Syiahindonesia.com - Sejarah kejayaan Islam adalah catatan emas mengenai perjuangan Rasulullah ﷺ yang dilanjutkan oleh para sahabatnya dalam menyebarkan cahaya tauhid ke seluruh penjuru dunia. Namun, jika kita menelaah narasi sejarah yang dibangun oleh kelompok Syiah, kita akan menemukan upaya sistematis untuk mendekonstruksi, mendistorsi, bahkan menghapus memori kolektif umat terhadap kegemilangan tersebut. Bagi Syiah, periode kejayaan Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan bukanlah masa keemasan, melainkan masa kegelapan yang penuh dengan pengkhianatan. Upaya penghapusan sejarah ini bertujuan untuk mengganti identitas Islam yang berlandaskan sunnah dengan identitas baru yang berlandaskan dendam sejarah dan pengkultusan imamah.
1. Menafikan Peran Besar Para Khalifah Rasyidin
Kejayaan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin ditandai dengan runtuhnya dua imperium besar, Persia dan Romawi, serta meluasnya wilayah Islam hingga ke Afrika Utara dan Asia Tengah. Namun, Syiah berusaha menghapus keagungan ini dengan narasi bahwa penaklukan-penaklukan tersebut dilakukan oleh para "perampas kekuasaan."
Bagi mereka, ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Umar bin Khattab tidak memiliki nilai spiritual karena tidak dipimpin oleh Imam Ali (menurut klaim mereka). Dengan cara ini, mereka mencoba membuat umat Islam merasa malu atau acuh terhadap sejarah penaklukan yang sebenarnya merupakan kunci tersebarnya Islam ke seluruh dunia, termasuk cikal bakal sampainya Islam ke Nusantara.
2. Mengubah Narasi Pahlawan Menjadi Pengkhianat
Upaya penghapusan sejarah dilakukan dengan cara melakukan pembunuhan karakter (character assassination) terhadap para pahlawan Islam. Sosok seperti Khalid bin Walid, sang "Pedang Allah" yang tak terkalahkan, dalam literatur Syiah digambarkan sebagai sosok yang kejam dan fasik. Begitu pula dengan Amr bin Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Ketika generasi muda Muslim diajarkan untuk membenci para pahlawan yang membawa Islam kepada mereka, maka secara otomatis hubungan emosional dan intelektual mereka dengan sejarah kejayaan Islam akan terputus. Inilah titik awal di mana sejarah Islam yang murni mulai dihapus dan digantikan dengan dongeng-dongeng kesedihan ala Syiah.
3. Penghancuran Kredibilitas Periwayatan Sejarah
Islam memiliki metodologi ilmiah yang ketat dalam pencatatan sejarah melalui ilmu sanad. Syiah berusaha menghapus sejarah kejayaan Islam dengan cara menolak seluruh sumber sejarah yang diriwayatkan oleh mayoritas sahabat. Mereka mengeklaim bahwa para sahabat telah berkonspirasi untuk menyembunyikan kebenaran.
Allah SWT telah memuji para sahabat dalam Al-Qur'an:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia..." (QS. Ali Imran: 110).
Jika "umat terbaik" ini dianggap sebagai pengkhianat sejarah oleh Syiah, maka seluruh catatan kejayaan yang mereka bawa menjadi tidak bermakna. Ini adalah upaya intelektual untuk mengosongkan memori umat dari kebanggaan terhadap masa lalu Islam.
4. Memfokuskan Sejarah Hanya pada Tragedi dan Derita
Sejarah Islam dalam kacamata Syiah hanyalah berisi tentang penindasan terhadap Ahlul Bait. Mereka sengaja mengaburkan pencapaian ilmu pengetahuan, arsitektur, hukum, dan sosial pada masa kekhalifahan Sunni, dan menggantinya dengan fokus berlebihan pada tragedi Karbala.
Meskipun syahidnya Husain bin Ali adalah duka bagi seluruh umat Islam, namun menjadikannya sebagai satu-satunya parameter sejarah adalah bentuk penyempitan makna Islam. Syiah ingin umat Islam selalu merasa sebagai "korban" dan hidup dalam duka abadi, sehingga kehilangan semangat untuk membangun kembali kejayaan sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat terdahulu.
5. Dendam Persia di Balik Jubah Syiah
Para ulama sejarah mencatat bahwa ada unsur dendam nasionalisme Persia (Majusi) yang menyusup dalam ajaran Syiah. Jatuhnya imperium Persia di tangan Umar bin Khattab adalah luka yang tidak pernah sembuh bagi sebagian kalangan. Oleh karena itu, penghapusan sejarah kejayaan Islam Sunni adalah cara bagi mereka untuk membalas dendam atas runtuhnya peradaban Majusi.
Inilah mengapa Umar bin Khattab menjadi sosok yang paling dibenci dalam doktrin Syiah; karena beliaulah yang menghancurkan api Majusi dan menggantinya dengan cahaya Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ
"Seandainya ada nabi setelahku, maka orangnya adalah Umar bin Khattab." (HR. Tirmidzi).
6. Dampak bagi Umat Islam di Indonesia
Di Indonesia, upaya penghapusan sejarah ini masuk melalui film, buku fiksi sejarah, dan diskusi-diskusi akademik yang mencoba menggugat kemapanan sejarah Islam. Mereka mulai mempertanyakan keabsahan para ulama salaf dan mencoba menawarkan narasi alternatif yang pro-Syiah.
Jika hal ini dibiarkan, maka:
Kehilangan Jati Diri: Umat Islam Indonesia akan kehilangan kebanggaan terhadap identitas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Keraguan terhadap Al-Qur'an dan Sunnah: Karena para pembawa sejarah (sahabat) telah dirusak reputasinya.
Perpecahan Bangsa: Munculnya kelompok yang lebih loyal pada narasi sejarah asing (Persia/Syiah) daripada sejarah Islam Nusantara yang lurus.
Kesimpulan
Syiah memang memiliki agenda terselubung untuk mendistorsi dan menghapus sejarah kejayaan Islam yang otentik. Dengan mengkafirkan para sahabat dan mengecilkan pencapaian kekhalifahan Sunni, mereka ingin meruntuhkan bangunan Islam dari akarnya. Sebagai umat Islam yang cerdas, kita harus terus mempelajari sejarah Islam dari sumber-sumber yang terpercaya dan membela kehormatan para sahabat Nabi ﷺ. Sejarah kejayaan Islam adalah milik kita, dan menjaganya dari upaya penghapusan oleh kelompok sesat adalah bagian dari jihad mempertahankan agama.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: