Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Menjadikan Imam sebagai Perantara kepada Allah


Syiahindonesia.com -
Fondasi paling mendasar yang membedakan Islam dengan agama-agama lainnya adalah pemurnian tauhid. Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya bersifat langsung tanpa memerlukan kasta perantara, pastor, maupun makelar spiritual. Setiap manusia, sekecil apa pun tingkat keimanannya, memiliki hak dan kewajiban mutlak untuk mengetuk pintu rahmat Allah secara langsung melalui doa dan ibadah, sebagaimana firman-Nya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60).

Namun, konsep ketauhidan yang murni dan indah ini mengalami pembelokan yang sangat serius di dalam teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam). Demi mengukuhkan otoritas para pemimpin mereka, doktrin Syiah mewajibkan pengikutnya untuk menjadikan para imam sebagai perantara (wasilah) mutlak antara manusia dan Allah SWT. Dalam praktiknya, kedudukan para imam ini digeser sedemikian rupa hingga menyerupai fungsi tuhan-tuhan kecil yang memegang kendali atas diterimanya doa, taubat, dan keselamatan seorang hamba di akhirat.

Berikut adalah tinjauan kritis dan ilmiah mengenai kesalahan fatal doktrin Syiah yang menjadikan imam sebagai perantara kepada Allah:

1. Menolak Doa Langsung: Klaim bahwa Allah Tidak Menerima Doa Tanpa Imam

Dalam kitab-kitab otoritatif Syiah, terdapat dogma yang sangat berani yang menyatakan bahwa Allah SWT mengunci rapat-rapat pintu komunikasi dengan hamba-Nya jika tidak melalui jalur para imam mereka. Salah satu doktrin yang tertuang dalam kitab Biharul Anwar karya Al-Majlisi menyebutkan bahwa para imam adalah "pintu-pintu Allah" yang melaluinya Allah baru sudi didekati.

Dampaknya, kaum Syiah dilarang meminta langsung kepada Allah dengan kepasrahan tauhid yang murni. Mereka diajarkan untuk menyisipkan nama-nama imam seperti Ali, Husain, atau Fatimah di dalam setiap proposal doa mereka. Bahkan, muncul keyakinan ekstrem di kalangan awam mereka bahwa menyeru nama imam ("Ya Ali Madad" atau "Ya Husain") saat tertimpa musibah jauh lebih cepat dikabulkan ketimbang menyeru nama Allah ("Ya Allah"). Ini adalah bentuk pengikisan akidah tauhid yang sangat berbahaya.

2. Pemelintiran Konsep Wasilah dalam Al-Qur'an

Untuk melegitimasi praktik perantara ini, para teolog Syiah sering kali menyalahgunakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya...”

Manipulasi Tafsir Syiah: Ulama Syiah mengeklaim secara sepihak bahwa yang dimaksud dengan kata Wasilah (perantara/jalan) dalam ayat ini adalah pribadi dua belas imam maksum. Mereka mendoktrinkan bahwa tanpa ber-wasilah kepada imam, maka ketakwaan seseorang bernilai nol.

Bantahan Ilmiah: Jika kita merujuk pada tafsir para Sahabat Nabi dan tabi'in—seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Wa'il, dan Qatadah—makna kata Wasilah secara konsisten ditafsirkan sebagai Al-Qurbah (amal-amal saleh yang mendekatkan diri kepada Allah). Ber-wasilah yang disyariatkan dalam Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan perantara asmaul husna, dengan keimanan, shalat, puasa, sedekah, dan amal kebajikan lainnya, bukan dengan mengultuskan figur manusia tertentu dan menjadikannya sebagai mediator spiritual yang disembah secara terselubung.

3. Jatuh ke dalam Jerat Kesalahan Kaum Jahiliyah Terdahulu

Kesalahan paling fatal dari logika "perantara imam" ini adalah kemiripannya yang sangat identik dengan argumen yang digunakan oleh kaum musyrik Jahiliyah di masa Rasulullah SAW ketika mereka menyembah berhala-berhala seperti Lata, Uzza, dan Manat.

Ketika kaum Jahiliyah ditanya mengapa mereka memuja berhala-berhala tersebut padahal mereka tahu Allah adalah Sang Pencipta, mereka menjawab sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 3:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“...Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

Kaum musyrik zaman dahulu menganggap diri mereka terlalu kotor dan berdosa untuk meminta langsung kepada Tuhan semesta alam, sehingga mereka membutuhkan figur-figur suci (yang disimbolkan lewat berhala) sebagai perantara yang menyampaikan hajat mereka kepada Allah. Sungguh ironis, logika yang sama persis ini diadopsi oleh teologi Syiah modern: mereka mengeklaim bahwa para imam adalah sosok suci maksum yang bertugas menjembatani doa manusia yang kotor kepada Allah.

4. Ritual Ghuluw (Ekstrem) di Kuburan para Imam

Doktrin perantara ini tidak berhenti pada untaian doa di lisan, melainkan menjelma menjadi ritual-ritual fisik yang mengerikan di sekitar makam-makam yang diklaim sebagai kuburan para imam mereka di Karbala, Najaf, maupun Masyhad.

Dalam majelis-majelis ziarah tersebut, kaum Muslimin dapat menyaksikan bagaimana para pengikut Syiah melakukan sujud ke arah kuburan, meratap-ratap meminta kesembuhan dan rezeki langsung kepada penghuni kubur, serta mengitari makam dengan cara yang menyerupai thawaf di Ka'bah. Mereka memosisikan para imam mati tersebut seolah-olah memiliki sifat ketuhanan yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Kuasa untuk mengabulkan hajat, padahal para imam tersebut adalah makhluk Allah yang lemah dan telah wafat.

Kesimpulan

Menjadikan imam atau makhluk apa pun sebagai perantara mutlak mutlak kepada Allah SWT adalah sebuah kesalahan teologis terbesar yang merusak kemurnian kalimat Laa Ilaha Illallah. Islam datang untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan total hanya kepada Penguasa alam semesta.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dan para keturunannya yang saleh (Ahlul Bait) adalah manusia-manusia bertauhid yang bersih dari noda syirik; mereka selalu berdoa langsung kepada Allah tanpa perantara. Oleh karena itu, apa yang dipraktikkan oleh sekte Syiah hari ini dengan mengultuskan mereka sebagai mediator spiritual sesungguhnya adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap ajaran tauhid yang diperjuangkan oleh Ahlul Bait itu sendiri.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: