Breaking News
Loading...

Mengapa Sunni Tidak Bisa Menerima Konsep Akidah Syiah?


Syiahindonesia.com – Perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dan Syiah bukan sekadar perbedaan furu’ (cabang), melainkan menyentuh inti akidah yang paling mendasar. Karena itulah, Sunni tidak dapat menerima konsep akidah Syiah yang dibangun di atas fondasi yang bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, ijma’ sahabat, serta manhaj para ulama salaf. Di Indonesia, pemahaman yang jernih mengenai perbedaan akidah ini menjadi sangat penting agar umat Islam tidak terjebak dalam narasi “perbedaan mazhab biasa” yang menutupi penyimpangan prinsipil dalam iman dan ibadah.


Akidah dalam Islam Harus Bersumber dari Wahyu

Dalam Islam, akidah tidak boleh dibangun atas asumsi politik, klaim nasab, atau figur tertentu, melainkan murni dari wahyu: Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ dengan pemahaman para sahabat. Allah ﷻ berfirman:

﴿فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾
“Kemudian jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa’: 59)

Ahlus Sunnah memahami ayat ini sebagai kewajiban mengembalikan seluruh persoalan akidah dan ibadah kepada Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Sementara itu, Syiah justru menambahkan sumber lain yang tidak diakui oleh Islam, seperti otoritas imam-imam yang mereka klaim maksum.


Konsep Imamah yang Bertentangan dengan Tauhid

Pilar utama akidah Syiah adalah imamah, yaitu keyakinan bahwa imam-imam tertentu memiliki kedudukan khusus yang bersifat ilahiah, maksum dari dosa dan kesalahan, serta menjadi satu-satunya otoritas penafsir agama. Dalam praktiknya, imamah ditempatkan sejajar atau bahkan di atas kenabian dalam urusan kepemimpinan dan penetapan hukum.

Konsep ini tidak dikenal dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan adanya imam maksum setelah beliau. Justru beliau bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ»
“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan setelah Nabi ﷺ adalah kepemimpinan manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah, bukan figur maksum sebagaimana klaim Syiah.


Penghinaan terhadap Sahabat Nabi ﷺ

Akidah Syiah juga tidak dapat diterima oleh Sunni karena mengandung penghinaan dan pengkafiran terhadap mayoritas sahabat Nabi ﷺ, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم. Padahal Al-Qur’an secara tegas memuji para sahabat:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ… رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾
“Orang-orang yang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar… Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Bagaimana mungkin Sunni menerima akidah yang menuduh para sahabat sebagai pengkhianat, sementara Al-Qur’an menyatakan Allah ridha kepada mereka? Penghinaan terhadap sahabat sejatinya adalah penghinaan terhadap Islam itu sendiri, karena merekalah yang menyampaikan Al-Qur’an dan sunnah kepada umat.


Penolakan terhadap Hadis-Hadis Shahih

Ahlus Sunnah menerima hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh para sahabat dan dihimpun oleh para ulama hadis seperti Imam Bukhari dan Muslim. Syiah, sebaliknya, menolak sebagian besar hadis shahih karena diriwayatkan oleh sahabat yang mereka benci. Akibatnya, mereka membangun akidah dan ibadah berdasarkan riwayat-riwayat lemah, bahkan palsu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Penolakan hadis shahih dan penggunaan riwayat palsu adalah bentuk penyimpangan akidah yang serius dan tidak bisa ditoleransi oleh Sunni.


Penyimpangan dalam Konsep Tauhid dan Doa

Akidah Syiah juga bermasalah dalam aspek tauhid, khususnya dalam praktik doa dan permohonan. Sebagian Syiah berdoa kepada imam-imam yang telah wafat, meminta pertolongan, rezeki, dan keselamatan. Praktik ini jelas bertentangan dengan tauhid uluhiyyah.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)

Sunni menolak segala bentuk perantara dalam doa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, apalagi meminta kepada orang mati.


Pemalsuan Sejarah sebagai Dasar Akidah

Syiah membangun akidahnya dengan memutarbalikkan sejarah Islam, terutama peristiwa-peristiwa pasca wafatnya Nabi ﷺ. Konflik politik diubah menjadi konflik akidah, sehingga pilihan ijtihad para sahabat dianggap sebagai bukti kekufuran. Padahal Ahlus Sunnah memandang perselisihan sahabat sebagai ijtihad yang tetap berada dalam koridor iman.

Pemalsuan sejarah ini berbahaya karena membentuk kebencian, dendam, dan permusuhan antar sesama Muslim, sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam.


Akidah Syiah Mengancam Persatuan Umat

Karena konsep akidahnya, Syiah cenderung memisahkan diri dari mayoritas umat Islam, mengklaim kelompoknya sebagai satu-satunya yang selamat, dan memandang Sunni sebagai musuh ideologis. Sikap ini bertentangan dengan prinsip persatuan umat yang diajarkan Islam.

Allah ﷻ berfirman:

﴿إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً﴾
“Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu.”
(QS. Al-Anbiya’: 92)

Persatuan hanya bisa terwujud jika akidahnya benar dan bersumber dari wahyu, bukan dari doktrin politik yang disakralkan.


Kesimpulan

Sunni tidak bisa menerima konsep akidah Syiah karena akidah tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, ijma’ sahabat, dan manhaj para ulama salaf. Konsep imamah, penghinaan terhadap sahabat, penolakan hadis shahih, penyimpangan tauhid, serta pemalsuan sejarah adalah bukti nyata bahwa akidah Syiah bukan bagian dari Islam yang murni. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia wajib waspada, memperkuat pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan tidak tertipu oleh propaganda yang membungkus penyimpangan akidah dengan istilah cinta Ahlul Bait.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: