini. Penolakan total ini bukan karena cacatnya metodologi Imam Bukhari atau Imam Muslim, melainkan karena isi kedua kitab tersebut secara fundamental meruntuhkan seluruh bangunan akidah dan doktrin ciptaan sekte Syiah.
Berikut adalah alasan-alasan ideologis dan metodologis mengapa Syiah menolak hadis dari Bukhari dan Muslim:
1. Mayoritas Perawinya adalah Sahabat yang Mereka Kafirkan
Pondasi utama kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dibangun di atas riwayat-riwayat dari para Sahabat Nabi yang agung, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ummul Mukminin Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat senior lainnya.
Bagi Syiah, para tokoh di atas adalah musuh utama dalam narasi sejarah mereka. Doktrin Syiah mengklaim bahwa mayoritas Sahabat Nabi telah murtad dan berkhianat sepeninggal Rasulullah SAW karena tidak membaiat Sayyidina Ali sebagai khalifah pertama. Karena Syiah menganggap para Sahabat tersebut kafir atau fasik, maka secara otomatis seluruh hadis yang lewat jalur mereka dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim ditolak mentah-mentah.
2. Kitab Bukhari-Muslim Memuat Keutamaan Sahabat (Fadhailus Shahabah)
Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat bab khusus yang sangat tebal mengenai Fadhailus Shahabah (keutamaan dan kemuliaan para sahabat). Di sana tertulis ratusan hadis shahih tentang:
Pujian Rasulullah SAW kepada Abu Bakar sebagai kekasih terbaiknya (khalil).
Pernyataan Nabi bahwa jika ada nabi setelah dirinya, maka orang itu adalah Umar bin Khattab.
Pujian kepada kesucian dan kecerdasan Sayyidah Aisyah RA.
Hadis-hadis keutamaan ini adalah "racun mematikan" bagi teologi Syiah. Jika Syiah mengakui keotentikan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, maka narasi mereka yang menggambarkan Abu Bakar, Umar, dan Aisyah sebagai sosok penindas dan jahat akan runtuh dengan sendirinya. Untuk menyelamatkan muka doktrin mereka, jalan satu-satunya adalah menuduh Imam Bukhari dan Imam Muslim memalsukan riwayat atau mengambil hadis dari para "pembohong".
3. Meruntuhkan Doktrin Imamah dan Kema'shuman
Sekte Syiah tegak di atas doktrin Imamah, yaitu keyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam pasca-Nabi wajib dipegang oleh 12 Imam dari keturunan Ali yang bersifat ma'shum (suci dari dosa dan salah) dan dipilih langsung oleh Allah melalui teks suci (nash).
Jika kita membaca seluruh isi Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, tidak ada satu pun hadis shahih yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menunjuk Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai Imam pengganti yang suci dari dosa dengan hak ketuhanan mutlak. Absennya doktrin Imamah dalam dua kitab tersahih di dunia ini menjadi bukti nyata bagi Ahlussunnah bahwa konsep tersebut hanyalah khurafat yang diada-adakan. Karena Bukhari dan Muslim tidak mendukung khayalan teologis mereka, Syiah memilih untuk membuang kedua kitab tersebut.
4. Perbedaan Standar Penilaian Perawi (Al-Jarh wa At-Ta'dil)
Imam Bukhari dan Imam Muslim menggunakan standar sains hadis yang objektif: seorang perawi harus jujur (shidq), memiliki ingatan yang kuat (dhabith), adil, dan jalurnya bersambung tanpa putus.
Sementara itu, Syiah memiliki standar yang sangat subjektif dan sektarian. Dalam sekte Syiah, tolak ukur utama seorang perawi diterima hadisnya adalah loyalitas kepada 12 Imam Syiah (Wilayah).
Sejujur apa pun seorang perawi menurut ilmu sejarah, jika ia mencintai Abu Bakar dan Umar, maka ia dianggap fasik dan ditolak hadisnya oleh Syiah.
Sebaliknya, se-majhul (tidak dikenal) atau sebohong apa pun seseorang, jika ia mendukung doktrin Syiah dan memusuhi Sahabat, maka riwayatnya bisa dianggap suci. Perbedaan standar ilmiah yang jomplang inilah yang membuat hadis riwayat Bukhari-Muslim tidak memiliki nilai di mata mereka.
Kontras Karakteristik Kitab: Bukhari-Muslim vs Kitab Induk Syiah
Kesimpulan
Penolakan Syiah terhadap Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bukan disebabkan oleh masalah sanad atau kaidah ilmiah, melainkan karena konflik ideologis yang tidak bisa didamaikan. Isi kedua kitab suci tersebut adalah cermin jernih yang memperlihatkan keagungan para sahabat dan kemurnian sunnah Nabi, yang secara otomatis menelanjangi kepalsuan doktrin Syiah. Dengan menolak Bukhari dan Muslim, Syiah sebenarnya sedang mengisolasi diri dari khazanah Islam yang otentik dan memilih berpijak di atas jaring laba-laba riwayat palsu yang diproduksi oleh para ideolog mereka sendiri.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: