Syiahindonesia.com - Salah satu pilar utama yang memisahkan akidah Islam yang murni dengan paham Syiah Rafidhah adalah doktrin kema’shuman (’ishmah). Syiah mengklaim bahwa 12 Imam mereka suci dari segala dosa, khilaf, bahkan lupa, sejak lahir hingga wafat. Mereka menempatkan para Imam pada derajat yang setara dengan para Nabi dalam hal otoritas keagamaan. Namun, jika kita merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, klaim tersebut runtuh dengan sendirinya. Islam menegaskan bahwa kesucian mutlak hanya milik para Nabi dalam kapasitas mereka menyampaikan wahyu, sedangkan manusia lainnya—termasuk keluarga Nabi (Ahlul Bait) yang mulia—tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Berikut adalah dalil-dalil kuat yang membantah klaim palsu tersebut.
1. Dalil Al-Qur'an: Sifat Ma'shum Hanya Milik Para Nabi
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa fungsi kema'shuman berkaitan erat dengan tugas kenabian untuk menyampaikan risalah tanpa cacat. Setelah Nabi Muhammad SAW dinyatakan sebagai penutup para nabi, maka otoritas kema'shuman tersebut berakhir.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 40:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi."
Ayat ini menegaskan tidak ada lagi otoritas "suci" setelah Nabi. Jika Imam-imam Syiah diklaim maksum dan wajib ditaati layaknya Nabi, maka hal itu secara tidak langsung telah membatalkan status Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi, karena Syiah menciptakan "nabi-nabi baru" dengan label "Imam".
2. Dalil Al-Qur'an: Seluruh Manusia Butuh Ampunan Allah
Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk selalu bertaubat dan memohon ampun, tanpa terkecuali. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia (selain nabi dalam urusan wahyu) yang bersih dari dosa. Allah SWT berfirman:
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31).
Perintah ini bersifat umum ('amm). Jika para Imam itu maksum, tentu mereka tidak perlu bertaubat. Namun, dalam catatan sejarah, Ali bin Abi Thalib dan cucu-cucu beliau adalah orang-orang yang paling banyak beristighfar dan menangis memohon ampun kepada Allah. Klaim kema'shuman Syiah justru menghina kerendahhatian para Ahlul Bait di hadapan Allah.
3. Dalil Hadits: Setiap Anak Adam Pernah Berbuat Salah
Rasulullah SAW secara eksplisit membantah adanya manusia yang suci dari kesalahan selain yang dijaga oleh wahyu. Dalam hadits shahih, beliau bersabda:
"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kata "Kullu" (Setiap) dalam hadits ini mencakup seluruh keturunan Nabi Adam, termasuk para Imam yang diklaim maksum oleh Syiah. Mengecualikan 12 Imam dari hadits ini tanpa dalil dari Nabi adalah bentuk pemaksaan akidah dan pendustaan terhadap sabda Rasulullah SAW.
4. Dalil Sejarah: Pengakuan Ali bin Abi Thalib RA
Dalam literatur sejarah yang diakui semua pihak, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tidak pernah mengklaim dirinya maksum. Bahkan, dalam sebuah khutbah yang tercatat (bahkan dalam kitab Nahjul Balaghah yang sering mereka gunakan), Ali berkata:
"Janganlah kalian berbicara kepadaku seperti cara berbicara kepada penguasa yang diktator... dan janganlah kalian menganggapku tidak mungkin berbuat salah, karena aku bukanlah orang yang berada di atas kesalahan."
Jika sosok yang mereka klaim sebagai Imam pertama saja menolak kema'shuman bagi dirinya sendiri, maka atas dasar apa kelompok Syiah tetap memaksakan doktrin tersebut? Ini menunjukkan bahwa doktrin kema'shuman adalah hasil rekayasa murni para tokoh Syiah belakangan untuk kepentingan politik.
Perbedaan Prinsip Ma'shum: Islam vs Syiah
Bahaya Meyakini Kema'shuman Imam
Meyakini kema'shuman Imam bukan sekadar masalah istilah, melainkan memiliki dampak yang merusak:
Pintu Gerbang Kesyirikan: Karena penganutnya akan memberikan sifat-sifat ketuhanan (seperti tidak pernah lupa dan tahu hal ghaib) kepada makhluk.
Membatalkan Fungsi Al-Qur'an: Jika Imam maksum, maka perkataan Imam menjadi rujukan utama meskipun bertentangan dengan ayat Al-Qur'an yang dzahir.
Kultus Individu: Menghilangkan sikap kritis umat terhadap pemimpin, sehingga para mullah Syiah bisa mengendalikan pengikutnya dengan dalil "instruksi Imam".
Kesimpulan
Klaim kesucian atau kema'shuman Imam-imam Syiah adalah batil berdasarkan dalil Al-Qur'an, Hadits, maupun perkataan para Ahlul Bait sendiri. Ahlul Bait adalah manusia-manusia mulia yang wajib kita cintai, namun mereka bukanlah tuhan maupun nabi. Mereka adalah teladan dalam ketaatan, dan ketaatan tertinggi adalah mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Suci. Mari kita jaga akidah kita dari pengultusan makhluk yang melampaui batas.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: