Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sepanjang pengalaman saya belajar di lapangan, saya telah dua kali menemui masjid Syiah secara tidak sengaja. Sekali di Indonesia dan lagi di Filipina selatan. Saya memasuki kedua masjid dengan tujuan menemukan manuskrip.

Beberapa sejarawan mengklaim bahwa kedatangan Islam ke Nusantara dibawa oleh kaum Shiah. Di antara mereka adalah Dr Mahyuddin Yahya dan Ali Hasymi. Dasar klaim mereka didasarkan pada isi buku Izharul Haq Fi Mamlakatil Firlak oleh Abu Ishaq al-Makarani Sulaiman al-Pasi.

Dalam buku ini dinyatakan bahwa pada abad ke-9, sebuah kelompok misionaris yang terdiri dari cucu Imam Jaafar as-Siddiq, Ali bin Muhammad bin Jaafar As Siddiq, telah mencapai Perlak. Dari fakta ini mereka terus menyimpulkan bahwa kelompok ini adalah orang-orang Syiah.

Fakta ini menurut saya salah dan fatal sekali. Tuduhan ini muncul dari kebingungan para sejarawan dalam membedakan antara Syiah dan Ahlul Bait (keturunan Nabi).

Tuduhan bahwa pengkhotbah Syiah yang membawa Islam ke nusantara ditolak oleh banyak sejarawan lainnya seperti Prof Azyumardi Azra, Buya Hamka, Prof Syed Naquib al-Attas dan lainnya. Jelas, membawa Islam ke Nusantara adalah sekelompok ulama dan pedagang Arab yang ASWJ Asya'irah dan Syafiq.

Ada banyak bukti yang memperkuat klaim ini. Di antara bukti yang paling jelas adalah sumber-sumber primitif yaitu Ibnu Batutah dan Batu Terengganu.

Ibn Batutah dengan jelas mencatat bahwa umat Islam di Samudera Pasai berpegang erat pada Mazhab Syafie. Dalam brosur Ibnu Batutah Rihlah dicatat sebagai berikut: -

"Dia adalah Sultan Al Malik Al Zahir, salah satu raja yang memiliki keunggulan selain yang murah hati. Dia mengabdi pada Syafie dan mencintai fuqaha '... Yang Mulia juga memiliki Syafie. "
Di Batu Bersurat Terengganu dicatat bahwa: -

"Rasulullah dengan roh santabi mereka. Asa dalam Keagungan Yang Mulia memberi saya keyakinan Islam. "Kata 'santabi santabi' adalah kata Melayu kuno yang diterjemahkan sebagai pendamping dan tabi'in.

Selain itu, tulisan-tulisan para sarjana masa lalu di kepulauan juga membuktikan bahwa mereka sepenuhnya menyadari ASWJ dan Syafie. Sarjana besar abad ke-17 Aceh, Sheikh Nuruddin Al Raniri, telah menulis sebuah puisi yang menyatakan bahwa ulama Nusantara menyetujui kemuliaan Sayyidina Ali dan Muawiyah bin Abu Sufyan رضي الله عنهما. Puisi itu berbunyi: -

Muafakat ulama sekalian syaikh,
Begini dikatakan kalam ceritera,
Saidina Ali dan Muawiyah,
Pada Allah pangkat besar,
Siapa yang mencerca keduanya itu,
Dari Tuhan mendapat murka.

Dengan demikian, berdasarkan penelitian saya, ikatan Syiah di Nusantara (kehadiran masjid Syiah dan munculnya religius Syiah) memulai revolusi pasca-Iran. Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, saya telah menemukan manuskrip penulis naskah Syafie abad ke-19 di cadangan seorang tokoh Syiah. Rupanya naskah itu ditulis oleh kakeknya. Dia mengaku mulai menahan Syiah setelah menetap di Iran.

Beberapa jarang mengklaim penamaan tanaman Nusantara, tongkat ali dan bukti provokatif masyarakat Nusantara untuk berlatih dengan Syiah. Tuduhan seperti itu sangat lucu dan hanya membuktikan sifat orang buta. Saya akan membagikan ini di 'pos' berikutnya. Sumber: Thepatriots.asia

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

0 komentar: