Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sebelum adanya Ubaidilah Al-Mahdi, semua pengikut Ismailiyah meyakini kemahdian Muhammad bin Ismail. Namun, setelah Ubaidilah Al-Mahdi menyebut dirinya sebagai Imam, dengan sendirinya ia telah menafikan kemahdian Muhammad bin Ismail. Pengangkatannya sebagai Imam ditentang keras oleh Hamdan Qarmath. Ia adalah salah satu penyeru (Da’i) kelompok Ismailiyah pada zaman itu.

Hamdan Qarmath tidak mengakui keimamahan Ubaidilah Al-Mahdi. Ia tetap percaya dengan keimamahan Muhammad bin Ismail sekaligus membentuk kelompok baru yang bernama Qaramathiah. Dari sinilah awal mula terbentuknya sub-aliran Shi’ah Isma’iliyyah yang bernama Qarmathiah.

Di sisi lain para penyeru kelompok Ismailiyah yang berada di Afrika Utara yang setia dengan Ubaidilah Al-Mahdi. Mereka memintanya ke sana untuk kemudian bersama-sama membentuk pemerintahan Fathimiyah. Ubaidilah Al-Mahdi dan pengikutnya menganggap Qaramithah merugikan Ismailiyah.

Kaum Qarmathiyyah melakukan terorisme dan kejahatan-kejahatan yang mengerikan sehingga membangkitkan kemarahan dan ketakutan. Mereka kemudian ditindas dan lama kelamaan hilang dari masyarakat. Namun propagandis-propagandis Isma’iliyyah untuk “keluarga Fathimah” telah memanfaatkan gerakan Qarmathiyyah ini, dan di atas puing-puing kehancurannya membangun dinasti Fathimiyyah di Afrika Utara dan Mesir.

Qaramithah tetap meyakini bahwa Muhammad bin Ismail adalah Imam ketujuh dan yang terakhir. Senantiasa mereka menanti munculnya Imam yang selama ini tersembunyi. Sikap ini membuat Qaramithah juga terkadang disebut Waqifiyah. Hal itu dikarenakan mereka terhenti pada kondisi ini. Terkadang juga mereka disebut Sab’iyah (Tujuh Imam). Ketujuh Imam mereka adalah; Ali selaku Imam dan Nabi, Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhamamd dan Muhammad bin Ismail sebagai Mahdi. Peradabandansejarah.blogspot.co.id

0 komentar: