Breaking News
Loading...

Perbedaan Hakiki antara Konsep Al-Wala’ wal Bara’ dalam Islam dan Syiah

Syiahindonesia.com - Dalam terminologi akidah Islam, konsep Al-Wala’ wal Bara’ (Loyalitas dan Berlepas Diri) merupakan konsekuensi logis dari kalimat tauhid Laa ilaha illallah. Secara sederhana, konsep ini mengatur kepada siapa seorang mukmin harus memberikan kecintaan dan pembelaan, serta kepada siapa ia harus berlepas diri. Namun, kelompok Syiah Rafidhah telah melakukan distorsi fundamental terhadap konsep ini, mengubahnya dari instrumen penjaga tauhid menjadi instrumen politik dan kebencian sektarian. Di Indonesia, pengaburan makna ini sering kali digunakan untuk memecah belah persaudaraan umat Islam dengan kedok "mencintai Ahlul Bait". Memahami perbedaan hakiki antara konsep Wala’ wal Bara’ yang murni dengan versi Syiah adalah benteng utama untuk menjaga stabilitas akidah dan ukhuwah kita.


1. Hakikat Al-Wala’ (Loyalitas)

Dalam Islam (Ahlussunnah): Loyalitas utama seorang Muslim diberikan kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan seluruh orang beriman tanpa terkecuali. Muslim memberikan Wala’ kepada para sahabat Nabi sebagai generasi terbaik, kepada istri-istri Nabi (Ummul Mukminin), dan kepada seluruh umat Islam yang mengikuti jalan kebenaran. Cinta kepada Ahlul Bait adalah bagian dari iman, namun cinta tersebut bersifat proporsional tanpa mengkultuskannya.

Dalam Syiah: Loyalitas mereka bersifat eksklusif dan terbatas hanya kepada 12 Imam mereka. Bagi mereka, tidak ada Wala’ kecuali kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya yang mereka tetapkan. Loyalitas ini bersifat mutlak hingga derajat penyembahan terselubung, di mana mereka meyakini bahwa ketaatan kepada Imam adalah syarat sahnya seluruh amal ibadah. Tanpa Wilayah (loyalitas kepada Imam), seseorang dianggap tidak memiliki agama.

2. Hakikat Al-Bara’ (Berlepas Diri)

Dalam Islam (Ahlussunnah): Seorang Muslim berlepas diri dari kesyirikan, kekufuran, dan segala bentuk permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Bara’ diarahkan kepada setan, thaghut, dan orang-orang kafir yang memerangi Islam. Islam melarang keras berlepas diri dari sesama Muslim, apalagi terhadap para sahabat Nabi yang telah berjasa menyebarkan agama ini.

Dalam Syiah: Konsep Bara’ mereka diselewengkan menjadi kebencian sistematis terhadap mayoritas sahabat Nabi. Mereka mewajibkan pengikutnya untuk berlepas diri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ummul Mukminin Aisyah RA. Inilah yang disebut dengan doktrin Tabarra', yaitu ritual melaknat dan membenci orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Bagi Syiah, iman seseorang tidak sempurna kecuali ia membenci dan berlepas diri dari para sahabat tersebut.

3. Landasan Dalil dan Penyimpangannya

Ahlussunnah bersandar pada firman Allah SWT:

وَالْمُؤْمِنُونَوَالْمُؤْمِنَاتُبَعْضُهُمْأَوْلِيَاءُبَعْضٍ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong (auliya') bagi sebahagian yang lain..." (QS. At-Taubah: 71).

Ayat ini mencakup seluruh orang beriman. Sebaliknya, Syiah menyelewengkan ayat-ayat Wala’ hanya untuk kelompok mereka sendiri dan menggunakan narasi sejarah yang penuh dendam untuk melegitimasi Bara’ (kebencian) mereka kepada para sahabat. Mereka menciptakan dikotomi palsu: bahwa mencintai Ali harus berarti membenci Abu Bakar. Padahal dalam Islam, mencintai Ali dan Abu Bakar adalah satu kesatuan cinta karena Allah.

4. Dampak Praktis dalam Kehidupan Beragama

AspekKonsep Islam (Sunni)Konsep Syiah (Rafidhah)
Objek CintaAllah, Rasul, Sahabat, & Seluruh Mukmin.Hanya 12 Imam dan pengikut Syiah.
Objek KebencianKekufuran, Kesyirikan, & Maksiat.Sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, dll).
Sifat HubunganMembangun Ukhuwah Islamiyah Universal.Menciptakan Sekte yang Eksklusif & Takfiri.
Tujuan AkhirRidha Allah dan Surga.Kemenangan Politik Kelompok & Balas Dendam.

Mengapa Konsep Syiah Berbahaya bagi Muslim Indonesia?

Penyebaran konsep Wala’ wal Bara’ versi Syiah di Indonesia membawa ancaman nyata:

  1. Penghancuran Karakter Muslim: Muslim dididik untuk menjadi pribadi yang penuh dendam sejarah dan gemar melaknat.

  2. Disintegrasi Umat: Konsep ini secara otomatis mengafirkan atau memusuhi mayoritas penduduk Indonesia yang bermazhab Ahlussunnah karena dianggap tidak memiliki "Wala'" kepada Imam.

  3. Infiltrasi Asing: Loyalitas (Wala') pengikut Syiah sering kali dialihkan kepada pemimpin spiritual di luar negeri (Iran) daripada kepada otoritas ulama dan pemerintah di tanah airnya sendiri.

Kesimpulan

Perbedaan Al-Wala’ wal Bara’ dalam Islam dan Syiah adalah perbedaan antara cinta yang menyatukan dengan kebencian yang mencerai-berai. Islam mengajarkan loyalitas berdasarkan keimanan yang luas, sementara Syiah membatasi loyalitas pada fanatisme buta terhadap individu dan dendam masa lalu. Sebagai Muslim yang cerdas, kita harus memberikan loyalitas kita hanya kepada mereka yang Allah ridhai, yaitu para sahabat dan pengikutnya yang setia, serta berlepas diri dari segala paham yang mengajarkan caci maki terhadap generasi terbaik umat ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: