Syiahindonesia.com - Dalam diskursus ilmiah, orisinalitas dan integritas literatur adalah kunci utama untuk menjaga kemurnian suatu ajaran. Bagi Ahlussunnah wal Jama'ah, kitab-kitab induk—baik dalam ranah tafsir, hadis, maupun sejarah—telah melalui proses penyaringan yang sangat ketat melalui metodologi sanad demi memastikan bahwa informasi yang sampai ke tangan umat adalah informasi yang valid dan jujur.
Namun, dalam rekam jejak perkembangan sekte keagamaan, kelompok Syiah kerap kali tersangkut dalam berbagai kasus distorsi, penyisipan, hingga pemalsuan terhadap kitab-kitab rujukan Islam. Mengapa sekte ini begitu gencar melakukan upaya pemalsuan terhadap literatur-literatur umat Islam? Berikut adalah beberapa motif utama di balik strategi tersebut:
1. Menambal Kekosongan Dalil Doktrin "Imamah" dan "Wilayah"
Motif paling mendasar dari gerakan pemalsuan literatur ini adalah kebutuhan teologis yang mendesak. Seperti yang telah jamak diketahui, doktrin inti Syiah—yaitu Imamah (kepemimpinan 12 imam maksum sebagai rukun iman)—sama sekali tidak memiliki fondasi tekstual yang sharih (jelas) di dalam Al-Qur'an maupun kitab-kitab hadis standar kaum muslimin (Al-Kutubus Sittah).
Karena sumber asli Islam menolak narasi pengultusan manusia dan sistem dinasti kepemimpinan gaib, teolog Syiah menempuh jalan pintas. Mereka berusaha menyusupkan teks-teks baru, memotong kalimat, atau menerbitkan ulang kitab-kitab karya ulama Sunni masa lalu dengan menyisipkan riwayat palsu di dalamnya. Tujuannya adalah untuk membangun opini seolah-olah ulama-ulama besar Sunni pun mengakui adanya "wasiat langit" bagi kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA dan keturunannya.
2. Mengaburkan Citra Buruk Sekte di Mata Masyarakat Awam
Di era keterbukaan informasi, doktrin-doktrin asli Syiah yang ekstrem—seperti kewajiban melaknat para sahabat, menuduh Al-Qur'an telah mengalami perubahan (tahrif), hingga legalitas nikah kontrak (mut'ah)—mulai terekspos secara luas dan memicu penolakan masif dari masyarakat awam.
Untuk meredam resistensi sosiologis ini, institusi keagamaan Syiah sering kali melakukan sensor atau "pembersihan" secara sepihak ketika menerjemahkan atau mencetak ulang kitab-kitab rujukan.
Mereka membuang riwayat-riwayat internal mereka yang terlalu vulgar dalam mengafirkan Abu Bakar dan Umar jika kitab tersebut hendak didistribusikan ke wilayah mayoritas Sunni.
Sebaliknya, mereka menyusupkan narasi-narasi buatan ke dalam terjemahan kitab-kitab sejarah Sunni demi melemahkan posisi para sahabat Nabi. Strategi ini merupakan bentuk aplikasi nyata dari doktrin Taqiyyah (legalitas menyembunyikan kebenaran demi kepentingan kelompok).
3. Taktik "Penyusupan Ilmiah" untuk Menipu Peneliti Muda
Para mullah Syiah menyadari bahwa menjaring simpati dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan peneliti muda tidak bisa dilakukan dengan khurafat-khurafat kasar. Mereka membutuhkan dokumen yang terkesan "ilmiah" dan "akademis."
Melalui proyek pemalsuan dan distorsi teks pada kitab-kitab sejarah (seperti memalsukan naskah sebagian volume Tarikh al-Thabari atau kitab-kitab biografi/terajim), mereka sengaja menanam ranjau-ranjau informasi palsu. Ketika para peneliti muda yang kurang teliti dalam ilmu sanad membaca kitab-kitab hasil distorsi tersebut, mereka akan dengan mudah terhasut dan menyimpulkan bahwa sejarah generasi awal Islam dipenuhi oleh intrik, perebutan kekuasaan, dan kezaliman terhadap Ahlul Bait.
4. Meruntuhkan Kepercayaan Umat terhadap Generasi Sahabat
Secara sistemis, memalsukan riwayat di dalam kitab-kitab sejarah kaum muslimin bertujuan untuk meruntuhkan wibawa para pembawa syariat. Di dalam metode riwayat Syiah yang disusupkan, figur-figur agung seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta Ummul Mukminin Aisyah RA selalu dicitrakan secara negatif melalui kisah-kisah fiktif yang sarat akan fitnah.
Jika umat Islam telah ragu dan kehilangan rasa hormat terhadap generasi sahabat yang mengumpulkan Al-Qur'an dan meriwayatkan hadis, maka otomatis otoritas syariat Islam yang murni akan runtuh di benak mereka. Pada saat ruang kosong itulah, Syiah masuk menawarkan kitab-kitab alternatif buatan mereka sebagai "solusi keselamatan."
Kesimpulan
Upaya pemalsuan, penyusupan, dan distorsi terhadap kitab-kitab Islam yang dilakukan oleh kelompok Syiah adalah bagian dari strategi perang pemikiran (ghazwul fikri) demi melanggengkan eksistensi doktrin kelompok mereka. Mereka terpaksa merusak orisinalitas literatur karena teks-teks asli Islam yang jujur tidak pernah berpihak pada kesesatan akidah mereka.
Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah selalu mengingatkan kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati dalam membeli, membaca, dan mengutip kitab-kitab terjemahan atau cetakan baru yang tidak memiliki rekam jejak penyuntingan (tahqiq) yang jelas dari para ulama Sunni yang terpercaya. Menjaga keaslian literatur adalah bagian integral dari upaya membentengi akidah umat dari infiltrasi gerakan Rafidhah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: