Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Konsep Kepemimpinan Spiritual

Syiahindonesia.com - Dalam Islam, kepemimpinan spiritual dan duniawi merupakan amanah yang harus dijalankan sesuai dengan koridor syariat. Namun, kelompok Syiah Rafidhah telah menggeser konsep kepemimpinan ini menjadi sebuah doktrin teologis yang ekstrem, yang mereka sebut sebagai Imamah. Mereka tidak memandang pemimpin sebagai manusia biasa yang dipilih berdasarkan musyawarah dan integritas, melainkan sebagai sosok setengah dewa yang memiliki otoritas langit. Di Indonesia, pemahaman yang menyimpang ini sering kali disusupkan melalui narasi "karomah" atau "kesucian keturunan Nabi," padahal di baliknya terdapat kesalahan fundamental yang dapat merusak akidah tauhid seorang Muslim.


1. Menganggap Imam sebagai Pemegang Otoritas Mutlak Setelah Nabi

Kesalahan paling mendasar dalam konsep kepemimpinan Syiah adalah meyakini bahwa Imam memiliki otoritas spiritual yang setara dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka mendoktrinkan bahwa ketaatan kepada Imam adalah ketaatan kepada Allah, dan penolakan terhadap Imam adalah kekafiran.

Dalam Islam, setelah wafatnya Rasulullah SAW, wahyu telah terputus dan tidak ada lagi manusia yang memiliki otoritas mutlak dalam menentukan syariat. Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَأَكْمَلْتُلَكُمْدِينَكُمْ

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu..." (QS. Al-Ma'idah: 3).

Dengan meyakini Imam sebagai pemimpin spiritual yang wajib ditaati secara mutlak, Syiah seolah-olah menganggap agama belum sempurna dan membutuhkan "wakil Tuhan" di bumi untuk terus memberikan petunjuk yang setara dengan wahyu.

2. Doktrin Kema'shuman (Kesucian dari Dosa)

Syiah meyakini bahwa pemimpin spiritual mereka (12 Imam) adalah sosok yang Ma'shum, artinya suci dari segala kesalahan, dosa, bahkan lupa, sejak bayi hingga wafat. Konsep ini adalah kesalahan fatal karena mensejajarkan manusia biasa dengan derajat kenabian yang dijaga oleh wahyu.

Ahlussunnah wal Jama'ah meyakini bahwa setiap manusia selain Nabi bisa melakukan kesalahan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

كُلُّبَنِيآدَمَخَطَّاءٌ

"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah..." (HR. Tirmidzi).

Pemberian sifat ma'shum kepada pemimpin spiritual oleh Syiah menciptakan kultus individu yang berlebihan, di mana pengikutnya tidak lagi kritis terhadap kebenaran dan hanya mengikuti instruksi imam secara buta, meskipun bertentangan dengan dalil yang nyata.

3. Keyakinan Imam Mengetahui Hal Ghaib

Penyimpangan lain dalam kepemimpinan spiritual Syiah adalah keyakinan bahwa para Imam mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi (ilmu ghaib). Dalam kitab Al-Kafi, ditegaskan bahwa "Para Imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan mereka tidak mati kecuali atas pilihan mereka sendiri."

Secara akidah, ini adalah bentuk kesyirikan dalam hal Rububiyah dan Asma' wa Shifat, karena ilmu ghaib secara mutlak hanyalah milik Allah SWT. Allah berfirman:

قُلْلَايَعْلَمُمَنْفِيالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِالْغَيْبَإِلَّااللَّهُ

"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (QS. An-Naml: 65).

Menisbatkan ilmu ghaib kepada pemimpin spiritual adalah cara Syiah untuk mengikat hati pengikutnya agar selalu merasa diawasi oleh sang Imam, yang pada akhirnya mengalihkan rasa takut dan harap yang seharusnya hanya kepada Allah.

4. Menjadikan Kepemimpinan sebagai Rukun Iman

Bagi Syiah, kepemimpinan spiritual (Imamah) bukan sekadar masalah cabang agama (furu'), melainkan inti dari keimanan. Barangsiapa yang tidak mengakui kepemimpinan 12 Imam mereka, maka status Islamnya dianggap gugur atau tidak sempurna.

Kesalahan ini berdampak pada lahirnya sikap Takfiri (mudah mengafirkan) terhadap mayoritas umat Islam lainnya. Konsep kepemimpinan dalam Islam adalah masalah Maslahah Mursalah dan Siyasah Syar'iyyah yang bertujuan untuk mengatur urusan umat, bukan menjadi syarat sahnya iman seseorang di hadapan Allah.


Dampak Buruk Konsep Kepemimpinan Syiah

  • Lahirnya Diktatorisme Agama: Para mullah atau ulama Syiah menggunakan nama "Imam yang tersembunyi" untuk melegitimasi kekuasaan mereka secara absolut (konsep Wilayatul Faqih).

  • Penghambaan kepada Makhluk: Umat diarahkan untuk lebih takut dan tunduk kepada pemimpin daripada kepada aturan Allah dan Rasul-Nya.

  • Perpecahan Umat: Konsep kepemimpinan yang berbasis keturunan dan eksklusivitas ini secara otomatis membuang prinsip musyawarah (Syura) yang diajarkan Islam.

Kesimpulan

Konsep kepemimpinan spiritual dalam Syiah adalah konsep yang dibangun di atas fondasi pengultusan manusia dan perampasan hak-hak ketuhanan. Dengan menganggap pemimpin sebagai sosok yang maksum dan tahu hal ghaib, Syiah telah keluar dari jalur tauhid yang murni. Sebagai Muslim, kita harus menghormati para ulama dan pemimpin, namun tetap menempatkan mereka sebagai manusia biasa yang bisa salah. Otoritas tertinggi kita tetaplah Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat, bukan pada klaim kesucian individu yang menyesatkan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: