Syiahindonesia.com - Sejarah Islam adalah cerminan dari bagaimana wahyu ilahi diimplementasikan oleh generasi terbaik umat ini dalam kehidupan nyata. Masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin—Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum—merupakan manifestasi puncak dari keadilan, pengorbanan, dan persatuan umat. Melalui lisan dan perjuangan para sahabat mulialah, ajaran Islam dapat tersebar luas dari ujung barat hingga ujung timur dunia dengan segala kegemilangannya.
Namun, bagi sekte Syiah, terutama sekte Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), lembaran sejarah yang suci dan penuh berkah tersebut dikonstruksikan sebagai panggung kegelapan yang dipenuhi konspirasi, pengkhianatan, dan ambisi kekuasaan. Mengapa faksi ini begitu gigih memproduksi, merawat, dan mereproduksi narasi fiktif serta fitnah keji terhadap generasi terbaik Islam dari abad ke abad? Jawabannya bukan sekadar masalah salah paham dalam membaca data sejarah, melainkan karena fitnah sejarah merupakan urat nadi (oxygen) yang tanpanya seluruh bangunan teologi Syiah akan runtuh seketika.
1. Untuk Melegitimasi dan Menyelamatkan Doktrin Imamah
Alasan paling utama mengapa Syiah harus terus menyebarkan fitnah sejarah adalah demi menegakkan rukun iman buatan mereka, yaitu Imamah (doktrin bahwa kepemimpinan umat Islam pasca-Nabi wajib dipegang oleh Ali bin Abi Thalib dan keturunannya berdasarkan teks suci kedewaan).
Masalahnya, realitas sejarah otentik mencatat bahwa kekhalifahan setelah Rasulullah ﷺ wafat jatuh ke tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. melalui musyawarah (Syura) yang sah, kemudian dilanjutkan oleh Umar r.a. dan Utsman r.a. Bahkan, Sayyidina Ali r.a. sendiri membaiat ketiga khalifah tersebut secara sukarela, hidup rukun berdampingan, menjadi penasihat utama mereka, dan menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Untuk mensiasati kontradiksi tajam antara dongeng teologi mereka dengan realitas sejarah ini, para rabi Syiah terpaksa menciptakan fitnah masif:
Mereka memfitnah para sahabat telah berkonspirasi merebut kekuasaan di Saqifah Bani Sa'idah.
Mereka merekayasa dongeng tragis penyerangan rumah Fatimah r.a. untuk menggambarkan bahwa Ali r.a. ditekan secara fisik.
Jika Syiah mengakui bahwa sejarah berjalan dengan damai, adil, dan tanpa intrik, maka doktrin Imamah yang mereka klaim sebagai perintah tuhan secara otomatis akan gugur secara ilmiah. Fitnah sejarah adalah alat satu-satunya untuk menjustifikasi klaim politik keagamaan mereka.
2. Memutus Otoritas Sunni dengan Menghancurkan Kredibilitas Sahabat
Struktur hukum Islam Sunni berdiri kokoh di atas fondasi transmisi periwayatan yang bersumber dari para sahabat Nabi ﷺ. Doktrin utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa seluruh sahabat Nabi memiliki kelayakan moral dan kejujuran yang mutlak ('Adalatush Shahabah) dalam hal menyampaikan agama.
Syiah sangat menyadari bahwa untuk merubuhkan bangunan Islam Sunni, mereka harus menghancurkan fondasinya terlebih dahulu, yaitu kredibilitas para pembawa risalah tersebut. Melalui fabrikasi fitnah sejarah yang menggambarkan para sahabat sebagai sosok yang haus kekuasaan, munafik, dan tega mengubah agama, Syiah bermaksud memutus kepercayaan umat terhadap hadis-hadis sahih.
Ketika ingatan umat telah diracuni oleh fitnah bahwa para sahabat adalah sekumpulan pengkhianat, maka dengan sangat mudah Syiah akan menggiring umat untuk membuang kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan beralih kepada kitab-kitab dongeng buatan para rabi Syiah. Allah SWT telah memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang gemar mencela para pendahulu Islam di dalam Surat Al-Hasyr ayat 10:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'."
3. Merawat Emosi Kebencian Jamaah sebagai Pengikat Sekte
Secara psikologi massa, sekte-sekte yang menyimpang memerlukan musuh bersama (common enemy) eksternal dan narasi ketertindasan (martyrdom) yang akut untuk menjaga loyalitas dan militansi para pengikutnya agar tidak keluar dari kelompok.
Syiah menggunakan fitnah sejarah tentang "penderitaan" keluarga Nabi (Ahlul Bait) akibat kezaliman para sahabat sebagai bahan bakar emosional utama lintas generasi. Melalui ritual tahunan seperti hari Asyura yang diisi dengan tangisan, ratapan fiktif, hingga aksi menyiksa diri, emosi pengikut Syiah diaduk-aduk agar merasa memiliki utang darah sejarah. Fitnah ini sengaja dirawat dan disiram setiap hari di dalam majelis-majelis internal mereka agar rasa benci kepada kaum Sunni tetap menyala di hati sanubari para anggotanya.
4. Matriks Motif: Mengapa Narasi Sejarah Harus Terus Distorsi?
5. Strategi Penyebaran Fitnah Sejarah Syiah di Indonesia
Di Indonesia, para agen misionaris Syiah bergerak dengan sangat metodis untuk menginjeksikan fitnah sejarah ini ke dalam pemikiran Muslim nusantara. Mereka menyadari bahwa masyarakat Indonesia sangat mencintai Ahlul Bait, sehingga celah psikologis ini dimanfaatkan secara maksimal lewat taktik Taqiyyah:
Tahap Awal (Simpati): Mereka tidak langsung mengafirkan sahabat, melainkan membuat kajian-kajian bertema "Tragedi Karbala" atau "Penderitaan Fatimah" dengan dramatisasi yang berlebihan untuk memancing air mata dan rasa iba kaum awam Sunni.
Tahap Menengah (Keraguan): Setelah simpati didapat, mereka mulai menyelipkan buku-buku sejarah alternatif yang secara halus mulai menggugat kebijakan politik Abu Bakar, Umar, atau Utsman r.a., guna menumbuhkan keraguan (syubhat).
Tahap Akhir (Doktrinasi): Begitu benteng takzim terhadap sahabat runtuh, korban akan dengan mudah dituntun untuk menerima dogma Imamah seutuhnya.
Kesimpulan
Sekte Syiah tidak akan pernah berhenti menyebarkan fitnah dalam sejarah Islam karena distorsi sejarah tersebut adalah fondasi utama eksistensi ideologi mereka. Menuntut Syiah untuk jujur dalam melihat sejarah sama saja dengan menuntut mereka untuk membubarkan ajaran Syiah itu sendiri. Fitnah terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat lainnya adalah tameng buatan untuk menutupi ketiadaan dalil otentik di dalam Al-Qur'an mengenai rukun iman versi mereka.
Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, kewaspadaan kita tidak boleh kendor. Menangkal infiltrasi fitnah sejarah ini harus dilakukan dengan gerakan literasi sejarah Islam yang shahih di madrasah, masjid, dan media sosial. Menjaga kemurnian sejarah sama dengan menjaga kemurnian akidah dari polusi pemikiran sekte Syiah yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: