Breaking News
Loading...

foto by: washington pos
Syaihindonesia.com - Ketika berbicara mengenai sejarah Negara Iran, segera ingatan kita tertuju pada nama Persia, nama dari sebuah bangsa dan kerajaan. Persia sendiri merupakan kerajaan atau dinasti yang mempunyai sejarah nan panjang dan termasuk kerajaan tertua di dunia. Sejarahnya bangsa Perisa telah dimulai dari seitar 4000 tahun yang lalu.

Sebagai kerajaan besar, Persia beberapa kali juga terlibat perang dengan Bangsa lain, salah satunya denganRomawi. Uniknya, bangsa Arab yang waktu itu juga berperang melawan Romawi secara emotional mendukung serangan Romawi kepada Persia ini. Alasan mereka, karena dibandinkan dengan Persia, romawi lebih memiliki banyak kesamaan dengan mereka.

Sejarah panjang kedikdayaan Persia akhirnya pun harus runtuh sekitar abad ke 7 Masehi. Beberapa kelompok pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang diperintahkan oleh Umar bin Khatab dari wilayah negeri Arab, mencoba menginvasi Persia, hal ini dikarenakan Persia menolak untuk berkerjasama.

Namun usaha pertama ini masih gagal. Barulah pada percobaan berikutnya mulai menuai hasil. Invasi kedua dimulai pada tahun 636 di bawah Saad bin Abi Waqqas, ketika suatu kemenangan kunci pada Pertempuran Qadisiyyah berujung pada berakhirnya kendali Sassaniyah di Persia barat secara permanen. Maka dimulai lah keruntuhan kerajaan Persia. Tak hayal, sampai sekarang, banyak orang Persia atau yang kini dikenal dengan Iran yang sangat membenci nama-nama seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Saad bin Abi Waqqas Khalid bin Walid dan nam-nama lain (the prophet's companions). Karena mereka dianggap sebagai biang keruntuhan atau yang memiliki andil besar dalam peruntuhan kerajaan besar nan megah, Persia.

Iran has a growing drug problem, and young, well-educated women are among its biggest victims. "Meskipun pusat rehabilitasi obat pertama untuk perempuan telah dibuka di Teheran empat tahun yang lalu. Pemerintah Presiden Hassan Rouhani, yang berkuasa sejak 2013, telah membahas masalah ini lebih dalam. Tahun lalu Shahindokht Molaverdi, wakil presiden Rouhani untuk wanita dan Urusan keluarga mengakui bahwa jumlah pecandu perempuan meningkat dua kali lipat selama beberapa tahun terakhir (meskipun tanpa memberikan angka yang tepat).

Gadis muda seumuran 13 tahun saja bisa menjadi kecanduan, menurut pejabat Iran. Molaverdi mengatakan bahwa pada Januari sajaada sekitar 500 pecandu perempuan tunawisma di jalan-jalan Teheran, tetapi laporan dari instansi lain dan peneliti berkisar setinggi 15.000. (Catatan editor: Sebagian besar link dalam artikel ini adalah dalam bahasa Persia.)" (kaskus)

0 comments: