Syiahindonesia.com - Upaya untuk menggeser pondasi Islam yang murni dan menggantikannya dengan konstruksi ideologi baru merupakan misi jangka panjang yang dijalankan oleh kelompok Syiah. Mereka tidak hanya menawarkan perbedaan dalam masalah cabang (furu'), melainkan berusaha merombak total struktur agama, mulai dari sumber otoritas, hukum syariat, hingga rukun iman. Dengan cara-cara yang sistematis, mereka berupaya menciptakan wajah "Islam" yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dipraktikkan oleh para sahabat beliau. Berikut adalah beberapa strategi utama mereka dalam upaya penggantian tersebut:
1. Meruntuhkan Kepercayaan terhadap Sumber Asli (Al-Qur'an dan Hadits)
Langkah awal untuk mengganti sebuah bangunan adalah dengan merusak pondasinya. Syiah berupaya menciptakan keraguan terhadap validitas sumber hukum Islam:
Klaim Tahrif (Perubahan) Al-Qur'an: Melalui kitab-kitab induk mereka (seperti Al-Kafi), mereka menyebarkan narasi bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang tidak lengkap karena dikumpulkan oleh para sahabat yang mereka benci.
Diskreditasi Pembawa Hadits: Dengan mengafirkan mayoritas sahabat Nabi (seperti Abu Bakar, Umar, dan Aisyah RA), secara otomatis mereka membuang ribuan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat tersebut. Hal ini bertujuan agar umat kehilangan panduan Sunnah yang otentik.
2. Mengganti Otoritas Kenabian dengan Otoritas Imamah
Dalam Islam, otoritas wahyu berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Syiah berusaha mengganti konsep ini dengan doktrin Imamah. Mereka meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki maqam yang setara dengan Nabi, bersifat maksum, dan perkataannya adalah hukum yang wajib diikuti layaknya wahyu.
Dengan cara ini, Syiah sebenarnya sedang membangun agama baru di mana pusat ketaatan tidak lagi murni pada Rasulullah SAW, melainkan pada 12 imam yang mereka kultuskan secara berlebihan. Jika perkataan imam bisa menghapus atau mengubah syariat Nabi, maka secara fungsional, posisi Nabi telah digantikan.
3. Dekonstruksi Syariat: Mengubah Ibadah dan Moralitas
Syiah berusaha mengganti praktik ibadah dan standar moral Islam dengan aturan buatan mereka sendiri:
Legalisasi Mut'ah: Mengganti kesucian institusi pernikahan dengan sistem nikah kontrak yang telah diharamkan Nabi hingga hari kiamat. Ini adalah upaya merusak tatanan sosial dan moral umat.
Perubahan Ritual: Mengubah tata cara wudhu, azan, hingga penggabungan shalat secara permanen tanpa uzur. Tujuannya adalah menciptakan identitas pembeda yang eksklusif agar umat terlepas dari jamaah kaum muslimin yang umum.
4. Pengalihan Kiblat Spiritual ke Tanah Karbala
Upaya penggantian juga terlihat dari cara mereka mengalihkan orientasi spiritual umat. Jika Islam menetapkan Ka'bah (Makkah) sebagai pusat ibadah dan tanah suci utama, Syiah membangun narasi bahwa Karbala jauh lebih mulia daripada Makkah.
Mereka menciptakan ritual tahunan yang penuh dengan kesyirikan dan ratapan jahiliyah di makam-makam imam untuk menggantikan kesucian ibadah Haji dan Umrah. Dengan memberikan pahala yang fantastis bagi penziarah kubur imam, mereka perlahan-lahan menjauhkan umat dari Baitullah.
5. Strategi "Taqiyah" untuk Penetrasi Internal
Untuk menggantikan Islam dari dalam, Syiah menggunakan Taqiyah (penyamaran). Mereka menyusup ke lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi Islam dengan berpura-pura menjadi bagian dari Ahlussunnah. Setelah mendapatkan posisi, mereka mulai menyebarkan keraguan terhadap akidah Sunni secara perlahan dan menyusupkan pemikiran-pemikiran Syiah sebagai "alternatif" yang tampak intelektual namun sebenarnya menyesatkan.
Rasulullah SAW telah memperingatkan akan datangnya para penyesat:
"Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku..." (HR. Muslim)
Kesimpulan
Upaya Syiah untuk menggantikan Islam dengan ajaran mereka adalah ancaman nyata terhadap kemurnian akidah. Mereka berusaha memutus hubungan umat dengan generasi sahabat, meragukan kesempurnaan wahyu, dan mengalihkan penghambaan kepada Allah menjadi pemujaan terhadap imam.
Sebagai umat Islam di Indonesia, kita harus tetap waspada dan membentengi diri dengan ilmu yang shahih. Islam telah sempurna dan tidak memerlukan tambahan doktrin Imamah maupun ritual-ritual baru yang menyimpang. Kembali kepada pemahaman Salafus Shalih adalah satu-satunya cara untuk membendung upaya penggantian agama yang sistematis ini.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: