Syiahindonesia.com - Dalam interaksi sosial dan keagamaan, kejujuran adalah mahkota bagi setiap Muslim. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai Al-Amin (yang terpercaya) bahkan sebelum masa kenabiannya, menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keselarasan antara hati, ucapan, dan perbuatan. Namun, dalam ajaran Syiah, terdapat sebuah doktrin yang secara sistematis melegalkan ketidakjujuran, yaitu Taqiyyah. Bagi Syiah, Taqiyyah bukan sekadar pilihan darurat untuk menyelamatkan nyawa, melainkan sebuah kewajiban agama yang digunakan sebagai senjata untuk menipu umat Islam (Sunni) dan menyembunyikan hakikat ajaran mereka yang sebenarnya.
1. Taqiyyah: Sembilan per Sepuluh Bagian Agama
Salah satu kejanggalan terbesar dalam literatur primer Syiah, seperti kitab Al-Kafi, adalah pernyataan yang menempatkan Taqiyyah pada kedudukan yang sangat ekstrem. Al-Kulaini mencantumkan riwayat yang mengeklaim bahwa: "Taqiyyah adalah sembilan per sepuluh bagian dari agama, dan tidak ada agama bagi mereka yang tidak melakukan Taqiyyah."
Dengan menjadikannya sebagai mayoritas isi agama, Syiah telah mengubah wajah Islam dari agama yang terang-benderang menjadi ajaran yang penuh misteri dan kepura-puraan. Hal ini sangat kontras dengan perintah Allah SWT untuk bersikap jujur:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar)." (QS. At-Taubah: 119).
2. Perbedaan Makna Taqiyyah: Islam vs Syiah
Penting bagi umat Islam di Indonesia untuk memahami distorsi makna Taqiyyah dalam versi Syiah:
Taqiyyah dalam Islam (Sunni): Merupakan dispensasi (rukhshah) yang hanya boleh digunakan dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa (seperti dipaksa kafir di bawah ancaman senjata), sementara hati tetap teguh dalam iman.
Taqiyyah dalam Syiah: Merupakan strategi permanen untuk menyembunyikan identitas dan doktrin sesat mereka di hadapan mayoritas Muslim, meskipun dalam kondisi aman.
Bagi Syiah, menipu orang Sunni dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Imam. Ini menjadikan Taqiyyah bukan lagi sebagai perlindungan diri, melainkan senjata ofensif untuk melakukan infiltrasi ke tengah masyarakat tanpa dicurigai.
3. Menipu dengan "Cinta Ahlul Bait" dan "Persatuan"
Salah satu praktik Taqiyyah yang paling sering kita temui di Indonesia adalah penggunaan slogan-slogan manis seperti "Persatuan Islam" atau "Ukhuwah Islamiyah". Di depan publik, tokoh-tokoh Syiah akan berbicara tentang pentingnya mencintai keluarga Nabi (Ahlul Bait) tanpa menyebutkan kebencian mereka kepada sahabat.
Namun, di balik layar atau dalam kitab-kitab rahasia mereka, "Cinta Ahlul Bait" versi mereka wajib dibarengi dengan melaknat Abu Bakar, Umar, dan Aisyah radhiyallahu 'anhum. Mereka menggunakan wajah manis di luar untuk menarik simpati, sementara di dalam mereka tetap menyimpan bara permusuhan terhadap pilar-pilar Islam.
4. Legalisasi Kebohongan dalam Ritual Ibadah
Taqiyyah dalam Syiah juga masuk ke dalam ranah ibadah. Mereka dibolehkan shalat di belakang imam Sunni dengan niat yang berbeda, atau berpura-pura mengikuti tata cara shalat Sunni demi menyamarkan identitas.
Ini menciptakan ketidakpastian dalam beragama. Bagaimana mungkin sebuah ajaran dapat dipercaya jika pengikutnya diwajibkan untuk berbohong bahkan saat menghadap Allah? Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
"Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan." (HR. Muslim).
Syiah justru menuntun pengikutnya kepada kepalsuan yang sistematis.
5. Dampak Sosial: Menghancurkan Kepercayaan Antar-Muslim
Penggunaan Taqiyyah sebagai senjata tipu daya berdampak sangat buruk pada tatanan sosial umat Islam:
Krisis Kepercayaan: Masyarakat menjadi sulit membedakan mana ucapan jujur dan mana yang merupakan sandiwara politik keagamaan.
Infiltrasi Ideologi: Dengan berpura-pura menjadi Sunni, mereka masuk ke dalam lembaga-lembaga dakwah, pendidikan, hingga pemerintahan untuk menyebarkan paham mereka secara halus.
Pengkaburan Kebenaran: Taqiyyah membuat perdebatan ilmiah menjadi tidak berguna, karena mereka bisa saja mengingkari isi kitab mereka sendiri di depan umum demi mendapatkan keamanan atau simpati.
Kewaspadaan bagi Umat Islam Indonesia
Di tanah air, penganut Syiah sering kali mengecilkan perbedaan antara Sunni dan Syiah dengan alasan "hanya masalah khilafiyah". Ini adalah bentuk Taqiyyah nyata. Mereka ingin kita menurunkan kewaspadaan sehingga mereka bebas menyebarkan doktrin yang merusak akidah, seperti pengkafiran sahabat dan peraguan terhadap Al-Qur'an.
Ingatlah, seseorang yang menjadikan kebohongan sebagai bagian dari ibadah adalah sosok yang paling berbahaya untuk diikuti. Islam adalah agama yang tegak di atas cahaya kebenaran, bukan di atas bayang-bayang Taqiyyah yang penuh dengan tipu muslihat.
Kesimpulan
Taqiyyah dalam ajaran Syiah bukan lagi sekadar alat perlindungan diri, melainkan senjata strategis untuk menipu umat Islam dan menyusupkan ajaran sesat. Dengan menganggap kebohongan sebagai sembilan per sepuluh bagian agama, Syiah telah keluar dari koridor akhlak nabi yang mulia. Sebagai umat Islam yang lurus, kita harus waspada terhadap retorika manis mereka dan selalu merujuk pada kebenaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang terang benderang, tanpa ada yang perlu disembunyikan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: