Syiahindonesia.com - Sejarah Islam merupakan rekaman perjalanan dakwah, perjuangan, dan peradaban yang dibangun oleh Rasulullah SAW bersama para Sahabat beliau. Bagi umat Islam yang berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sejarah generasi awal Islam—khususnya masa Khulafaur Rasyidin—adalah masa keemasan yang penuh dengan keteladanan, pengorbanan, dan keluhuran budi pekerti. Generasi Sahabat adalah generasi yang dibina langsung oleh madrasah nubuwah dan telah mendapatkan jaminan rida dari Allah SWT secara tekstual di dalam Al-Qur'an.
Namun, di dalam bangunan teologi dan narasi sejarah versi Syiah, bentang sejarah yang mulia tersebut didekonstruksi secara total. Mereka memandang sejarah Islam bukan dengan kacamata objektivitas ilmiah dan keadilan ('adalah), melainkan melalui sudut pandang yang dipenuhi oleh sentimen politik, dendam, serta doktrin sektarian. Akibatnya, lahir berbagai penyimpangan fatal dalam merespons kronologi sejarah Islam yang berpotensi merusak pemikiran umat. Berikut adalah beberapa bentuk penyimpangan sejarah tersebut yang dibongkar oleh para ulama:
1. Menarasikan Mayoritas Sahabat sebagai Pengkhianat Pasca-Wafatnya Nabi
Penyimpangan sejarah paling radikal dalam ajaran Syiah adalah klaim bahwa mayoritas Sahabat Nabi telah murtad atau berkhianat sesaat setelah Rasulullah SAW wafat. Mereka meyakini bahwa para Sahabat secara kolektif berkonspirasi untuk merampas hak kekhalifahan yang diklaim secara sepihak telah diwasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib RA.
Narasi sejarah palsu ini sangat bertentangan dengan kesaksian Allah SWT di dalam Al-Qur'an, salah satunya dalam Surah At-Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100).
Dengan menggambarkan generasi terbaik Islam sebagai kelompok konspirator dan pengkhianat, Syiah secara tidak langsung telah meruntuhkan validitas transmisi syariat Islam itu sendiri. Sebab, jika para pembawa al-kitab dan as-sunnah (para Sahabat) dianggap cacat moral, maka legalitas seluruh ajaran agama yang sampai kepada kita hari ini akan ikut dipertanyakan.
2. Menggambarkan Masa Khulafaur Rasyidin sebagai "Era Kegelapan"
Dalam catatan sejarah yang otentik, masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan adalah era ekspansi dakwah, kodifikasi Al-Qur'an, dan penegakan keadilan yang merata. Namun, Syiah membalikkan fakta ini dengan mencitrakan era tersebut sebagai zaman kegelapan, kezaliman, dan penindasan terhadap keluarga Nabi (Ahlul Bait).
Salah satu dongeng sejarah yang sering mereka hembuskan adalah klaim bahwa Umar bin Khattab RA telah mendobrak pintu rumah Fatimah Az-Zahra hingga menyebabkan putri tercinta Nabi tersebut keguguran dan wafat. Para ulama sejarah menegaskan bahwa kisah ini adalah fabrikasi total yang tidak memiliki sanad yang shahih. Kisah fiktif ini sengaja dipelihara untuk memelihara kebencian mendalam pengikutnya terhadap Umar bin Khattab, sang penakluk Imperium Persia.
3. Eksploitasi Tragedi Karbala Melampaui Batas Proporsional Sejarah
Wafatnya Husain bin Ali RA di padang Karbala sebagai syahid adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam dan menyedihkan bagi seluruh umat Islam. Namun, Syiah memperlakukan peristiwa sejarah ini di luar batas proporsional syariat.
Mereka menjadikan tragedi Karbala sebagai poros utama seluruh ajaran agama mereka, mengalahkan peristiwa-peristiwa sejarah yang jauh lebih agung seperti kemenangan Perang Badar, Fathul Makkah, atau Haji Wada'. Melalui ritual tahunan Asyura yang diisi dengan ratapan, siksaan fisik, dan teatrikal duka, mereka memelihara sentimen "dendam sejarah" yang diwariskan dari generasi ke generasi. Umat Islam hari ini secara halus diposisikan sebagai kelanjutan dari pasukan musuh yang membunuh Husain, sehingga menciptakan jurang pemisah permanen yang menghalangi persatuan umat.
4. Politisasi dan Penyimpangan Makna Khotbah Ghadir Khum
Peristiwa di lembah Ghadir Khum, saat perjalanan pulang setelah Haji Wada', dimanipulasi oleh teolog Syiah sebagai momentum proklamasi politik penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah pertama. Mereka menggunakan potongan sabda Nabi SAW:
مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ
“Barangsiapa yang menjadikanku mawla-nya, maka Ali adalah mawla-nya.” (HR. Tirmidzi).
Para pakar bahasa Arab dan ulama hadits telah membongkar bahwa Syiah melakukan distorsi makna terhadap kata Mawla. Dalam konteks sosiologis saat itu, Nabi menggunakan kata tersebut dalam arti kekasih, penolong, dan sahabat setia untuk membela nama baik Ali dari desas-desus negatif beberapa tentara pasca-ekspedisi Yaman, bukan dalam arti Amir (pemimpin politik) atau Khalifah. Jika Nabi berniat menunjuk pemimpin pengganti, beliau pasti akan menyampaikannya secara eksplisit saat wukuf di Arafah di hadapan seluruh jamaah haji yang berjumlah ratusan ribu orang, bukan di sebuah lembah persinggahan kecil yang hanya dihadiri sebagian rombongan.
5. Mengaburkan Sikap Asli dan Persaudaraan antara Ali dan Para Sahabat
Untuk melanggengkan narasi konflik, literatur Syiah secara konsisten menyembunyikan fakta sejarah mengenai keharmonisan, saling puji, dan ikatan kekeluargaan yang erat antara Ali bin Abi Thalib dengan para Khalifah sebelumnya.
Fakta sejarah mencatat bahwa:
Ali bin Abi Thalib RA membaiat dan menjadi penasihat utama yang setia bagi Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Ali menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada ketiga sahabat tersebut.
Ali menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab RA.
Fakta-fakta pernikahan dan penamaan anak ini sengaja digelapkan dalam kurikulum pendidikan Syiah karena dapat meruntuhkan seluruh tesis doktrin mereka yang menyatakan bahwa antara Ali dan para Sahabat terjadi permusuhan abadi.
Kesimpulan
Penyimpangan Syiah dalam memahami sejarah Islam bertujuan untuk melegitimasi doktrin politik Imamah mereka dan memisahkan umat dari generasi salaf yang shaleh. Sejarah yang seharusnya menjadi cermin hikmah, di tangan mereka diubah menjadi komoditas politik yang memproduksi dendam, caci maki, dan perpecahan. Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kewaspadaan terhadap infiltrasi buku-buku sejarah fiktif versi Syiah adalah langkah krusial untuk menjaga penghormatan yang layak kepada para Sahabat Nabi dan memelihara kemurnian pemahaman terhadap agama Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: