Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Memahami Kedudukan Rasulullah

Syiahindonesia.com - Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW adalah puncak kemuliaan, penutup para Nabi (Khatamun Nabiyyin), dan satu-satunya manusia yang memegang otoritas wahyu mutlak setelah Al-Qur'an. Namun, dalam bangunan teologi Syiah, kedudukan Rasulullah SAW sering kali tereduksi atau terbayangi oleh doktrin Imamah. Pengultusan yang berlebihan terhadap para imam secara tidak sadar telah menggeser posisi Rasulullah dari kedudukan uniknya yang tidak tertandingi. Memahami kesalahan-kesalahan ini sangat penting untuk menjaga kemurnian akidah kita dari paham yang merendahkan martabat kenabian.


1. Menyejajarkan (atau Melebihkan) Imam dengan Rasulullah

Kesalahan paling fatal dalam teologi Syiah adalah keyakinan bahwa para imam memiliki kedudukan spiritual yang setara, atau bahkan dalam beberapa literatur, melebihi para Nabi dan Rasul. Tokoh besar mereka, Khomeini, dalam kitab Al-Hukumatul Islamiyyah, menegaskan bahwa para imam memiliki maqam yang tidak bisa dicapai bahkan oleh malaikat muqarrabin maupun Nabi yang diutus.

Koreksi Akidah: Dalam Islam, derajat kenabian adalah derajat tertinggi yang tidak mungkin dilampaui oleh manusia biasa (non-Nabi), termasuk para imam. Allah SWT berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّينَ

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi..." (QS. Al-Ahzab: 40)

Menempatkan individu lain dalam posisi yang setara dengan pemegang wahyu adalah bentuk pelecehan terhadap keistimewaan kedudukan Rasulullah SAW.

2. Membagi Otoritas Wahyu dan Syariat

Syiah meyakini bahwa para imam memiliki sifat Ishmah (maksum) dan perkataan mereka adalah sumber hukum yang berdiri sendiri, setara dengan hadits Nabi. Hal ini menciptakan kesan bahwa risalah yang dibawa Rasulullah belum tuntas atau belum cukup tanpa penjelasan dan tambahan dari para imam.

Ahlussunnah meyakini bahwa dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, wahyu telah terputus dan agama telah sempurna. Menjadikan perkataan imam sebagai "wahyu berjalan" setelah Nabi wafat secara tidak langsung meniadakan keunikan peran Rasulullah sebagai satu-satunya penyampai syariat dari Allah kepada umat manusia.


3. Merendahkan Kehormatan Rasulullah Melalui Pencelaan Istri Beliau

Secara logika, kehormatan seorang suami berkaitan erat dengan kehormatan istrinya. Syiah secara sistematis melakukan pembunuhan karakter terhadap Ummul Mukminin Aisyah RA dan Hafshah RA dengan tuduhan-tuduhan keji.

Menghina istri Nabi adalah bentuk penghinaan kepada Nabi itu sendiri. Bagaimana mungkin seorang Nabi yang maksum dituduh tidak mampu mendidik keluarganya atau hidup bersama wanita yang (menurut fitnah Syiah) dianggap buruk? Allah SWT telah menyucikan Aisyah RA dalam Al-Qur'an (Surat An-Nur). Membantah penyucian Allah terhadap istri Nabi adalah bentuk penghinaan terhadap pilihan dan kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW.

4. Mengalihkan Fokus Ibadah dan Kecintaan

Dalam praktik keseharian, kelompok Syiah sering kali lebih menonjolkan kecintaan dan permohonan tolong (Istighatsah) kepada para imam daripada bershalawat kepada Nabi sesuai tuntunan. Seruan "Ya Ali" atau "Ya Husain" seringkali lebih menggema daripada seruan tauhid atau kerinduan pada Sunnah Nabi.

Hal ini menyebabkan sosok Rasulullah SAW hanya menjadi "pembuka jalan" bagi kemunculan para imam, bukan lagi sebagai pusat panutan tunggal. Padahal, Allah memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah (teladan yang baik) dalam segala aspek:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21)


5. Memberikan Sifat Pengetahuan Ghaib Mutlak kepada Selain Nabi

Syiah meyakini para imam mengetahui segala hal yang ghaib, bahkan hingga detail atom di alam semesta. Padahal, Al-Qur'an menegaskan bahwa Rasulullah pun tidak mengetahui hal ghaib kecuali apa yang Allah sampaikan melalui wahyu. Memberikan sifat yang lebih hebat kepada imam daripada yang dimiliki Nabi adalah bentuk penyimpangan logika dan akidah yang nyata.


Kesimpulan

Kesalahan Syiah dalam memahami kedudukan Rasulullah SAW bermuara pada pengultusan individu (para imam) yang melampaui batas. Dengan menyejajarkan imam dengan Nabi, mencaci-maki keluarga Nabi, dan membagi otoritas syariat, mereka telah merusak esensi penghormatan yang semestinya hanya milik Rasulullah SAW.

Sebagai umat Islam di Indonesia, kita wajib menjaga posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi, manusia paling mulia, dan satu-satunya teladan mutlak setelah Al-Qur'an. Mencintai Ahlul Bait adalah bagian dari iman, namun mengangkat mereka ke derajat kenabian atau merendahkan martabat Nabi adalah kesesatan yang harus kita jauhi.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: