Breaking News
Loading...




 Oleh Zulkarnain El-Madury

Dalam sebuah pernyataan Syiah untuk menyudutkan Aisyah sebagai Istri Rasulullah dan Ummul Mukminin mengatakan : Aisyah tidak layak menyandang Istri Rasulullah Dunia dan Akhirat karena mengajak orang memberontak kepada Ali bin Abi Thalib, Aisyah telah bughat [ membangkang dan memberontak ] kepada  Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Layaknya Aisyah kalau di sebut pembangkang dan durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya . Begitu celotehnya mulut mulut najis Syiah terhadap Aisyah Radhiallahu’anha. 

Dalam sebuah hadits yang disimpulkan Syiah, sengaja menggunakan otak Persia yang sangat anti kepada para sahabat.[ Judulnya tetap masalah kehormatan Yazdagard dimata Syiah bukan Ahlul bait Rasulullah, tetapi Ahlul Bait Yazdagard III sebagai mertua Husein]. Mereka ingin Aisyah dikeluarkan dari barisan Islam sebagai ummul mukminin  yang tentu lebih utama dari semua manusia setelah Rasulullah sebagaimana firman Allah dalam surat Ahzab 6

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka [Al Ahzab 6]

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan maknanya seperti ini:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ"
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka —dan Nabi adalah bapak mereka—

Penjelasan Ibnu Abbas tersebut memberikan makna kalau Nabi ayah sedangkan Aisyah adalah Ibunya kaum Mukminin, bukan mukminat, karena kata mukminat terbatas hanya kepada ibu kaum wanita, atau bersifat khusus. Sedangkan mukminin bersifat umum, bisa siapa saja dari kalangan mukmi dan mukminan [ laki dan perempuan ]

Apalagi dalam jajaran Ahlul bait seorang Istri pasti adalah ahlul bait. Bukan sebagaimana Syiah yang mengeluarkan istri istri mereka bukan dari keluarga rumah mereka.  Karena mereka tidak meletakkan kaum istri sebagai bagian dari Ibu anak anak mereka, tetapi sebagai wanita sewaan.
Jadi Posisi Aisyah bagi rasululllah adalah Ahlul bait, selain berkedudukan sebagai Ibu kaum mukminin sebagaimana hadits berikut ini.

قَالَ أَنَسٌ وَشَهِدْتُ وَلِيمَةَ زَيْنَبَ فَأَشْبَعَ النَّاسَ خُبْزًا وَلَحْمًا وَكَانَ يَبْعَثُنِي فَأَدْعُو النَّاسَ فَلَمَّا فَرَغَ قَامَ وَتَبِعْتُهُ فَتَخَلَّفَ رَجُلَانِ اسْتَأْنَسَ بِهِمَا الْحَدِيثُ لَمْ يَخْرُجَا فَجَعَلَ يَمُرُّ عَلَى نِسَائِهِ فَيُسَلِّمُ عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَيْفَ أَنْتُمْ يَا أَهْلَ الْبَيْتِ فَيَقُولُونَ بِخَيْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ وَجَدْتَ أَهْلَكَ فَيَقُولُ بِخَيْرٍ فَلَمَّا فَرَغَ رَجَعَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ فَلَمَّا بَلَغَ الْبَابَ إِذَا هُوَ بِالرَّجُلَيْنِ قَدْ اسْتَأْنَسَ بِهِمَا الْحَدِيثُ فَلَمَّا رَأَيَاهُ قَدْ رَجَعَ قَامَا فَخَرَجَا فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِي أَنَا أَخْبَرْتُهُ أَمْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ بِأَنَّهُمَا قَدْ خَرَجَا فَرَجَعَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ فَلَمَّا وَضَعَ رِجْلَهُ فِي أُسْكُفَّةِ الْبَابِ أَرْخَى الْحِجَابَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ { لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ } الْآيَةَ}
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abi Syaibah] telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] telah menceritakan kepada kami [Tsabit] dari [Anas] berkata; "Saya pernah menyaksikan pernikahan Zainab, dan ia telah membuat semua manusia tamu undangan kenyang dengan roti dan daging. beliau sendiri yang menyuruhku untuk mengundang semua manusia. Ketika acara telah usai, beliau berdiri dan saya mengikuti beliau, ternyata ada dua orang lelaki yang ketinggalan, keduanya tidak keluar karena masih berbincang-bincang. Kemudian beliau melewati rumah isteri-isteri beliau dan mengucapkan salam kepada masing-masing dari mereka, lalu beliau bertanya: "Bagaimana keadaan kalian wahai ahlul bait?" Mereka pun menjawab; "Kami baik-baik saja wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi: "Bagaimana keadaan keluarga kalian?" "Baik-baik saja, " jawab mereka. Ketika dirasa cukup, beliau pun pulang dan saya juga ikut pulang bersama beliau. Ketika sampai di depan pintu rumah, ternyata kedua orang lelaki itu masih berada di situ sedang berbincang-bincang. Ketika keduanya melihat beliau telah kembali, mereka berdua berdiri lalu keluar. Demi Allah saya tidak tahu apakah saya telah memberitahukannya kepada beliau atau beliau telah menerima wahyu, kalau keduanya telah keluar. Maka beliau segera pulang dan saya pulang bersama beliau. Ketika beliau hendak menginjakkan kaki beliau di satu sisi pintu, tertutuplah hijab antara saya dan beliau, lalu Allah menurunkan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan…"  [Hadits Muslim No.2565]

Pada riwayat Imam Bukhari lafadznya sedikit berbeda, menyebut namanya langsung, misalnya sebagaimana potongan hadits berikut :
فَانْطَلَقَ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ فَقَالَ: «السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Maka ketika sampai di kamar Aisyah, Rasulullah bersabda : Assalamu’alaikum Ahlal bait Warahmatullah. { Bukhari 4793] 

Tentunya berbeda bagi Syiah yang sengaja membatasi kata “ahlul bait” hanya pada orang orang tertentu, tidaklah berlaku bagi sunni, karena Semua bercampur darah Rasulullah adalah Ahlul baitnya, termasuk Aisyah yang dinista oleh Syiah sebagai wanita gatal. 

Pada lingkup hadits ini jelas bahwa yang dimaksud Ahlul bait semua yang tidur dengan Nabi termasuk anak dan menantunya. Tidak melokal hanya pada anak, menantu dan cucunya yang tertentu saja, tetapi semua keturunan Rasulullah  dan istrinya sama sama ahlul bait, yang berada dalam pengawasan Allah dan rasul-Nya. 

Soal tuduhan Syiah kalau Aisyah menentang dan membangkang Ali atas tanggapan syiah terhadap ucapan Ammar petugasnya Hasan bin Ali, yang menyimpulkan kalau Aisyah adalah pembangkang Allah adalah keliru besar. Berikut kisahnya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَرْيَمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ الْأَسَدِيُّ قَالَ لَمَّا سَارَ طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَائِشَةُ إِلَى الْبَصْرَةِ بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ وَحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ فَقَدِمَا عَلَيْنَا الْكُوفَةَ فَصَعِدَا الْمِنْبَرَ فَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَوْقَ الْمِنْبَرِ فِي أَعْلَاهُ وَقَامَ عَمَّارٌ أَسْفَلَ مِنْ الْحَسَنِ فَاجْتَمَعْنَا إِلَيْهِ فَسَمِعْتُ عَمَّارًا يَقُولُ إِنَّ عَائِشَةَ قَدْ سَارَتْ إِلَى الْبَصْرَةِ وَ وَاللَّهِ إِنَّهَا لَزَوْجَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ابْتَلَاكُمْ لِيَعْلَمَ إِيَّاهُ تُطِيعُونَ أَمْ هِيَ

Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Adam] telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin 'Iyyasy] telah menceritakan kepada kami [Abu Hashin] telah menceritakan kepada kami [Abu Maryam Abdullah bin Ziyad Al Asadi] menuturkan; Tatkala Thalhah, Zubair dan 'Aisyah berangkat ke Bashrah, Ali mengutus 'Ammar bin Yasir dan Hasan bin Ali mendatangi Kami di Kufah, lantas keduanya naik minbar. Ketika itu Al Hasan bin Ali diatas minbar di tangga paling atas, sedang Ammar berdiri dibawah Al Hasan, kami berkumpul di sekelilingnya, dan aku mendengar ['Ammar] mengatakan; 'Aisyah tengah berangkat ke Bashrah, demi Allah, ia adalah isteri Nabi kalian (Shallallahu'alaihiwasallam) di dunia dan di akherat, namun Allah Tabaraka wata'ala menguji kalian agar Dia mengetahui, apakah kalian taat kepada-NYA atau kepada Aisyah. [Bukhari 6571]

Perkataan  :   لِيَعْلَمَ إِيَّاهُ تُطِيعُونَ أَمْ هِيَ  oleh mereka dijadikan modal untuk menyudutkan Aisyah, seolah ucapan Ammar itu adalah ucapan Nabi, padahal itu ucapan Ammar yang tumpang tindih dengan riwayah lainnya. Misalnya kata “إِيَّاهُdimaknai Allah, ada juga menurut kaidah arab lainnya maksudnya adala “Ali” sebab ada yang menulis dengan Dhomir اياها  yang tentu saja maknanya makhluk bukan Allah. Tetapi bagaimanapun itu bukan perkataan atau Firman Allah atau sabda Nabi. Tetapi perkataan Ammar yang tidak lepas dari kemampuan berbahasa dan cerdas. Jelasnya tidak dimaksudkan untuk menghina Aisyah.

Aisyah adalah Ibu Mertua dari Ali bin Abi Thalib, apa bisa dikatakan membangkang. Sedangkan Aisyah dapat jaminan nabi, kalau Aisyah kelak istrinya di Surga ?. maksudnya nubuat Nabi itu tidak akan berlaku menurut Syiah, karena sebab pembangkangan Aisyah pada Ali. Simpulan Syiah ini adalah cerminan akal Syiah yang digunakan sebagai hukum mementahkan hadits Nabi. Bahwa Nabi turut berdusta atas tuduhan Syiah kepada Aisyah yang dinyatakan pembangkan. Apakah mungkin Nabi berkata dusta, bahwa dia istrinya di Akhirat kelak ?. berarti seorang Nabi perkataannya tidak makshum kalau membenarkan perkataan Ammar sebagaimana yang ditafsirkan Syiah. Disinilah Syiah telah melakukan kebohongan publik, mengakali perkataan Nabi menurut rekayasa otaknya yang najis dan kotor. 

Justru kalau Ali tidak memahami Aisyah dan misalnya menjatuhkan vonis Aisyah adalah pembangkang, maka jadilah Ali sebagai anak yang durhaka pada Ibunya. Meskipun Asiyah adalah Ibu Tiri, statusnya dalam Islam adalah Ibunya. Kalau Syiah mencoba menyalahkan Aisyah dan mempolitiser perkaan Ammar sebagai kutukan pada Aisyah, karena mereka mengikuti pikiran orang yang otaknya rusak. Sehingga menghasilkan tafsir rekayasa yang mencoba menimbulkan konflik pemikiran ditengah Islam. 

Sedang menurut Aquran dan Rasul-Nya
1.      Aisyah orang terpelihara.
2.      Aisya orang yang dilindungi Allah sampai kelak jadi Istri Rasulullah di Akhirat
3.      Jaminan Allah terhadapnya bersifat makshum, terlindungi dari aib dan dosa, sekalipun Syiah mencoba membuat gambaran Aisyah yang kotor.
4.      Aisyah adalah Ibu kaum Mukminin
5.      Sebagai istri dunia dan Akhirat, jelas perkataan Rasulullah adalah nubuwat dan pasti terjadi. Justru kalau menyalahkan Aisyah, berarti merusak nubuwat Nabi. Menuduh Nabi tidak makshum, karena nikah dengan Aisyah terlaknat [sebagaimana syiah]
6.      Satu sisi Syiah meyakini kemakshuman Nabi Muhammad yang tidak mengikuti hawa nafsu, terbimbing wahyu, ketika Aisyah dituduh dengan bermacam-macam tuduhan, sama halnya Syiah menodai kemakshuman Nabi.
7.      Tidaklah benar kalau kemudian Aisyah menentang dan membangkang Ali, karena posisinya Aisyah sendiri sebagi mertua dan Ibu Ali. Kalau larut dalam pemikiran Syiah dan bermakmum kepada mereka

Sedangkan data data valid terkait Aisyah, adalah Ali bin Abi Thalib sangat memulyakan Aisyah, bukan berita sebagaimana yang di sebarkan Syiah. Berita berita mereka penuh dengan kedustaan, kebohongan dan kemunafikan.

Data-data sejarah yang valid berikut menjelaskan demikian:

  1. Pada suatu hari, setelah terjadinya Waq`atul Jamâl, datanglah amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengunjungi ummul mukminn Aisyah RA, maka Ali pun bertanya: “apa kabar mu wahai ibunda?”. Maka ummul mukminin Aisyah RA menjawab: “Alhamdulillah dalam keadaan baik”. Maka Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Semoga Allah SWT memberikan pengampunan kepadamu wahai ibunda”. (Ath-Thabarani dalam kitab Tarikh [3/55]). Lihat pula: al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibn Katsir [10/468]).
  2. Imam Ibn Jarir ath-Thabari menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang memberikan isyarat kepada beberapa pasukannya agar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin dilumpuhkan dan dibunuh saat terjadi Waq`atul Jamâl. Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA menyeru kepada mereka: اُعْقُرُوا الْجَمَلَ؛ فَإِنَّهُ إِنْ عُقِرَ تَفَرَّقُوْا (lumpuh dan bunuh itu unta yang dinaiki oleh ummul mukminin, sebab, kalau unta itu terbunuh, niscaya pasukan yang ada di sekelilingnya akan membubarkan diri) [Tarikh Thabari 3/47]. Tafsir atas perintah Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA ini adalah agar ummul mukminin Aisyah RA dalam keadaan selamat, sebab, saat itu unta dan penumpangnya, yaitu ummul mukminin Aisyah RA menjadi pusat sasaran anak panak dari pasukan “gelap” yang menyusup di barisan Ali dan yang menyusup di barisan ummul mukminin. Dan benar saja prediksi Ali bin Abi Thalib RA, bahwa begitu unta tersebut terbunuh dan ummul mukminin terselamatkan, bubarlah pasukan yang mengelilinginya.
  3. Secara simultan, saat amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengeluarkan perintah isyarat untuk membunuh unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah RA, Ali juga memerintahkan kepada Muhammad bin Abu Bakar, yang tidak lain adalah saudara kandung ummul mukminin Aisyah RA dengan dibantu oleh beberapa orang lainnya, agar Muhammad bin Abu Bakar membawa pergi haudaj (“rumah” di atas unta) yang di dalamnya ada ummul mukminin Aisyah RA untuk dibawa pergi menjauh dari pasukan kedua belah pihak, dan Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Muhammad bin Abi Bakar agar memeriksa haudaj kalau-kalau ada anak panah atau senjata lainnya yang bisa melukai ummul mukminin Aisyah RA. ([Tarikh Thabari 3/73], [al-Bidayah wan-Nihayah 10/468]).
  4. Pada saat Waq`atul Jamâl telah selesai, dan ummul mukminin Aisyah RA hendak meninggalkan kota Bashrah (sebuah kota di Iraq), untuk kembali ke Madinah, amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengirimkan segala yang diperlukan oleh ummul mukminin, mulai dari kendaraan yang akan dinaiki, perbekalan, barang-barang lain yang diperlukan, dan juga pengawalan. Juga 40 wanita Bashrah dari “tokoh-tokoh” wanita Bashrah serta menunjuk Muhammad bin Abu Bakar, saudaranya, agar dia yang menjadi pimpinan pengawal perjalanan ummul mukminin Aisyah RA. Dan pada saat hari keberangkatan tiba,amirul mukminin Ali bin Abi Thalib mendatangi tempat pemberangkatan ummul mukminin Aisyah RA. Setelah semuanya siap, ummul mukminin keluar dari “rumah” tempat keberangkatan, dan berpamitan dengan semua yang hadir, dan berpamitan juga dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA seraya berkata: “wahai putraku, janganlah ada di antara kita yang saling mencela, demi Allah, apa yang pernah terjadi antara aku dan Ali di masa lalu (di masa hidup Rasulullah SAW), tidak lain hanyalah “peristiwa” antara seorang perempuan dengan keluaga (mantu), dan demi Allah, aku bersaksi bahwa Ali termasuk ahlul khair”. Maka Ali RA-pun berkata: “Demi Allah, apa yang ibunda katakana itu benar, tidak terjadi apa-apa antara diriku dengannya kecuali seperti itu, dan sungguh, dia (ummul mukminin) adalah seorang istri nabi kalian di dunia dan di akhirat”. Kemudian ummul mukminin Aisyah berangkat melakukan perjalanan, dan Ali bin Abi Thalib RA mengantarnya sampai beberapa mil jauhnya.

    Kalau saja ummul mukminin Aisyah RA ada permusuhan dengan Ali bin Abi Thalib RA, niscaya tidak akan mengucapkan kata-kata seperti itu, dan kalau saja amirul mukminin Ali bn Abi Thalib RA ada permusuhan dengan ummul mukminin Aisyah RA, niscaya ia tidak akan membenarkan ucapan ummul mukminin Aisyah RA. (Kisah lengkap point ini diceritakan oleh Saif bin Umar dalam kitabnya: al-Fitnah wa Waq`atul Jamal, hal. 183. Lihat pula Tarikh Thabari [4/544], al-Muntazhim karya Ibnul Jauzi [5/94], al-Kamil karya Ibnul Atsir [2/614], al-Bidayah wan-Nihayah [10/472]), Nihayatul Arab karya an-Nuwairi [20/50]).
  5. Di saat acara “perpisahan” yang dihadiri banyak orang itu terjadi, ada dua orang hadirin yang mencela ummul mukminin. Yang satu mengatakan: “Semoga Allah SWT membalas pembangkanganmu wahai ummul mukminin!”. Dan yang satunya berkata: “Wahai ummul mukminin, bertaubat lah kamu kepada Allah, sebab kamu telah berbuat salah”.
    berita atas peristiwa celaan ini sampai kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA, maka Ali memerintahkan kepada al-Qa`qâ` bin `Amr untuk menangkap kedua orang itu, lalu kepada masing-masing dari keduanya, Ali bin Abi Thalib memerintahkan agar masing-masingnya didera dengan cambuk sebanyak seratus kali dalam keadaan bertelanjang dada. (al-Kamil [2/614], Nihayatul Arab [20/50]).
  6. Tentang berkecamuknya Waq`atul Jamâl itu sendiri sebenarnya adalah karena ulah dari kalangan yang terlibat dalam pembunuhan amirul mukminin Utsman bin Affan RA, di mana mereka membelah diri dalam dua bagian, sebagian menyusup ke dalam pasukan Ali bin Abi Thalib RA yang lalu menyerang pasukan Aisyah, dan sebagiannya lagi menyusup ke dalam pasukan Aisyah yang lalu menyerang pasukan Ali. Dan mereka melakukan keributan itu di sekitar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah RA untuk memancing orang-orang di luar mereka agar berperang. Mereka berusaha membunuh ummul mukminin Aisyah RA, namun, kemudian amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengetahui siasat mereka itu, dan yang lalu memerintahkan pembunuhan unta dan penyelamatan ummul mukminin seperti tersebut di atas.
  7. Di luar peristiwa Waq`atul Jamâl, hubungan diantara kedua sahabat nabi yang mulia ini sangatlah baik, masing-masing dari keduanya memuji yang lainnya, baik dari sisi ilmu, agama dan kesalihan.
Sedangkan Syiah dalam memposisikan Aisyah sama dengan pemberontak yang berdosa besar terhadap Ali, sedangkan Ali bin abi Thalib adalah anaknya. Layakkah seorang Ibu disebut tertuduh dengan perbuatanya yang menjadi korban adu domba. Kebijakan kebijakan Ali membuktikan kalau Ali anak yang sangat berbakti, paham dan sangat mengerti agama bagaimana cara berbakti kepada Orang, bukan Syiah yang biasa menuduh orang tuanya sendiri kurang ajar, bahkan ibunya, adik dan anak perempuanya menjadi target mut’ahnya.

0 komentar: