Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Memahami Makna Taqdir

Syiahindonesia.com - Persoalan takdir merupakan salah satu rukun iman yang sangat fundamental dalam Islam. Pemahaman yang benar mengenai takdir akan membawa seorang hamba pada ketenangan batin, tawakal yang kuat, dan pengakuan mutlak atas kemahakuasaan Allah SWT. Namun, dalam labirin teologi Syiah, konsep takdir telah mengalami distorsi yang sangat fatal. Mereka terjebak dalam dualisme pemikiran yang kontradiktif: di satu sisi mereka mengadopsi paham Qadariyyah (menafikan takdir Allah atas perbuatan manusia) yang diadopsi dari kaum Mu'tazilah, dan di sisi lain mereka menciptakan doktrin Bada’ yang mengerikan—sebuah keyakinan yang menuduh Allah bisa berubah pikiran atau baru mengetahui sesuatu setelah peristiwa itu terjadi.


1. Adopsi Paham Mu'tazilah: Menafikan Kehendak Allah

Dalam masalah perbuatan manusia, Syiah Itsna Asyariyyah secara umum mengikuti jejak kaum Mu'tazilah yang meyakini bahwa manusia adalah pencipta mutlak bagi perbuatannya sendiri tanpa ada campur tangan kehendak Allah (Masyiatullah). Mereka beranggapan bahwa jika Allah menakdirkan perbuatan buruk manusia, maka Allah itu zalim.

Padahal, Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan ciptaan Allah, namun manusia diberikan pilihan (ikhtiar). Allah SWT berfirman:

إِنَّاكُلَّشَيْءٍخَلَقْنَاهُبِقَدَرٍ

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)." (QS. Al-Qamar: 49).

Dengan memisahkan perbuatan manusia dari takdir Allah, Syiah secara tidak sadar telah membatasi kekuasaan Allah dan meyakini adanya "pencipta" lain selain Allah di alam semesta ini, yaitu kehendak manusia yang berdiri sendiri secara mutlak.


2. Doktrin Bada’: Menisbatkan Kebodohan kepada Allah

Kesalahan paling fatal dan merupakan penghinaan terbesar terhadap Allah dalam teologi Syiah adalah doktrin Bada’. Secara bahasa, Bada’ berarti munculnya sesuatu yang sebelumnya tersembunyi, atau berubahnya suatu pendapat. Syiah meyakini bahwa Allah bisa saja merencanakan atau menakdirkan sesuatu, namun kemudian Allah "mengubah pikiran-Nya" karena munculnya fakta baru yang sebelumnya tidak diketahui-Nya.

Keyakinan ini lahir untuk menutupi kegagalan ramalan para Imam mereka. Ketika seorang Imam meramalkan sesuatu namun tidak terjadi, mereka berkilah dengan mengatakan: "Telah terjadi Bada’ bagi Allah." Ini adalah bentuk penistaan terhadap sifat ilmu Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu. Allah SWT berfirman:

أَلَمْتَعْلَمْأَنَّاللَّهَيَعْلَمُمَافِيالسَّمَاءِوَالْأَرْضِۗإِنَّذَٰلِكَفِيكِتَابٍۚإِنَّذَٰلِكَعَلَىاللَّهِيَسِيرٌ

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." (QS. Al-Hajj: 70).

Menuduh Allah mengalami perubahan pendapat berarti menisbatkan sifat jahil (bodoh) dan menyesal kepada Sang Khaliq, yang merupakan kekufuran nyata.


3. Taqdir dalam Cengkeraman "Kekuasaan Imam"

Penyimpangan berikutnya adalah keyakinan bahwa para Imam memiliki kendali atas takdir dan alam semesta melalui Wilayah Takwiniyyah. Mereka meyakini bahwa Allah mendelegasikan urusan pengaturan alam, termasuk hidup, mati, dan rezeki hamba-hamba-Nya kepada para Imam.

Dalam kitab Al-Kafi, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa para Imam-lah yang membagikan rezeki dan menentukan ajal. Ini adalah perusakan total terhadap konsep takdir. Takdir yang seharusnya merupakan hak prerogatif Allah, justru digeser menjadi otoritas manusia (Imam). Rasulullah SAW bersabda dalam hadits tentang penciptaan manusia:

ثُمَّيُرْسَلُالْمَلَكُفَيَنْفُخُفِيهِالرُّوحَوَيُؤْمَرُبِأَرْبَعِكَلِمَاتٍ:بِكَتْبِرِزْقِهِوَأَجَلِهِوَعَمَلِهِوَشَقِيٌّأَوْسَعِيدٌ

"Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menuliskan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa Allah-lah yang memerintahkan penulisan takdir melalui malaikat-Nya, bukan melalui perantara Imam-Imam tertentu sebagaimana klaim Syiah.


4. Dampak Psikologis dan Teologis bagi Pengikut Syiah

Kesalahan dalam memahami takdir ini berakibat pada:

  • Hilangnya Tawakal: Karena Allah dianggap bisa berubah pikiran (Bada'), penganut Syiah tidak memiliki sandaran yang pasti terhadap janji-janji Allah.

  • Kultus Individu: Mereka lebih takut dan berharap kepada Imam (yang dianggap pemegang kunci takdir) daripada kepada Allah SWT.

  • Sikap Meremehkan Syariat: Dengan paham "bebas berbuat" ala Qadariyyah, mereka sering merasa tidak terikat dengan ketentuan Allah selama mereka tetap loyal pada Wilayah Imam.


5. Antisipasi bagi Umat Islam Indonesia

Masyarakat Muslim di Indonesia harus waspada terhadap buku-buku filsafat atau tasawuf Syiah yang mulai memasukkan konsep Bada’ dengan istilah yang diperhalus. Tujuannya adalah untuk menggoyahkan keyakinan umat terhadap kemahatahuan Allah dan kepastian takdir-Nya.

Paham ini sangat berbahaya karena:

  1. Merusak Rukun Iman: Iman kepada takdir adalah pilar yang jika runtuh, maka runtuhlah bangunan iman seseorang.

  2. Membuka Pintu Ramalan Palsu: Memberikan ruang bagi tokoh-tokoh agama Syiah untuk mengaku tahu masa depan, dan jika salah, mereka cukup berlindung di balik doktrin Bada’.


Kesimpulan: Menjaga Kesucian Sifat Allah

Konsep takdir dalam Syiah adalah campuran antara filsafat Mu'tazilah yang menafikan kuasa Allah dan dongeng Bada’ yang menafikan ilmu Allah. Keduanya adalah penyimpangan yang sangat jauh dari Al-Quran dan Sunnah. Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi dengan ilmu-Nya yang azali. Tidak ada yang luput dari catatan-Nya dan tidak ada perubahan dalam ilmu-Nya. Membentengi diri dari kesalahan paham takdir Syiah adalah bagian dari menjaga kemurnian Tauhid kita kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: