Breaking News
Loading...

“Gerakan Syiah Indonesia Diremote dari Iran”
Syiahindonesia.com - SAMPAI hari ini, jumlah serangan pemberontak Syiah Al Houti (Al Khutsiyin), di Ma’had Dar al Hadits, Dammaj, Yaman, awal bulan Desember lalu telah mencapai lebih dari 24 santri. Beberapa di antaranya adalah santri-santri asal Indonesia.

Apa yang sedang terjadi di Yaman ini? Dan mengapa pemberontak Syiah menyerang markaz Dar al Hadits, salah satu pesantren Salafy yang cukup besar ini? Mengapa ada tren gerakan politik Syiah di Yaman, Suriah, Iraq, bahkan di Arab Saudi dan beberapa negeri lain?. Ada apa sesungguhnya?

Kali ini hidayatullah.com mewawancarai Habib Achmad Zein Alkaf dari di Yayasan Albayyinat Indonesia. Zein Alkaf telah meneliti Syiah lebih dari 20 tahun. Sebelumnya, redaksi juga telah meminta konfirmasi Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ahlul Bait Indonesia (DPP ABI) Hasan Dalil Alydrus atas kasus penyerangan Dar Al Hadits di Yamman.

Seperti diketahui, Zein Alkaf yang juga duduk di jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini telah menulis 14 buku tentang Syiah. Peluncuran bukunya berjudul “Export Revolusi Syiah ke Indonesia” dihadiri ulama asal Hadramaut, Yaman, Alhabib Umar bin Hafid.

Kini, ia sedang menyelesaikan buku terbaru dengan judul, “Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Wa Ahlul Kisa’” yang ditulis lebih dari 400 halaman. Berikut kutipan wawancaranya.

***

Baru-baru ini, terjadi serangan pemberontak Syiah Al Houti (Al Khutsiyin) di markaz Dar al Hadits di Yaman. Apa pendapat Anda?

Sejauh pemahaman saya, sifat Syiah itu memang memusuhi Ahlus Sunnah. Saya kira itu wataknya. Bahkan boleh dikata, melebihi kebencian mereka kepada kaum Nasrani.

Dan bagaimana soal kasus di Dar al Hadits di Yaman itu?

Saya kira mereka (Syiah Al Khutsiyin) sedang mencari momen berkejolaknya situasi politik di negeri itu. Bahasa sederhananya, mereka sedang mencari “tumpangan”.

Mengapa Anda menilainya seperti itu?

Ya memang begitu. Ingat, Syiah di dunia ini dikendalikan satu tempat, dari Iran. Dengan bersumber di Iran, semua gerakan Syiah adalah gerakan politik yang tujuannya adalah kekuasaan. Harap jangan lupa kasus “haji berdarah” tahun 1987, di mana terjadi bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. (Menurut catatan, kasus ini telah menelan korban 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42 jemaah haji asal negara lain, red).

Jadi pusat Syiah di Iran tetap berkeinginan menguasai Saudi.

Kenapa harus Saudi?

Karena dengan menguasai Saudi, bisa menguasai pusat gerakan Islam di seluruh dunia. Karena di situ ada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dan keinginan seperti itu akan terus dilakukan. Jadi semua gerakan Syiah itu “diremote” dari Iran. Termasuk yang di Indonesia.

Di sebuah media Anda malah ingin Gubernur Jawa Timur mengeluarkan SK larangan Syiah, kenapa?

Lihat kejadian Syiah Pasuruan beberapa saat lalu. Juga rangkaian kejadian-kejadian lain. Mereka selalu memprovokasi umatnya untuk membenci umat lainnya. Di Jatim, jarang terdengar ada bentrokan kita dengan Ahmadiyah, tapi di Pasuruan bentrokan masalah Syiah sudah sering terjadi. Bahkan di Iran, tokoh-tokoh Sunni dianiaya dan dipenjara.

Bisa dijelaskan?

Banyak tokoh-tokoh kita diundang ke Iran dan ditunjukkan Revolusi Syiah versi mereka. Namun tak diberi tahu secara jujur berapa ulama Ahlussunnah (Sunni) yang telah rezim Khumeini. Berapa ulama Ahlussunnah masih mendekam di penjara Iran. Belum termasuk masjid-masjid Sunni yang hancurkan. Sementara Sinagog Yahudi banyak bertebaran di seantero Iran.

Di Iran, kaum Sunni mencapai 20% dari populasi penduduk yang berjumlah 70 juta. Namun Sunni mengalami penekanan dan tak ada hak. Suara mereka di DPR juga tak ada. Malah orang Yahudi mengaku lebih aman tinggal Iran dibanding di Israel sendiri. Yahudi mendapat perlindungan dibanding Ahlussunnah.

Banyak orang mengatakan, bukankah antara Syiah dan Sunni tidak ada perbedaan?

Banyak orang keliru. Syiah sebenarnya sempalan dari Islam (Al aqa’id al fasidah). Dalam istilah Islam, kelompok ini disebut ahlul bida’.

Mengapa dikategorikan sempalan atau ahlul bida’?

Pertama, cara mereka memandang al-Qur`an. Kita memandang al-Qur`an itu terjaga (mahfudz), mereka justru berkayakinan al-Qur`an sekarang ini sudah tidak orisinil.

Kedua, mereka menuduh istrinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Siti Aisyah, berbuat serong. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat An Nur memberi pembelaan terhadap Siti Aisyah, atas tuduhan orang-orang munafikin saat itu; saat belum lahir istilah Syiah sendiri.

Ketiga, masalah Sahabat-sahabat Nabi. Allah menurunkan ayat yang isinya memuji-muji mereka. Di mana Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha pada Allah. Tetapi mereka menilai, para Sahabat setelah meninggalnya Rasulullah, menjadi murtad, kecuali beberapa orang saja.

Keempat, mereka mendudukan imam-imam mereka lebih tinggi di atas para Rasul dan para malaikat mugharrabin. Keyakinan seperti ini indana ahlus sunnah, kufur (di kalangan ahlus sunnah sudah dianggap kufur).

Kelima, perbedaan yang juga mendasar adalah selain pada furu’ (cabang) juga pada ushul. Yaitu Rukun Islam dan Rukun Imannya juga berbeda. Jika sudah berbeda pada titik ini, konsekwensinya, mereka mengkafirkan kita dan kita mengkafirkan mereka.

Memangnya apa saja Rukun Iman mereka?

Rukum Iman mereka adalah; (1) At Tauhid, (2) An nubuwah, (3) Al Imamah, (4) Al adl’ dan (5) Al Ma’ad. Sedang Rukun Islam-nya As-Shalah, Az Zakah, As Shaum, Al Haji dan Al Wilayah. Karena perbedaan inilah sebagian ulama ada yang mengatakan mereka adalah sempalan Islam.

Bagaimana seharusnya sikap aparat?

Aparat harus tahu masalah ini. Bahwa Indonesia ini bumi Ahlussunnah. Di mana kaum Muslim sangat menghormati para Sahabat Nabi, istri-istri Nabi dan kita (umat Islam) sangat mencintai dan siap berkorban untuk mereka. Bayangkan, jika ada sekelompok orang datang dan menghina orang-orang yang mereka muliakan, apa gak terjadi masalah. Pasti ada gesekan.

Artinya kasus seperti di Bangil berpotensi terjadi lagi?

Ya. Sebelum kasus di Pasuruan itu, telah banyak terjadi pergesekan. Sebut saja di Madura, Bondowoso, Bangil, Pasuruan dan lain-lain. Jadi di Pasuruan itu bukan kasus baru. Jika aparat tak hati-hati, Indonesia bisa seperti Pakistan.

Sebagai mayoritas, kata sebagian orang, kelompok Sunni mestinya melindungi kelompok minoritas?

Anda mau melindungi orang yang akan mengambil dan membakar rumah kita? Sifat Syiah itu, begitu besar akan melakukan pemberontakan. Lembaga HAM selalu teriak kalau ada minoritas tidak dilindungi. Lho kok aneh, yang mayoritas malah diabaikan. Apa karena membela minoritas lalu yang mayoritas tak punya hak? Itu pakai nalar apa?

Kenapa tidak dialog saja, biar bertemu antara Sunni dan Syiah?

Dialog itu harus ada pedoman dan rujukannya. Jika mau dialog pedomannya harus al-Qur`an dan Al Sunnah. Masalahnya, mereka punya al-Qura`n dan Hadits sendiri . Mereka tak mau menerima Kutubus Sittah (Shahih Buhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah). Hadits yang mereka pakai Kutubul Arba’ah (Al Kafi, Al Ishtibshor, Man La Yahdhuruhul Faqih dan At Tahdhib). Kutubul Arba’ah isinya sangat berbeda dan bertentangan dengan kitab rujukan umat Islam. Kitab mereka malah berisi caci-maki kepada ulama-ulama kita. Jadi tagrib (pendekatan) dialog Sunni-Syiah mustahil terjadi.

Ulama Syiah sendiri, Ni’matulloh Al jazairi dalam Kitabnya Al Anwal Al Nu’maniyyah, mengatakan, golongan Syiah tidak pernah sama dengan mereka (Ahlussunah) dalam memahami Tuhan, Nabi dan Imam.

Menurut Anda Syiah di Indonesia loyalitasnya ke mana?

Ke Iran

Mengapa bisa?

Karena mereka memiliki doktrin imamah, di mana imam dan para mullah mereka ada di sana. Jadi kalau Syiah itu besar, ada kemungkinan dia bakal merongrong NKRI. Sebab, ia tidak akan tunduk dengan Indonesia, tapi dengan Iran. Lihat saja pemberontakan Syiah di beberapa negara Timur Tengah belakangan ini. Di Libanon, Bahrain, Yaman, Suriah dan lain-lain, mereka merujuknya ke Iran.

Bukankah Iran termasuk yang paling keras pertentanganya melawan Israel?

Pertanyaan itu saya balik. Pernahkah Anda melihat satu peluru saja yang dijatuhkan di tanah Israel?

Memang di media, kesannya melawan Zionis-Israel. Tapi apa ada satu peluru saja yang dialamatkan ke Israel sebagaimana Hammas. Padahal jarak Iran dan Israel sangat dekat.

Di media ini, Ikatan Ahlul Bait Indonesia (ABI) kan juga tak setuju serangan di Dar Al Hadits, di Yaman?

Lha mereka menyebut diri Ahlul Bait ( keturunan keluarga Nabi Muhammad) atas hak siapa dan dari siapa? Penyebutan itu saja tak diakui banyak ulama. Penggunaan nama itu saja sudah bermasalah dan saya kira itu hanya nama samaran. Rabithah (Rabitah Alawiyah adalah organisasi para habaib dan keturunan Ali bin Abi Thalib) saja tidak mengakui.

Bagaimana sikap PWNU Jawa Timur terhadap Syiah?

Kiai Mutawakkil (Ketua PWNU) sudah sangat jelas pernyataannya. Masalahnya, teman-teman di PBNU malah rangkul-rangkulan. Ini membuat sakit hati teman-teman di bawah. Hidayatullah

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: