Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Berangkat dari doktrin yang rusak dan absurd, sekte Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin. Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada seorang pun yang sanggup mengingkarinya. Berikut yakni diantara sebagian ‘kecil’ catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para mahir sejarah Islam. Mudah-mudahan kita sanggup mengambil pelajaran dan berhati-hati, alasannya sejarah seringkali terulang.

Jatuhnya Kota Bagdad

Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang dikala itu menjadi sentra peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari tugas dua orang Syi’ah. Yang pertama yakni seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang berjulukan Mu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua yakni spesialis nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu.

Pada tamat kepemimpinan khalifah Mustanshir, jumlah pasukan Bani Abbasiyyah mencapai seratus ribu pasukan. Sepeninggal Mustanshir dan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muktashim, Ibnul Alqamy menciptakan usulan-usulan kepada khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya. Hal itu pun diikuti oleh khalifah. Padahal itu merupakan seni administrasi untuk melemahkan kekuatan pasukan. Hingga balasannya jumlah pasukan hanya sepuluh ribu saja.

Pada dikala yang sama, Ibnul Alqami menjalin hubungan gelap dengan Hulagu. Ia sering menulis surat kepada Hulagu dan memberinya motivasi untuk mengusai Baghdad serta berjanji akan membantunya sambil menggambarkan kondisi pertahanan Bagdad ketika itu yang semakin melemah. Itu semua ia lakukan demi memberantas sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah dan mengganti kekuasaan dari Bani Abbasiyyah kepada Alawiyyah.

Pasukan Hulagu pun lalu bergerak menuju Bagdad. Pasukan Khalifah gres menyadari bahwa Tatar telah bergerak masuk. Upaya penghadangan Tatar yang dilakukan oleh khalifah gagal hingga balasannya Tatar berhasil menguasai sebagian wilayah Bagdad. Dalam kondisi itu, Ibnul Alqami mendatangi Hulagu dan menciptakan perencanaan dengannya lalu kembali kepada khalifah Muktashim dan mengusulkan kepadanya untuk melaksanakan perdamaian seraya berkata bahwa Hulagu akan tetap memberinya kekuasaan sebagaimana yang Hulagu lakukan terhadap penguasa Romawi. Ia pun berkeinginan menikahkan putrinya dengan anak pria kahlifah yang berjulukan Abu Bakar. Ia terus mengusulkan biar penawaran itu disetujui oleh khalifah. Maka khalifah pun berangkat dengan membawa para pembesar pemerintahannya dalam jumlah yang sangat banyak (dikatakan sekitar 1200 orang)

Khalifah menempatkan rombongannya di sebuah tenda. Lalu menteri Ibnul Alqami mengundang para mahir fikih dan tokoh untuk menyaksiakan janji pernikahan. Maka berkumpulah para tokoh dan guru Bagdad yang diantaranya yakni Muhyiddin Ibnul Jauzi beserta anak-anaknya untuk mendatangi Hulagu. Sesampainya di tempat Tatar, pasukan Tatar malah membunuhi mereka semua. Begitulah setiap kelompok dari rombongan khalifah tiba dan dibantai habis semuanya. Tidak cukup hingga disitu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang tersisa dari penduduk kota Bagdad kecuali yang bersembunyi. Hulagu juga membunuh khalifah dengan cara mencekiknya atas nasehat Ibnul Alqami.

Pembantaian Tatar terhadap penduduk Bagdad berlangsung selama empat puluh hari. Satu juta korban lebih tewas dalam pambantaian ini. Kota Bagdad hancur berdarah-darah, rumah-rumah porak-poranda, buku-buku peninggalan para ulama dibakar habis dan Bagdad pun jatuh kepada penguasa kafir Hulagu Khan.

Selain tugas Ibnul Alqami, kejadian ini juga tidak lepas dari tugas seorang Syi’ah lainnya berjulukan Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari jauh-jauh hari telah mensugesti Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]

Artikel berlanjut ke halaman berikut: Konspirasi Syi’ah Ubaidiyyah dan Pasukan Salib

[dinukil dari Tuhfatul Azhar wa Zallaatu al Anhar, Ibnu Syaqdim As-Syi’i via al Masyru’ al Irani al Shafawi al Farisi, hal. 20 -21]

Wallahu ‘alam wa Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir, Da’i di Islamic Center Bathah Riyadh KSA)
Artikel Muslim.Or.Id

0 komentar: