Syiahindonesia.com - Sejarah Islam adalah bagian penting dari pembentukan akidah, hukum, dan identitas umat. Cara memahami peristiwa-peristiwa besar setelah wafatnya Rasulullah ﷺ akan sangat memengaruhi cara seseorang memandang para sahabat, kepemimpinan Islam, hingga legitimasi ajaran agama itu sendiri. Dalam perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah, sejarah Islam dipahami berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan riwayat yang sahih dari para sahabat. Namun dalam doktrin Syiah, banyak peristiwa sejarah ditafsirkan dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan dinilai menyimpang dari metodologi ilmiah yang diakui mayoritas ulama Islam.
1. Sejarah dalam Islam: Berdasarkan Wahyu dan Riwayat Sahih
Dalam Islam, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah bagian dari agama karena berkaitan dengan periwayatan Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Yusuf: 111)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ
“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits ini menjadi dasar bahwa kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali رضي الله عنهم adalah bagian dari jalan petunjuk. Namun di sinilah perbedaan besar muncul.
2. Penafsiran Peristiwa Saqifah: Awal Narasi Konflik
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, terjadi musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah yang menghasilkan pengangkatan Abu Bakar رضي الله عنه sebagai khalifah pertama.
Ahlus Sunnah memandang peristiwa ini sebagai bentuk ijtihad sahabat demi menjaga stabilitas umat.
Namun dalam narasi Syiah, peristiwa ini sering digambarkan sebagai “perebutan kekuasaan” dan “pengkhianatan terhadap hak Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه”.
Padahal Ali sendiri akhirnya berbaiat kepada Abu Bakar, dan tidak ada bukti sahih bahwa beliau memimpin pemberontakan terhadapnya.
Penafsiran konflik permanen inilah yang menjadi fondasi perbedaan sudut pandang sejarah.
3. Tuduhan terhadap Mayoritas Sahabat
Syiah ekstrem meyakini bahwa sebagian besar sahabat telah menyimpang setelah wafat Nabi ﷺ, kecuali segelintir orang.
Pandangan ini bertentangan dengan nash Al-Qur’an:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Jika mayoritas sahabat dianggap menyimpang, maka:
-
Siapa yang menyampaikan Al-Qur’an?
-
Siapa yang meriwayatkan hadits?
-
Siapa yang menjaga agama?
Dalam metodologi sejarah Ahlus Sunnah, para sahabat adalah generasi paling terpercaya.
4. Peristiwa Karbala: Antara Fakta dan Emosi
Tragedi Karbala dan wafatnya Husain bin Ali رضي الله عنه adalah peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam.
Ahlus Sunnah memandang peristiwa ini sebagai konflik politik tragis yang tidak mewakili keseluruhan sahabat atau umat.
Namun dalam narasi Syiah, peristiwa ini dijadikan simbol kezaliman sistematis Sunni terhadap Ahlul Bait.
Akibatnya, sejarah Islam dibingkai sebagai pertarungan abadi antara “kebenaran” (Syiah) dan “kezaliman” (Sunni). Narasi emosional ini memperkuat sentimen sektarian lintas generasi.
5. Konsep Imamah sebagai Kunci Penafsiran Sejarah
Perbedaan terbesar terletak pada konsep imamah.
Dalam Syiah Itsna ‘Asyariyah, imamah adalah bagian dari rukun agama. Para imam dianggap maksum (terjaga dari dosa dan kesalahan).
Akibatnya, seluruh sejarah Islam ditafsirkan dengan asumsi bahwa:
-
Ali adalah satu-satunya pemimpin sah setelah Nabi ﷺ.
-
Kepemimpinan selain jalur imam dianggap tidak sah.
-
Peristiwa sejarah dilihat sebagai penyimpangan dari “hak ilahi”.
Padahal dalam Al-Qur’an tidak ada ayat eksplisit yang menyebutkan nama Ali sebagai pengganti Nabi ﷺ secara tegas.
6. Metodologi Riwayat yang Berbeda
Ahlus Sunnah memiliki ilmu sanad yang ketat dalam menilai keabsahan riwayat.
Syiah memiliki kitab-kitab hadits sendiri seperti Al-Kafi, yang tidak melalui standar kritik sanad yang sama dengan metodologi Sunni.
Perbedaan metodologi ini menyebabkan:
-
Munculnya riwayat-riwayat yang mencela sahabat.
-
Narasi sejarah yang bertolak belakang dengan sumber mayoritas ulama.
7. Dampak Penafsiran Sejarah terhadap Persatuan Umat
Cara menafsirkan sejarah sangat menentukan sikap terhadap sesama Muslim.
Jika sejarah dipahami sebagai pengkhianatan kolektif terhadap Ahlul Bait, maka:
-
Kepercayaan terhadap mayoritas ulama Sunni menjadi runtuh.
-
Dialog antarmazhab menjadi sulit.
-
Potensi konflik ideologis meningkat.
Sebaliknya, Ahlus Sunnah memandang perbedaan politik sahabat sebagai bagian dari ijtihad manusiawi, bukan pengkhianatan akidah.
8. Pentingnya Kembali kepada Manhaj Sahabat
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً... كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan… semuanya di neraka kecuali satu.”
Ketika ditanya siapa mereka, beliau menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan pentingnya mengikuti pemahaman sahabat dalam memahami sejarah dan agama.
9. Antisipasi di Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Sunni perlu:
-
Menguatkan pendidikan sejarah Islam berbasis dalil sahih.
-
Mengajarkan adab terhadap sahabat dan Ahlul Bait secara proporsional.
-
Mendorong literasi kritis terhadap narasi sejarah yang sektarian.
-
Menghindari provokasi emosional dan menjaga stabilitas sosial.
Antisipasi bukan berarti membenci individu penganut Syiah, tetapi menjaga kemurnian pemahaman sejarah Islam sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kesimpulan
Syiah menafsirkan sejarah Islam dengan sudut pandang yang berbeda karena:
-
Menjadikan imamah sebagai fondasi utama sejarah.
-
Menganggap sebagian besar sahabat menyimpang.
-
Menggunakan metodologi riwayat yang berbeda.
-
Membingkai konflik politik sebagai pertarungan teologis abadi.
Perbedaan sudut pandang ini berdampak besar terhadap cara melihat persatuan umat. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia perlu memahami sejarah Islam secara ilmiah, objektif, dan berdasarkan dalil yang sahih agar tidak terjebak dalam narasi yang memperuncing perpecahan.
Semoga Allah ﷻ menjaga umat Islam dari fitnah perpecahan dan memberikan pemahaman yang lurus sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: