Syiahindonesia.com - Sejarah kepemimpinan Islam pasca-wafatnya Rasulullah SAW merupakan periode keemasan yang dikenal dengan masa Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan adalah para pemimpin yang dipilih melalui mekanisme yang sah dan diridhai oleh mayoritas sahabat. Namun, dalam doktrin Syiah, ketiga Khalifah agung ini justru dipandang sebagai musuh utama. Kebencian yang ditanamkan dalam ajaran Syiah terhadap para Khalifah yang sah bukan sekadar masalah perbedaan politik masa lalu, melainkan telah menjadi bagian dari rukun keyakinan mereka yang merusak ukhuwah Islamiyah. Artikel ini akan mengupas bagaimana Syiah membangun narasi kebencian terhadap para pembela Islam tersebut dan mengapa hal ini sangat berbahaya bagi akidah umat.
1. Doktrin Perampasan Kekhalifahan (Al-Ghashb)
Akar kebencian Syiah bermula dari keyakinan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah merampas hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. Mereka mengklaim adanya wasiat rahasia dari Nabi SAW yang menunjuk Ali sebagai pengganti tunggal. Berdasarkan asumsi tanpa dalil yang kuat ini, mereka melabeli para Khalifah sah sebagai "penguasa zalim".
Padahal, Al-Qur'an memuji para sahabat yang berjanji setia di bawah pohon (Bai'atur Ridhwan), di mana ketiga Khalifah tersebut termasuk di dalamnya:
لَّقَدْ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18)
Jika Allah menyatakan ridha kepada mereka, lantas atas dasar apa kelompok Syiah berani membenci dan menganggap mereka sebagai perampas? Menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman sama saja dengan menentang ijma' (kesepakatan) para sahabat yang dijamin kebenarannya.
2. Praktik Melaknat Sahabat (Tabarra’)
Dalam ajaran Syiah, terdapat konsep Tabarra’, yaitu kewajiban berlepas diri dan membenci musuh-musuh Ahlul Bait. Celakanya, yang mereka maksud sebagai musuh adalah Abu Bakar dan Umar. Dalam kitab-kitab doa dan ritual mereka, sering ditemukan kalimat-kalimat laknat yang ditujukan kepada kedua sahabat terbaik Rasulullah ini.
Kebencian ini sangat kontradiktif dengan sabda Rasulullah SAW:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
"Janganlah kalian mencela sahabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan mencapai (derajat) satu mud (infak) mereka, tidak juga separuhnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Syiah mengabaikan peringatan Nabi ini dan justru menjadikan pencelaan terhadap Khalifah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (menurut versi mereka). Ini adalah penyimpangan akhlak dan akidah yang sangat nyata.
3. Memutarbalikkan Fakta Sejarah: Fitnah Pintu Fatimah
Untuk melegitimasi kebencian terhadap Umar bin Khattab, Syiah menciptakan dongeng sejarah yang sangat keji, yaitu kisah Umar yang dikatakan mendobrak pintu rumah Fatimah RA hingga menyebabkan keguguran dan kematian putri Nabi tersebut.
Fakta Ilmiah: Kisah ini adalah kebohongan yang dibuat-buat oleh para perawi Syiah. Secara logika, jika hal itu benar terjadi, tidak mungkin Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai "Singa Allah" akan diam saja. Fakta sejarah justru menunjukkan hubungan yang sangat harmonis:
Ali bin Abi Thalib membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman dengan sukarela.
Ali menjadi penasihat utama (Wazir) bagi ketiga Khalifah tersebut.
Ali menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab.
Ali menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai bentuk penghormatan.
Bagaimana mungkin seseorang menikahkan putrinya dan memberi nama anaknya dengan nama orang yang dibencinya? Kebohongan Syiah runtuh di hadapan fakta sejarah yang otentik ini.
4. Mengafirkan Khalifah dan Dampak Takfiri
Kebencian Syiah tidak berhenti pada celaan, tetapi sampai pada tingkat pengafiran (Takfir). Mereka menganggap para Khalifah tersebut telah murtad karena tidak menjalankan wasiat (fiktif) Imamah.
Sikap Takfiri ini sangat berbahaya bagi stabilitas umat Islam di Indonesia. Jika tokoh-tokoh paling mulia dalam Islam saja dikafirkan, maka apalagi umat Islam biasa yang mengikuti jalan Ahlussunnah. Ideologi kebencian ini menjadi akar perpecahan yang tidak kunjung usai dan menjauhkan umat dari persatuan yang diperintahkan Allah:
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka..." (QS. Ali Imran: 105)
5. Merusak Fondasi Agama melalui Penolakan Riwayat
Karena membenci para Khalifah yang sah, Syiah menolak mayoritas hadits yang diriwayatkan melalui jalur para sahabat tersebut. Hal ini adalah upaya sistematis untuk merusak syariat Islam. Jika Abu Bakar, Umar, dan Utsman dianggap pendusta, maka ribuan hadits dan hukum-hukum agama yang sampai kepada kita melalui jalur mereka akan dianggap batal oleh Syiah. Inilah misi tersembunyi di balik kebencian mereka: memutuskan hubungan umat Islam dengan sumber asli agamanya.
Kesimpulan
Kebencian Syiah terhadap para Khalifah yang sah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah bukti nyata penyimpangan mereka dari manhaj Islam yang benar. Mereka membangun agama di atas fondasi dendam, kebohongan sejarah, dan pengingkaran terhadap keridhaan Allah kepada para sahabat.
Sebagai Muslim yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, kita wajib mencintai para sahabat sebagaimana kita mencintai Ahlul Bait. Persatuan Islam hanya bisa terwujud jika kita menghormati generasi terbaik yang telah dipilih Allah untuk menemani perjuangan Rasul-Nya. Jangan biarkan racun kebencian Syiah merusak hati kita terhadap para pahlawan Islam yang telah berjasa membawa cahaya iman hingga ke nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: