Syiahindonesia.com - Slogan "Mengikuti Ahlul Bait" merupakan jargon utama yang paling sering didengungkan oleh kelompok Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas) untuk menarik simpati umat Islam. Mereka mengklaim diri sebagai satu-satunya kelompok yang setia berada di bawah garis komando keturunan suci Rasulullah SAW, sementara kelompok di luar mereka dituduh sebagai pengkhianat atau pembenci keluarga Nabi. Retorika emosional ini sukses mengecoh banyak Muslim awam yang belum memahami hakikat sejarah dan teologi Islam secara mendalam.
Namun, apabila kita melakukan uji validitas secara ilmiah dan membandingkan antara ajaran riil para tokoh Ahlul Bait dengan isi kitab suci dogma Syiah, akan ditemukan sebuah kesimpulan yang mengejutkan: Kelompok Syiah pada hakikatnya tidak mengikuti Ahlul Bait yang sejati. Mereka justru menciptakan sosok "Ahlul Bait fiktif" yang dipaksa tunduk pada kepentingan politik-teologis sekte mereka. Ada beberapa alasan mendasar mengapa klaim ketertundukan Syiah kepada Ahlul Bait adalah klaim yang batil:
1. Menolak Garis Akidah Tauhid yang Diajarkan Ahlul Bait
Ahlul Bait yang asli—mulai dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, Imam Hasan, Imam Husain, hingga cicit-cicit mereka seperti Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, dan Ja'far Ash-Shadiq—adalah para pejuang tauhid yang murni. Mereka senantiasa mengajarkan umat untuk menggantungkan segala hajat, doa, dan rasa takut hanya kepada Allah SWT secara langsung tanpa perantara makhluk.
Sebaliknya, teologi Syiah menolak prinsip dasar tauhid yang dipegang teguh oleh keluarga Nabi tersebut. Mereka menyusupkan unsur-unsur pengkultusan ekstrem (ghuluw) yang berbau syirik ke dalam sosok Ahlul Bait.
Mereka meyakini para Imam memiliki sifat ketuhanan seperti mengetahui ilmu ghaib secara mutlak, mengendalikan atom-atom alam semesta (Wilayah Takwiniyyah), serta melegalkan ritual doa istighatsah (meminta pertolongan) kepada jasad para Imam yang telah wafat dengan syiar "Ya Ali Madad" atau "Ya Husain". Ini adalah pengkhianatan terbesar terhadap dakwah tauhid yang diperjuangkan oleh Ahlul Bait yang asli.
2. Bertolak Belakang dalam Menyikapi Para Sahabat Nabi
Salah satu parameter paling nyata untuk membongkar kepalsuan klaim Syiah adalah cara mereka menyikapi para Sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Doktrin wajib Syiah mengharuskan pengikutnya untuk melaknat, mencaci, dan mengafirkan para Sahabat mulia tersebut. Mereka mengklaim tindakan keji ini dilakukan demi membela hak Ahlul Bait.
Fakta Riil Ahlul Bait yang Sejati: Ahlul Bait yang asli hidup dalam suasana penuh cinta, penghormatan, dan keharmonisan dengan para Sahabat.
Pemberian Nama Anak: Sayyidina Ali bin Abi Thalib menamai anak-anak kandungnya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai bentuk penghormatan kepada para khalifah terdahulu. Langkah ini juga diikuti oleh Imam Hasan dan Imam Husain yang menamai anak-anak mereka dengan nama Abu Bakar dan Umar. Sangat tidak masuk akal jika mereka menamai anak kesayangan mereka dengan nama orang yang mereka benci atau kafirkan.
Pernikahan Silang: Sayyidina Ali menikahkan putri kandungnya, Ummu Kultsum, dengan Sayyidina Umar bin Khattab. Hubungan kekeluargaan yang erat ini membuktikan bahwa sosok Ahlul Bait yang asli sangat mencintai para Sahabat, berbanding terbalik dengan ajaran Syiah yang dipenuhi sumpah serapah.
3. Mengaburkan Khotbah dan Nasihat Asli Para Imam
Untuk menjaga agar pengikutnya tetap berada dalam doktrin sekte, ulama-ulama Syiah secara sengaja menyembunyikan atau memelintir ucapan-ucapan asli para Imam yang tercatat dalam sejarah. Di dalam kitab rujukan mereka sendiri yang berjudul Nahjul Balaghah (kumpulan khotbah Sayyidina Ali), terdapat banyak sekali teks di mana Sayyidina Ali memuji kualitas iman dan kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab.
Ketika Umar wafat, Ali bin Abi Thalib berdiri di dekat jasadnya dan berkata: "Demi Allah, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang amalnya paling aku sukai untuk aku tiru saat menghadap Allah selain orang yang berada di dalam kain kafan ini (Umar)."
Sekte Syiah menolak mengikuti keteladanan lurus dari lisan Sayyidina Ali ini. Mereka memilih berpaling dari nasihat nyata sang Imam, lalu melarikan diri pada doktrin taqiyyah dengan berdalih bahwa Sayyidina Ali mengucapkan pujian tersebut hanya karena berpura-pura atau takut. Ini adalah bentuk pelecehan terselubung terhadap keberanian dan kejujuran karakter Ahlul Bait.
4. Melanggar Al-Qur'an dengan Mengeluarkan Istri-Istri Nabi
Ahlul Bait yang sejati menempatkan istri-istri Rasulullah SAW—terutama Ibunda Aisyah dan Hafshah radhiyallahu 'anhuma—sebagai bagian utama dari keluarga kesayangan Nabi yang wajib dihormati, sesuai dengan ketetapan hukum langit di dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 6:
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.”
Kelompok Syiah melanggar ayat ini secara terang-terangan. Mereka mendepak istri-istri Nabi dari definisi Ahlul Bait, bahkan melancarkan fitnah dan tuduhan keji terhadap Ibunda Aisyah. Menghina istri Rasulullah SAW sama saja dengan menyakiti hati Rasulullah SAW itu sendiri. Cinta macam apa yang diklaim oleh Syiah jika di saat yang sama mereka tega mengotori kehormatan wanita yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW?
Kesimpulan: Ahlus Sunnah adalah Pengikut Ahlul Bait yang Hakiki
Klaim kelompok Syiah bahwa mereka adalah pengikut Ahlul Bait telah gugur di hadapan mahkamah ilmiah dan fakta sejarah yang otentik. Mereka hanya memanfaatkan nama besar Ahlul Bait sebagai tameng politik untuk menyebarkan ideologi kebencian, perpecahan, dan pengkultusan makhluk yang menyelisihi prinsip dasar Islam.
Bagi kita umat Islam di Indonesia, penting untuk ditegaskan kembali bahwa pengikut Ahlul Bait yang sejati dan hakiki adalah kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kita mencintai keluarga Nabi dengan cara yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya: memuliakan kesalehan mereka, meneladani keteguhan tauhid mereka, dan menjaga keharmonisan hubungan mereka dengan para Sahabat tanpa jatuh ke dalam lubang ekstremisme. Menjaga pemahaman yang lurus ini adalah kewajiban kita bersama untuk membentengi umat dari tipu daya propaganda sekte Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: