Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Mengklaim Imam Mereka Lebih Tinggi dari Rasulullah?

Syiahindonesia.com - Pengkultusan individu terhadap para Imam dalam doktrin Syiah merupakan salah satu titik krusial yang membedakannya dengan akidah Islam yang murni. Dalam Islam, kedudukan Nabi Muhammad SAW adalah kedudukan makhluk yang paling mulia, tertinggi, dan penutup para Nabi (Khatamun Nabiyyin). Tidak ada satu pun manusia yang boleh disejajarkan—apalagi ditinggikan—di atas derajat Baginda Rasulullah SAW. Namun, jika kita meneliti kitab-kitab akidah dan penjelasan para ulama besar Syiah, kita akan menemukan pernyataan-pernyataan yang secara eksplisit maupun implisit menempatkan kedudukan para Imam mereka di atas derajat para Nabi, termasuk dalam beberapa aspek, di atas Rasulullah SAW sendiri.

1. Pernyataan Eksplisit Tokoh Utama Syiah

Salah satu bukti paling tak terbantahkan di era modern adalah pernyataan Ayatullah Khomeini, arsitek revolusi Syiah Iran sekaligus marja' tertinggi mereka. Dalam kitabnya yang sangat monumental, Al-Hukumah Al-Islamiyyah (hal. 52), Khomeini menulis secara terang-terangan:

"Sesungguhnya bagi Imam itu memiliki kedudukan yang terpuji, derajat yang tinggi, dan kekuasaan terhadap alam semesta (Wilayah Takwiniyyah), yang kedudukannya itu tidak dapat dicapai oleh malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah) maupun Nabi yang diutus sekalipun."

Pernyataan ini secara otomatis mengangkat derajat 12 Imam Syiah di atas seluruh jajaran Nabi dan Rasul Allah, termasuk para nabi Ulul Azmi (Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa). Meskipun dalam beberapa forum apologetika tokoh Syiah mengklaim Nabi Muhammad adalah pengecualian, teks-teks klasik mereka justru menunjukkan hal yang berbeda.

2. Doktrin Syafaat dan Penentuan Akhirat yang Melampaui Nabi

Dalam teologi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Rasulullah SAW adalah pemegang Syafaatul Udzma (syafaat terbesar) di hari kiamat atas izin Allah. Namun, Syiah memindahkan dan bahkan memperluas otoritas ini kepada para Imam mereka secara mandiri.

Dalam kitab-kitab mereka, Ali bin Abi Thalib dijuluki sebagai Qasimul Jannah wan Nar (Pembagi Surga dan Neraka). Mereka meyakini bahwa Ali-lah yang menentukan nasib akhirat manusia di pintu surga dan neraka berdasarkan cinta atau benci kepada beliau. Memberikan otoritas mutlak atas keputusan akhirat kepada Imam—bahkan memposisikan nabi-nabi lain membutuhkan syafaat dari Imam Syiah—adalah bentuk nyata dari pengangkatan derajat makhluk secara melampaui batas (ghuluw).

3. Penyelewengan Riwayat: Mengklaim Nabi Belum Sempurna Tanpa Imam

Syiah memposisikan risalah kenabian Muhammad SAW seolah-olah "tergantung" pada pengakuan terhadap Imamah Ali. Mereka menafsirkan Surat Al-Ma'idah ayat 67 ("Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya...") dengan klaim bahwa jika Nabi tidak menyampaikan wilayah (kepemimpinan) Ali, maka seluruh dakwah Nabi selama 23 tahun dianggap gagal dan sia-sia.

Secara tidak langsung, doktrin ini memposisikan keberadaan Imam lebih penting daripada keberadaan risalah kenabian itu sendiri. Seolah-olah misi suci Rasulullah SAW nilainya ditentukan oleh pengangkatan sosok Imam, sebuah konsep yang merendahkan martabat dan kemandirian risalah kenabian yang dijamin oleh Allah SWT:

الْيَوْمَأَكْمَلْتُلَكُمْدِينَكُمْوَأَتْمَمْتُعَلَيْكُمْنِعْمَتِيوَرَضِيتُلَكُمُالْإِسْلَامَدِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3).

4. Klaim "Mushaf Fatimah" dan Ilmu yang Lebih Luas

Dalam kitab Al-Kafi (kitab hadits paling otoritatif Syiah), disebutkan bahwa para Imam memiliki kitab-kitab rahasia langit yang tidak diturunkan kepada Rasulullah SAW, salah satunya disebut Mushaf Fatimah. Mereka mengklaim mushaf ini berukuran tiga kali lipat dari Al-Qur'an dan berisi semua kejadian masa depan yang hanya diketahui oleh para Imam.

Meyakini ada sekelompok manusia setelah Nabi yang memiliki akses informasi langit yang lebih luas, lebih tebal, dan lebih rinci daripada Al-Qur'an yang dibawa Rasulullah SAW adalah bentuk pelecehan terhadap fungsi kenabian. Ini memposisikan Rasulullah SAW hanya sebagai "pembuka jalan", sementara ilmu yang sejati dan paripurna justru berada di tangan para Imam.

5. Bahaya Doktrin Ini bagi Umat Islam di Indonesia

Di Indonesia, para aktivis Syiah sering menggunakan taktik taqiyyah dengan menyuarakan kalimat-kalimat manis seperti "kami sangat menghormati Nabi" atau "kami hanya mencintai keluarga Nabi". Namun, umat Islam harus jeli melihat literatur asli yang mereka yakini di balik layar.

Jika doktrin yang mengangkat derajat manusia di atas para Nabi ini dibiarkan merembes ke masyarakat awam, akibatnya adalah:

  • Pergeseran Orientasi Ibadah: Umat akan lebih sering memanggil nama Imam ("Ya Ali Madad", "Ya Husain") daripada bersalawat kepada Nabi dan berdoa kepada Allah.

  • Ketaatan Buta (Taklid Mutlak): Pengikut Syiah akan tunduk total kepada para Marja' Taqlid (ulama mereka) yang mengklaim sebagai wakil resmi dari Imam yang ghaib, bahkan jika perintahnya menabrak Sunnah Nabi yang shahih.

Kesimpulan: Fatwa Sejati Ahlus Sunnah wal Jamaah

Menjawab pertanyaan di atas: Ya, berdasarkan kitab-kitab rujukan utama dan fatwa ulama terbesar mereka, Syiah secara teologis mengklaim kedudukan para Imam mereka berada di atas derajat para Nabi, dan dalam aplikasinya, mengerdilkan otoritas mutlak Rasulullah SAW.

Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaah, Nabi Muhammad SAW adalah manusia tertinggi yang tidak ada tandingannya di alam semesta. Para sahabat dan Ahlul Bait (keluarga Nabi) adalah manusia-manusia mulia yang wajib kita cintai dan teladani karena mereka mengikuti Nabi, bukan karena mereka memiliki kedudukan setara atau di atas Nabi. Menjaga kemurnian posisi Rasulullah SAW dari klaim-klaim pengkultusan Syiah adalah benteng utama dalam menyelamatkan akidah umat di bumi Nusantara.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: