Syiahindonesia.com - Konsep mengenai kedatangan Al-Mahdi di akhir zaman merupakan salah satu bagian dari khazanah keimanan umat Islam. Berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih dalam khazanah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Mahdi adalah seorang pria saleh dari keturunan Nabi Muhammad SAW (jalur Hasan bin Ali RA) yang akan Allah hadirkan untuk memimpin umat, menegakkan keadilan, dan menghapuskan kezaliman di muka bumi. Ia lahir secara normal pada zamannya, memimpin manusia secara nyata, dan berjuang bersama kaum mukminin menumpas fitnah Dajjal.
Namun, di dalam teologi Syiah (khususnya sekte Dua Belas Imam atau Itsna Asyariyyah), konsep Al-Mahdi ini mengalami mistifikasi yang luar biasa ekstrem dan diubah menjadi rukun iman yang wajib diyakini. Mereka membangun narasi tentang Imam ke-12 bernama Muhammad bin Hasan al-Asykari yang diklaim telah hidup dan bersembunyi selama ribuan tahun. Jika ditelaah dengan kacamata dalil syar'i, objektivitas sejarah, dan logika akal yang sehat, akan ditemukan berbagai kejanggalan fatal dalam konsep Mahdi versi Syiah ini. Berikut adalah pemaparan detailnya:
1. Mitos Kelahiran dan Keberadaan Anak yang Gaib
Kejanggalan pertama yang paling mendasar berada pada fondasi historis kelahiran sang Imam. Teologi Syiah meyakini bahwa Imam ke-11 mereka, Hasan al-Asykari, memiliki seorang putra yang lahir pada tahun 255 Hijriah. Ketika Hasan al-Asykari wafat pada tahun 260 Hijriah, anak kecil yang baru berusia lima tahun ini diklaim langsung masuk ke dalam sebuah lubang bawah tanah (Sirdab) di Samarra, Irak, untuk memulai masa persembunyiannya (Ghaibah).
Bantahan Fakta Sejarah: Para sejarawan otentik yang hidup pada masa tersebut, termasuk para ahli nasab (ilmul ansab) baik dari kalangan Sunni maupun pencatat silsilah independen, mencatat secara valid bahwa Imam Hasan al-Asykari wafat dalam keadaan mandul dan tidak meninggalkan keturunan. Bahkan, harta warisan Hasan al-Asykari saat itu secara hukum syariat dibagikan kepada ibunya dan saudara laki-lakinya yang bernama Ja'far, karena ia tidak memiliki anak. Klaim adanya anak misterius yang tiba-tiba bersembunyi di dalam lubang hanyalah dongeng teologis yang diciptakan oleh para tokoh politik Syiah kala itu agar mereka tidak kehilangan legitimasi serta setoran dana umat (khumus).
2. Kontradiksi Fungsi Kepemimpinan dengan Konsep Persembunyian
Tujuan utama dari diutusnya seorang Nabi atau ditunjuknya seorang pemimpin (Imam) dalam Islam adalah untuk memberikan bimbingan nyata, memberikan fatwa, menegakkan hukum pidana (hudud), memimpin jihad, serta menyelesaikan perselisihan di tengah masyarakat secara langsung.
Kejanggalan Logika: Syiah meyakini bahwa Imam ke-12 mereka telah bersembunyi selama lebih dari 1.100 tahun (sejak abad ke-3 Hijriah hingga tahun 2026 ini) tanpa pernah berinteraksi secara fisik, memberikan ceramah, ataupun menyelesaikan satu pun problematika umat. Rasulullah SAW bersabda mengenai kewajiban pemimpin:
وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagaimana mungkin seorang figur yang bersembunyi di dalam tempat gaib selama ribuan tahun dapat berfungsi sebagai "perisai" bagi umatnya? Kepemimpinan yang tidak fungsional dan tidak menapak bumi ini sangat kontradiktif dengan esensi syariat Islam yang bersifat aplikatif dan nyata.
3. Penyimpangan Silsilah Keturunan dari Hadis Nabi yang Sahih
Rasulullah SAW telah memberikan karakteristik silsilah yang sangat jelas mengenai siapa sosok Al-Mahdi yang asli. Beliau SAW bersabda dalam hadis yang sahih:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي
“Seandainya dunia ini tidak tersisa kecuali tinggal satu hari saja, niscaya Allah akan memanjangkan hari tersebut sampai Allah mengutus seorang pria dari ahli baitku, yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Titik Kejanggalan: Hadis di atas secara tegas menyatakan bahwa nama Al-Mahdi adalah Muhammad bin Abdullah (nama ayahnya sama dengan nama ayah Nabi, yaitu Abdullah). Sedangkan konsep Syiah memaksakan bahwa nama Mahdi mereka adalah Muhammad bin Hasan (bin Hasan al-Asykari). Perbedaan nama ayah ini merupakan bukti tekstual yang tak terbantahkan bahwa figur Mahdi yang dinanti oleh kelompok Syiah tidak sesuai dengan kriteria yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
4. Kejanggalan dalam Doktrin "Wilayatul Faqih" sebagai Kompensasi
Karena sang Imam tidak kunjung muncul dari persembunyiannya selama berabad-abad, teologi Syiah menghadapi jalan buntu dalam memutuskan perkara hukum dan politik harian. Untuk mengatasi kevakuman kepemimpinan ini, tokoh teolog modern mereka menciptakan konsep mutakhir bernama Wilayatul Faqih (Kekuasaan Ahli Fikih).
Melalui doktrin ini, seorang ulama senior (Faqih) ditunjuk untuk memegang kekuasaan mutlak atas rakyat, menggantikan seluruh fungsi Imam Gaib hingga ia keluar dari lubangnya. Kejanggalan di sini sangat mencolok: di satu sisi mereka mewajibkan pengikutnya meyakini bahwa kepemimpinan hanya sah jika dipegang oleh Imam yang maksum ditunjuk dari langit, namun di sisi lain mereka menyerahkan kekuasaan mutlak tersebut kepada manusia biasa yang tidak maksum dengan dalih "perwakilan". Ini adalah sebuah inkonsistensi teologis yang nyata.
5. Karakteristik "Al-Mahdi" Syiah yang Penuh Dendam dan Kekerasan
Jika kita membedah kitab-kitab rujukan utama Syiah, seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi atau Al-Ghaibah karya Al-Nu'mani, kita akan menemukan deskripsi yang sangat mengerikan mengenai agenda apa yang akan dilakukan oleh Mahdi mereka ketika keluar dari persembunyiannya.
Dalam literatur mereka disebutkan bahwa saat Mahdi Syiah keluar, tindakan pertamanya bukan menegakkan kedamaian, melainkan:
Membongkar kuburan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab RA untuk mencambuk dan menyalib jasad mereka.
Menghidupkan kembali Ummul Mukminin Aisyah RA untuk dijatuhi hukuman cambuk (had).
Menyembelih kaum Sunni (Ahlus Sunnah) secara massal yang menolak tunduk pada mazhabnya.
Analisis Spiritual: Karakteristik yang penuh dengan dendam historis, pembongkaran kubur, dan haus darah ini sangat bertolak belakang dengan misi Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin). Sosok yang digambarkan oleh literatur Syiah ini lebih menyerupai karakteristik fitnah Dajjal yang merusak, alih-alih sosok Al-Mahdi sejati yang digambarkan Nabi SAW sebagai pembawa kesejukan dan keadilan.
Kesimpulan
Konsep Mahdi versi Syiah dipenuhi oleh jalinan mitos, ketidakpastian sejarah, dan penyimpangan dalil nash yang sangat mencolok. Pengkondisian umat agar menanti sosok gaib yang fiktif selama ribuan tahun merupakan bentuk manipulasi pemikiran yang menjebak mereka dalam angan-angan kosong, sekaligus menjauhkan mereka dari realitas pengamalan Islam yang berdasarkan sunnah otentik. Bagi umat Islam di Indonesia, memahami karakteristik Al-Mahdi yang sahih sesuai petunjuk Rasulullah SAW adalah benteng utama agar tidak mudah teperdaya oleh mistifikasi kelompok Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: