Syiahindonesia.com - Persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada umat manusia. Konsep persaudaraan ini melintasi batas suku, bangsa, bahasa, warna kulit, hingga status sosial. Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa setiap mukmin adalah bersaudara dan diperintahkan untuk menjaga perdamaian serta menjauhi perpecahan.
Namun, dalam bangunan teologi dan ideologi Syiah, konsep persaudaraan universal ini mengalami distorsi dan penyimpangan yang sangat fundamental. Mereka menyempitkan arti "saudara" hanya kepada kelompok yang mau tunduk pada doktrin politik-keagamaan mereka, sekaligus memandang mayoritas umat Islam di luar lingkaran tersebut sebagai entitas yang berbeda. Berikut adalah bentuk-bentuk penyimpangan konsep ukhuwah dalam ajaran Syiah:
1. Membatasi Ukhuwah Hanya Berdasarkan Doktrin Wilayah
Dalam Islam yang murni, ikatan persaudaraan diikat oleh kalimat tauhid: Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Siapa pun yang bersyahadat dan menghadap kiblat yang sama, mereka adalah bagian dari tubuh umat Islam yang wajib dilindungi darah, harta, dan kehormatannya.
Penyimpangan Teologis Syiah: Syiah merombak batasan ini dengan memasukkan Wilayah (loyalitas dan pengakuan terhadap kepemimpinan 12 imam) sebagai syarat sahnya sebuah persaudaraan keagamaan. Dalam pandangan mereka, orang yang tidak mengimani ke-12 imam tidak dianggap sebagai mukmin yang hakiki. Dampaknya, konsep ukhuwah mereka bersifat sangat sektarian; mereka hanya merasa bersaudara dengan sesama pengikut Syiah, sementara miliaran umat Islam (Ahlus Sunnah) diposisikan sebagai pihak "luar" yang berada di bawah derajat mereka.
2. Doktrin Al-Wala' wal Bara' yang Terdistorsi
Prinsip Al-Wala' wal Bara' (cinta karena Allah dan benci karena Allah) dalam Islam sejatinya digunakan untuk membedakan antara keimanan dan kekufuran. Namun, Syiah mendistorsi prinsip ini demi memelihara dendam sejarah.
Pola Pikir Sektarian:
Al-Wala' dipahami sebagai kecintaan buta dan pengkultusan terhadap para Imam versi mereka.
Al-Bara' (berlepas diri dan membenci) ditujukan kepada siapa pun yang mereka anggap memusuhi atau mendahului kepemimpinan para imam, termasuk di dalamnya para Sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, serta istri Nabi, Aisyah RA.
Ketika sebuah ajaran mewajibkan pengikutnya untuk membenci dan melaknat sosok-sosok yang paling dihormati oleh mayoritas umat Islam, maka konsep persaudaraan Islam dengan sendirinya telah dihancurkan dari akarnya. Hubungan persaudaraan tidak akan pernah bisa tegak di atas fondasi caci maki terhadap pilar-pilar agama.
3. Jargon "Ukhuwah" dan "Persatuan" Hanya Sebatas Taqiyyah
Di panggung-panggung internasional atau forum dialog antar-madzhab, para tokoh Syiah sering kali mendengungkan pesan perdamaian, toleransi, dan pentingnya persatuan umat (Taqrib). Namun, literatur internal dan praktik di lapangan menunjukkan kontradiksi yang nyata.
Manipulasi Persatuan: Seruan persatuan tersebut sering kali hanyalah bagian dari strategi Taqiyyah (berpura-pura demi kemaslahatan mazhab). Mereka mengajak kaum Sunni untuk bersatu dan saling merangkul, namun di saat yang sama, kitab-kitab rujukan utama mereka yang dipelajari oleh para santri dan pengikutnya tetap memuat fatwa-fatwa yang menyesatkan dan mengafirkan kaum Sunni. Persaudaraan yang ditawarkan hanyalah persaudaraan semu yang bertujuan untuk melemahkan kewaspadaan umat Islam agar doktrin mereka dapat menyusup tanpa hambatan.
4. Pelestarian Narasi Dendam yang Memecah Belah
Persaudaraan membutuhkan kelapangan hati dan semangat rekonsiliasi. Sebaliknya, institusi keagamaan Syiah justru memelihara dan memproduksi narasi dendam secara turun-temurun melalui berbagai ritual tahunan, seperti peringatan Asyura dan Karbala.
Dalam ritual-ritual tersebut, kematian Husain bin Ali RA dieksploitasi sedemikian rupa bukan untuk mengambil hikmah kesabaran, melainkan untuk membakar emosi massa. Umat Islam (Ahlus Sunnah) secara tidak langsung dicitrakan sebagai ahli waris ideologis dari para pembunuh Ahlul Bait di masa lalu. Narasi "kita vs mereka" yang terus dipanaskan ini menutup rapat-rapat pintu kasih sayang dan persaudaraan yang tulus antar-sesama Muslim.
5. Prioritas Loyalitas pada Otoritas Geopolitik Asing
Penyimpangan konsep persaudaraan ini juga berwujud nyata dalam ranah sosial-politik. Melalui doktrin Wilayatul Faqih, penganut Syiah di berbagai belahan dunia dituntut untuk menempatkan loyalitas tertinggi mereka kepada pemimpin tertinggi (Faqih) yang berada di pusat kekuasaan Syiah global.
Hal ini merusak konsep Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa) di negara tempat mereka tinggal. Kepentingan stabilitas, keamanan, dan persaudaraan dengan sesama Muslim lokal sering kali dikorbankan demi menjalankan agenda atau instruksi politik dari pusat ideologi mereka di luar negeri. Akibatnya, keberadaan komunitas ini sering memicu gesekan sosial dan konflik horizontal di tengah masyarakat.
Kesimpulan
Konsep persaudaraan dalam Islam bersifat universal, inklusif, dan berdiri di atas landasan kalimat syahadat yang bersih. Syiah telah menyelewengkan hakikat ukhuwah ini dengan menjadikannya eksklusif, kaku, dan bersyarat pada pengakuan doktrin Imamah. Selama caci maki terhadap Sahabat masih dilegalkan, narasi dendam sejarah terus dipelihara, dan loyalitas politik dialihkan ke pihak asing, maka seruan ukhuwah dari kalangan mereka akan selalu kehilangan maknanya di hadapan realitas syariat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: