Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan Mereka dalam Konsep Kenabian

Syiahindonesia.com - Akidah Islam menetapkan bahwa kenabian adalah kedudukan paling mulia yang dipilih langsung oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Rasulullah Muhammad SAW adalah penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin), yang membawa syariat sempurna dan final. Namun, dalam bangunan teologi Syiah, konsep kenabian mengalami penyimpangan yang sangat mendasar. Melalui doktrin Imamah, mereka secara sistematis mengerdilkan fungsi kenabian dan mentransfer otoritas-otoritas suci Nabi kepada para Imam mereka. Hal ini menciptakan sebuah sistem kepercayaan di mana kedudukan manusia (Imam) sering kali diletakkan sejajar, atau bahkan di atas derajat kenabian itu sendiri.


1. Menyejajarkan Imamah dengan Kenabian

Penyimpangan pertama adalah keyakinan Syiah bahwa Imamah merupakan kelanjutan dari kenabian dalam hal otoritas dan sifat-sifatnya. Mereka meyakini bahwa sebagaimana Nabi dipilih oleh Allah, para Imam juga ditunjuk oleh Allah (Manqush).

Bagi Syiah, fungsi Imam bukan sekadar pemimpin umat, melainkan penjelas wahyu yang memiliki sifat Maksum (suci dari dosa dan salah) sebagaimana para Nabi. Dengan menetapkan sifat maksum pada 12 manusia setelah Rasulullah, Syiah secara praktis telah memperpanjang periode "manusia suci" yang perkataannya setara dengan wahyu. Ini adalah bentuk pengingkaran terselubung terhadap finalitas kenabian Muhammad SAW.

2. Menganggap Derajat Imam Lebih Tinggi dari Nabi-Nabi Terdahulu

Salah satu bentuk ghuluw (berlebihan) yang paling nyata dalam Syiah adalah klaim bahwa kedudukan 12 Imam mereka lebih tinggi daripada kedudukan para Nabi dan Rasul terdahulu (selain Nabi Muhammad SAW). Tokoh besar Syiah, Khomeini, dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyyah menyatakan:

"Sesungguhnya bagi Imam itu memiliki kedudukan yang terpuji, derajat yang tinggi, dan kekuasaan terhadap alam semesta, yang kedudukannya itu tidak dapat dicapai oleh malaikat muqarrabin maupun nabi yang diutus sekalipun."

Keyakinan ini jelas menyimpang dari Al-Quran. Allah SWT telah menetapkan derajat para Nabi sebagai manusia-manusia pilihan yang menerima wahyu secara langsung. Mengangkat manusia biasa yang tidak menerima wahyu (Imam) di atas derajat para Nabi adalah penghinaan terhadap pilihan Allah atas para Rasul-Nya.


3. Klaim Wahyu dan Ilmu Ghaib bagi Para Imam

Meskipun secara lisan Syiah mengakui bahwa wahyu telah terputus setelah Nabi Muhammad SAW, namun dalam kitab-kitab hadits mereka (seperti Al-Kafi), mereka meyakini para Imam menerima "ilham" atau komunikasi dari langit yang fungsinya sama dengan wahyu. Mereka menyebut para Imam sebagai Muhaddats (orang yang diajak bicara oleh malaikat).

Mereka juga meyakini bahwa para Imam memiliki pengetahuan ghaib mutlak tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Padahal, Allah SWT berfirman:

قُلْلَايَعْلَمُمَنْفِيالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِالْغَيْبَإِلَّااللَّهُ

"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'..." (QS. An-Naml: 65).

Dengan memberikan atribut Alimul Ghaib dan penerima pesan langit kepada Imam, Syiah telah menciptakan "kenabian baru" dengan istilah yang berbeda (Imamah) untuk menghindari kecaman umat Islam secara langsung.


4. Menjadikan Ketaatan kepada Imam sebagai Syarat Iman

Dalam Islam, syarat menjadi mukmin adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, Syiah menyimpangkan konsep ini dengan menjadikan iman kepada para Imam sebagai rukun yang paling menentukan. Mereka meyakini bahwa siapa pun yang tidak mengimani Imamah, maka amal ibadahnya—termasuk shalat, zakat, dan haji—tidak akan diterima oleh Allah, meskipun ia sangat mencintai Rasulullah SAW.

Penyimpangan ini sangat fatal karena:

  • Menambah Rukun Iman: Menambahkan syarat yang tidak pernah disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadits Jibril yang masyhur.

  • Mendegradasi Peran Nabi: Seolah-olah risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW belum cukup untuk menyelamatkan manusia tanpa tambahan pengakuan kepada para Imam.


5. Dampak bagi Akidah Masyarakat Indonesia

Paham yang mengerdilkan kedudukan kenabian ini mulai masuk ke Indonesia melalui narasi-narasi sufistik palsu dan kajian "filosofis" yang mencampuradukkan antara derajat kewalian dengan derajat kenabian. Masyarakat harus waspada karena:

  • Mengikis Pengagungan kepada Nabi: Fokus kecintaan umat dialihkan dari sosok Rasulullah SAW kepada sosok-sosok Imam yang penuh dengan narasi khurafat.

  • Menciptakan Kultus Individu: Umat diajar untuk taat buta kepada tokoh-tokoh yang dianggap sebagai "wakil Imam" dengan ketaatan yang setara kepada Nabi.


Kesimpulan: Menjaga Kemuliaan Khatamun Nabiyyin

Kenabian adalah urusan wahyu yang telah berakhir pada diri Nabi Muhammad SAW. Segala upaya untuk menghidupkan otoritas serupa kenabian melalui doktrin Imamah adalah penyimpangan yang merusak tatanan akidah Islam. Para Imam dari keluarga Nabi (Ahlul Bait) adalah manusia mulia yang harus kita cintai, namun mereka bukanlah manusia maksum, bukan penguasa alam semesta, dan derajat mereka tidak berada di atas para Nabi.

Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaah, menjaga kemurnian konsep kenabian berarti meyakini bahwa tidak ada lagi otoritas "suci" setelah Rasulullah SAW. Petunjuk kita adalah Al-Quran dan Sunnah yang dipahami oleh para Sahabat, bukan "ilham" atau "pesan langit" dari individu-individu yang dikultuskan oleh kelompok Syiah.


(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: