Syiahindonesia.com - Ibadah dalam Islam merupakan bentuk penghambaan mutlak seorang makhluk kepada Penciptanya. Islam yang murni, berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW yang shahih, telah menetapkan bahwa ibadah harus dipenuhi dengan dua syarat utama agar diterima di sisi Allah SWT: yaitu ikhlas semata-mata karena Allah (Tauhidul Ibadah) dan mengikuti contoh serta tuntunan langsung dari Nabi Muhammad SAW (Ittiba' ur-Rasul).
Namun, di dalam doktrin teologi dan praktik keagamaan Syiah, hakikat makna ibadah ini telah mengalami pergeseran paradigma yang sangat mendasar dan ekstrem. Mereka menyusupkan unsur-unsur baru yang bersumber dari pengkultusan individu, doktrin politik-keagamaan, serta tradisi mistis yang tidak memiliki dasar hukum syar'i. Akibatnya, lahir berbagai kesalahan fatal dalam memahami dan mengamalkan ibadah yang justru mengaburkan kemurnian tauhid. Berikut adalah pemaparan detail mengenai kesalahan-kesalahan tersebut:
1. Menjadikan "Wilayah" sebagai Syarat Mutlak Diterimanya Ibadah
Dalam konsep Islam yang lurus, penentu diterima atau tidaknya amal ibadah seorang hamba adalah ketakwaan, keikhlasan, dan kesesuaiannya dengan syariat Nabi. Namun, Syiah merombak fondasi ini dengan menetapkan doktrin Wilayah (pengakuan dan loyalitas mutlak kepada 12 Imam) sebagai penentu utama keabsahan seluruh amal ibadah.
Ulama mereka meriwayatkan dalam kitab-kitab induk bahwa meskipun seorang Muslim beribadah sepanjang malam, berpuasa sepanjang siang, mendermakan seluruh hartanya di jalan Allah, bahkan mati syahid di antara rukun Yamani dan Makam Ibrahim, semua amal itu akan sia-sia dan dilemparkan ke dalam api neraka jika ia tidak mengimani kepemimpinan para Imam Syiah. Kesalahan fatal ini menggeser orientasi ibadah yang seharusnya murni tertuju pada hubungan hamba dengan Allah, menjadi bersyarat pada pengakuan otoritas manusia.
2. Infiltrasi Unsur Syirik melalui Istighatsah kepada Makhluk
Salah satu bentuk ibadah yang paling agung dalam Islam adalah doa dan permohonan pertolongan pada masa-masa sulit (Istighatsah). Allah SWT secara tegas melarang hamba-Nya untuk memohon kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106).
Dalam praktik peribadatan Syiah, hak prerogatif Allah ini sering kali tercederai. Kalimat-kalimat seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain" jauh lebih menggema di majelis-majelis mereka daripada seruan langsung kepada Allah SWT. Mereka memosisikan para Imam yang telah wafat sebagai perantara mutlak (wasilah) yang memegang kendali atas terkabulnya doa. Mengalihkan esensi doa kepada makhluk—betapapun mulianya kedudukan mereka semasa hidup—adalah kesalahan fatal yang menodai Tauhid Uluhiyah.
3. Penyimpangan dalam Syariat Shalat dan Penggunaan Turba
Shalat adalah tiang agama yang tata caranya wajib merujuk secara kaku pada sunnah Nabi SAW, sebagaimana sabda beliau:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari).
Syiah melakukan berbagai modifikasi dan penyimpangan dalam ibadah shalat yang membedakan mereka dari mayoritas umat Islam:
Menjamak Shalat Tanpa Udzur: Mereka secara konsisten menggabungkan shalat Dzuhur dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya setiap hari tanpa adanya sebab syar'i seperti safar (perjalanan) atau hujan, sehingga praktis mereka hanya shalat di tiga waktu saja.
Kewajiban Sujud di Atas Turba: Mereka mengklaim bahwa sujud tidak sah kecuali dahi menyentuh tanah atau batu khusus yang dibawa dari Karbala (Turba). Pengkhususan medium sujud pada tanah tempat kematian Husain RA ini merupakan bentuk pengkultusan situs secara berlebihan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW maupun Ahlul Bait yang asli.
4. Legitimasi Ritual Menyakiti Diri (Tatbir) sebagai Bentuk "Ibadah"
Setiap bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura, komunitas Syiah di berbagai belahan dunia menggelar ritual kolosal yang melibatkan aksi memukul-mukul dada, mencambuk punggung dengan rantai, hingga melukai kepala dengan bilah senjata tajam (Tatbir) hingga darah bercucuran. Mereka mengemas aksi ekstrem ini sebagai bentuk ibadah, pendekatan diri kepada Allah (taqarrub), serta ekspresi duka atas syahidnya Husain bin Ali RA.
Islam secara tegas mengharamkan perbuatan merusak dan menyakiti tubuh sendiri demi meratapi kematian seseorang. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits shahih:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap).” (HR. Bukhari).
Mengubah tindakan merusak diri yang diharamkan syariat menjadi sebuah ritual ibadah suci merupakan bukti nyata bagaimana sentimen emosional dan duka historis telah mengalahkan dalil-dalil hukum Islam yang shahih.
5. Menggeser Keutamaan Ibadah Haji ke Makam-Makam Imam
Ibadah Haji ke Baitullah di Makkah Al-Mukarramah adalah rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi yang mampu. Namun, dalam sistem nilai peribadatan Syiah, keagungan Makkah dan Madinah digeser oleh doktrin keutamaan ziarah ke kuburan para Imam mereka, seperti Najaf dan Karbala di Irak, serta Masyhad di Iran.
Dalam kitab-kitab hadits fiktif mereka, terdapat riwayat-riwayat ekstrem yang menyatakan bahwa sekali melakukan ziarah ke makam Husain di Karbala pada hari-hari tertentu, pahalanya setara dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali ibadah Haji dan Umrah yang miterima (Mabrur) bersama Rasulullah SAW. Distorsi nilai ibadah ini memanipulasi pemikiran umat awam sehingga mereka lebih mengagungkan situs-situs kematian para tokoh daripada rumah suci Allah (Ka'bah) yang telah ditetapkan sebagai kiblat tunggal umat Islam di seluruh dunia.
Kesimpulan
Kesalahan fatal kelompok Syiah dalam memahami makna ibadah bersumber dari kegagalan mereka dalam menjaga kemurnian Tauhid dan prinsip Ittiba' kepada Rasulullah SAW. Ketika figur manusia disetarakan dengan otoritas Tuhan, ketika ritual ratapan diadopsi sebagai sarana penyuci dosa, dan ketika makam-makam dianggap lebih suci daripada Baitullah, maka hakikat ibadah telah berubah dari penghambaan yang lurus menjadi sekadar dogma mistis-sektarian. Bagi umat Islam di Indonesia, memperkuat pemahaman terhadap tata cara ibadah yang sesuai dengan tuntunan Sunnah Nabi yang asli adalah benteng utama agar terhindar dari penyimpangan paham ini.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: