Syiahindonesia.com - Tragedi Karbala yang meletus pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah merupakan salah satu peristiwa paling kelam dan memilukan dalam lembaran sejarah umat Islam. Gugurnya Husein bin Ali radhiyallahu 'anhuma—cucu tercinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—di Padang Karbala membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh kaum Muslimin tanpa terkecuali. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, peristiwa sejarah yang sejatinya menyisakan duka ini justru dieksploitasi oleh kelompok Syiah untuk dijadikan instrumen teologis, doktrin sektarian, serta media pembakaran sentimen kebencian antar sesama Muslim.
Dalam peta pemikiran Syiah, Perang Karbala tidak lagi dipahami sebagai peristiwa sejarah politik kontemporer pada zamannya, melainkan diubah menjadi mitos keagamaan yang sarat dengan rekayasa riwayat. Penyimpangan dalam menafsirkan sejarah Karbala ini digunakan secara masif untuk memperkokoh doktrin Imamah, merawat rasa bersalah umat, serta melegitimasi tradisi ratapan dan penyiksaan diri yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat Islam.
Distorsi Narasi Sejarah: Dari Konflik Politik Menjadi Doktrin Kafir-Iman
Ahlus Sunnah wal Jama'ah memandang Tragedi Karbala secara proporsional berdasarkan kaidah keilmuan sejarah dan hadis yang ketat. Pembunuhan terhadap Husein radhiyallahu 'anhu adalah sebuah kezaliman besar dan kejahatan mengerikan yang dilakukan oleh pasukan bentukan Ubaidillah bin Ziyad di bawah pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah. Kendati demikian, Ahlus Sunnah tidak pernah menjadikan peristiwa politik tersebut sebagai syarat keimanan atau pilar agama.
Sebaliknya, kelompok Syiah melakukan fabrikasi narasi secara ekstrem. Mereka menggambarkan Perang Karbala sebagai perang kosmik antara keimanan mutlak (yang diwakili Husein dan pengikutnya) melawan kekufuran mutlak (yang diasosiasikan kepada seluruh pihak di luar kelompok mereka). Melalui narasi ini, Syiah menggiring opini bahwa siapa saja yang tidak sejalan dengan doktrin Imamah Syiah secara otomatis berada di kubu pembunuh Husein.
Penyimpangan interpretasi ini sengaja diciptakan untuk menanamkan kebencian abadi (al-bghdu) kepada mayoritas kaum Muslimin dan para sahabat Nabi yang tidak terlibat dalam tragedi tersebut. Padahal, Al-Qur'an telah mengajarkan prinsip keadilan dalam menilai sebuah dosa dan tidak membebankan dosa seseorang kepada orang lain, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-An'am ayat 164:
وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
"Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdusta tidak akan memikul dosa orang lain."
Menutupi Pengkhianatan Penduduk Kufah (Syiah Awal)
Salah satu fakta sejarah paling krusial yang kerap ditutupi atau dibelokkan dalam literatur Syiah modern adalah peran nyata penduduk Kufah—yang mengklaim diri sebagai pengikut dan pembela keluarga Ali (Syiah Ali)—dalam mengkhianati Husein bin Ali radhiyallahu 'anhuma.
Secara otentik dicatat dalam kitab-kitab sejarah Islam maupun kitab rujukan Syiah sendiri (seperti Maqtal al-Husain karya Al-Muqarram dan Al-Ijtijaj karya Ath-Thabrasi), Husein berangkat ke Kufah setelah menerima puluhan ribu surat janji setia dan undangan dari penduduk Kufah yang membujuk beliau untuk memimpin perlawanan. Namun, ketika pasukan kerajaan datang mengepung, penduduk Kufah justru membelot, membiarkan Muslim bin Aqil (utusan Husein) dibunuh, dan sebagian dari mereka justru bergabung dengan pasukan kerajaan untuk memburu Husein.
Bahkan, sebelum gugurnya di Karbala, Husein bin Ali radhiyallahu 'anhu sempat memanjatkan doa serta celaan keras kepada orang-orang Kufah yang telah mengkhianatinya, sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab sejarah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ غَرُّونَا وَخَدَعُونَا ، وَفَعَلُوا بِنَا مَا فَعَلُوا
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa mereka (penduduk Kufah) telah memperdaya kami, menipu kami, dan melakukan apa yang telah mereka lakukan terhadap kami."
Untuk menghapus jejak kelam pengkhianatan historis ini, para ulama Syiah menciptakan mekanisme psikologis massal berupa ritual ratapan tahunan (Asyura) agar pengikut mereka terus merasa bersalah dan melimpahkan tuduhan pengkhianatan tersebut kepada seluruh umat Islam di luar lingkaran Syiah.
Pengagungan Ritual Penyiksaan Diri (Tatbir) yang Menyimpang dari Syariat
Penyimpangan paling nyata yang lahir dari penafsiran sesat atas Tragedi Karbala adalah hadirnya ritual memperingati hari Asyura (10 Muharram) dengan cara meratap, memukul-mukul dada, melukai kepala dengan pedang atau rantai (tatbir), hingga mengalirkan darah.
Syiah mengklaim bahwa tindakan melukai diri ini merupakan bentuk duka cita dan penghormatan atas kesyahidan Husein. Padahal, ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara tegas melarang perbuatan niyahah (meratapi kematian secara berlebihan) dan melukai tubuh saat tertimpa musibah.
Dalam sahih Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda secara tegas:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
"Bukan termasuk dari golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan-seruan jahiliah (saat tertimpa musibah)."
Tindakan melukai diri dan anak-anak kecil dalam peringatan Karbala tidak hanya melanggar larangan niyahah, tetapi juga merusak akal sehat, merendahkan martabat manusia, serta mencoreng citra ajaran Islam di mata dunia. Islam mengajarkan kesabaran (isthibar) dan menyerahkan segala musibah kepada Allah dengan mengucapkan kalimat istirja', sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-156:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali)."
Rekayasa Riwayat dan Mitos Karbala
Untuk menjaga sentimen emosional umat tetap membara, tradisi penceritaan Karbala dalam majelis-majelis Syiah (Majalis al-Aza') senantiasa disusupi oleh ribuan riwayat palsu dan cerita rekaan yang hiperbolis. Fenomena ini bahkan diakui oleh sebagian cendekiawan Syiah modern sendiri, seperti Murtadha Muthahhari dalam kitabnya Al-Malhamah Al-Husainiyyah. Beliau mengkritik keras bahwa sejarah Perang Karbala telah dipenuhi oleh kebohongan dan mitos-mitos buatan para penceramah Syiah demi menguras air mata pendengarnya.
Di antara mitos yang diciptakan adalah narasi bahwa seluruh alam semesta meratap, langit meneteskan darah selama bertahun-tahun, atau bahwa mukjizat para imam terwujud dalam bentuk-bentuk yang tidak masuk akal. Pemalsuan narasi ini mengaburkan esensi perjuangan Husein yang sebenarnya—yaitu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dan menjaga prinsip keadilan—menjadi sekadar drama mistis yang menjauhkan umat dari pemikiran ilmiah dan akidah yang lurus.
Cara Pandang Ahlus Sunnah terhadap Husein dan Hari Asyura
Sangat penting untuk menegaskan kembali perbedaan mendasar antara sikap Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan pemahaman Syiah dalam memandang Husein bin Ali serta peringatan hari Asyura:
Penghormatan Penuh kepada Husein: Ahlus Sunnah memuliakan Husein bin Ali radhiyallahu 'anhuma sebagai pimpinan pemuda ahli surga (sayyidu syababi ahlil jannah) dan bagian dari Ahlul Bait yang wajib dicintai. Kesyahidan beliau dipandang sebagai karunia derajat tinggi yang Allah berikan kepadanya.
Kecaman terhadap Para Pembunuh Husein: Ahlus Sunnah berlepas diri (bara') dari orang-orang yang membunuh, memerintahkan, atau meredai pembunuhan Husein radhiyallahu 'anhu.
Menjalankan Sunnah Puasa Asyura: Hari ke-10 Muharram disyariatkan untuk diisi dengan berpuasa (Puasa Asyura) sebagai bentuk syukur atas penyelamatan Nabi Musa 'alaihissalam dari Firaun, sebagaimana diajarkan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan diisi dengan ratapan, caci maki, atau tumpah darah.
Langkah Membentengi Umat dari Propaganda Karbala Versi Syiah
Di Indonesia, peringatan hari Asyura kerap dimanfaatkan oleh kelompok Syiah untuk menyusupkan agenda-agenda teologis mereka melalui kemasan kebudayaan, seni, atau seminar sejarah. Oleh karena itu, langkah-langkah antisipasi strategis harus terus dilakukan:
Edukasi Sejarah Islam yang Otentik: Menyajikan sejarah Karbala berdasarkan sumber-sumber primer yang kredibel dari kalangan kiai, ulama, dan akademisi Ahlus Sunnah, sehingga masyarakat tidak terkecoh oleh versi yang telah didistorsi.
Menyingkap Penyesatan Ritual Ratapan: Memberikan pemahaman secara gencar kepada masyarakat awam bahwa ritual melukai diri dan mencaci sahabat Nabi pada bulan Muharram sama sekali bukan bagian dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Penguatan Peran Masjid dan Pesantren: Menjadikan momentum Muharram sebagai sarana memperkuat ajaran sunnah puasa Asyura dan meluruskan persepsi salah seputar Ahlul Bait dan Para Sahabat.
Penyimpangan Syiah dalam menafsirkan sejarah Perang Karbala telah mengubah sebuah tragedi kemanusiaan menjadi alat propaganda sektarian yang merusak kerukunan dan akidah umat Islam. Dengan kembali kepada penafsiran sejarah yang objektif dan syariat yang shahih, umat Islam di Indonesia akan mampu membendung propaganda ini dan menjaga kemurnian ajaran Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: