Breaking News
Loading...

Sejarah Munculnya Syiah dan Perpecahan dalam Islam

Syiahindonesia.com - Perpecahan dalam sejarah umat Islam merupakan salah satu peristiwa yang sering dibahas oleh para sejarawan dan ulama. Salah satu kelompok yang muncul dalam sejarah tersebut adalah Syiah, yang awalnya berkaitan dengan persoalan politik tentang kepemimpinan umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Seiring berjalannya waktu, perbedaan politik ini berkembang menjadi perbedaan teologi, fiqih, dan akidah yang cukup besar antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Artikel ini akan membahas secara ringkas sejarah kemunculan Syiah serta bagaimana perpecahan tersebut berkembang dalam perjalanan sejarah Islam.


Kepemimpinan Umat Setelah Wafatnya Nabi

Setelah Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 H (632 M), para sahabat menghadapi persoalan penting yaitu siapa yang akan memimpin umat Islam. Para sahabat kemudian bermusyawarah dan sepakat memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama.

Peristiwa ini terjadi di Saqifah Bani Sa’idah, tempat para sahabat berdiskusi dan mengambil keputusan demi menjaga stabilitas umat.

Dalam pandangan Ahlus Sunnah, keputusan ini merupakan bentuk ijma’ sahabat, yaitu kesepakatan para sahabat dalam menentukan pemimpin umat.


Awal Munculnya Kelompok Pendukung Ali

Dalam sejarah Islam, terdapat sebagian kecil kelompok yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi pemimpin setelah Rasulullah ﷺ.

Kelompok ini dikenal sebagai “Syiah Ali”, yang secara bahasa berarti pengikut atau pendukung Ali.

Pada tahap awal, istilah ini lebih bersifat politik, bukan perbedaan akidah. Para pendukung Ali tetap berada dalam komunitas Muslim yang sama dan tidak memiliki doktrin teologis yang berbeda secara signifikan.


Peristiwa Fitnah Besar dalam Sejarah Islam

Perpecahan dalam umat Islam mulai semakin terlihat setelah terjadinya berbagai konflik politik pada masa khalifah ketiga dan keempat.

Beberapa peristiwa penting dalam sejarah tersebut antara lain:

  1. Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 656 M

  2. Perang Jamal antara pasukan Ali dan kelompok yang dipimpin oleh Aisyah, Thalhah, dan Zubair

  3. Perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan

Peristiwa-peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai fitnah kubra (fitnah besar) karena menimbulkan konflik internal yang sangat besar di kalangan umat Islam.


Tragedi Karbala

Salah satu peristiwa paling penting dalam perkembangan Syiah adalah Tragedi Karbala pada tahun 680 M.

Dalam peristiwa ini, Husain bin Ali, cucu Rasulullah ﷺ, terbunuh bersama sejumlah kecil pengikutnya dalam konflik dengan pasukan khalifah Yazid bin Muawiyah.

Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi banyak umat Islam, terutama bagi kelompok yang mendukung keluarga Ali.

Dalam perkembangan berikutnya, tragedi Karbala menjadi salah satu simbol utama dalam identitas teologi Syiah.


Perkembangan Doktrin Syiah

Pada awalnya, Syiah hanya merupakan kelompok politik yang mendukung kepemimpinan Ali dan keturunannya. Namun seiring waktu, muncul berbagai doktrin teologis baru yang membedakan Syiah dari Ahlus Sunnah.

Beberapa doktrin yang berkembang dalam teologi Syiah antara lain:

  • konsep imamah sebagai kepemimpinan ilahi

  • keyakinan tentang dua belas imam

  • konsep kemaksuman imam

  • penafsiran khusus terhadap sejarah sahabat

Doktrin-doktrin ini berkembang secara bertahap dalam beberapa abad pertama sejarah Islam.


Perpecahan Internal dalam Syiah

Menariknya, Syiah sendiri tidak menjadi satu kelompok yang utuh. Dalam sejarahnya, muncul berbagai cabang Syiah dengan keyakinan yang berbeda-beda.

Beberapa kelompok Syiah yang dikenal dalam sejarah antara lain:

  • Syiah Imamiyah (Dua Belas Imam)

  • Syiah Zaidiyah

  • Syiah Ismailiyah

Masing-masing kelompok memiliki pandangan berbeda tentang siapa yang seharusnya menjadi imam setelah Ali.


Sikap Ahlus Sunnah terhadap Para Sahabat

Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, seluruh sahabat Nabi ﷺ dihormati dan dicintai.

Allah ﷻ berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, Allah ridha kepada mereka.”
(QS. At-Taubah: 100)

Karena itu, Ahlus Sunnah berusaha menjaga sikap adil terhadap seluruh sahabat dan menghindari perdebatan yang berlebihan tentang konflik sejarah di antara mereka.


Pentingnya Persatuan Umat

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan umat Islam agar tidak terpecah belah dalam agama.

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa perpecahan adalah salah satu ujian besar bagi umat Islam sepanjang sejarah.


Kesimpulan

Syiah pada awalnya muncul sebagai kelompok politik yang mendukung kepemimpinan Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Namun seiring perkembangan sejarah, perbedaan politik tersebut berkembang menjadi perbedaan teologi yang cukup besar antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Peristiwa-peristiwa penting seperti konflik politik pada masa awal Islam dan tragedi Karbala memainkan peran besar dalam membentuk identitas Syiah.

Memahami sejarah ini secara objektif dapat membantu umat Islam memahami akar perbedaan yang ada serta menjaga persatuan umat di tengah berbagai perbedaan yang terjadi.

Semoga Allah ﷻ mempersatukan hati kaum Muslimin dan menjaga umat Islam dari perpecahan yang merugikan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: