Syiahindonesia.com - Al-Qur'an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an secara benar, diperlukan metodologi tafsir yang lurus (manhaj tafsir) yang bersumber dari pemahaman Rasulullah SAW, para Sahabat, serta para ulama generasi Salafus Shalih. Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kelompok Syiah kerap kali menggunakan pendekatan tafsir yang manipulatif, berprasangka, serta sarat dengan kepentingan ideologis. Salah satu bentuk penyimpangan tafsir yang sangat mencolok dalam tradisi Syiah adalah kesalahan mendasar mereka dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan permohonan ampunan (istighfar).
Pemahaman terhadap ayat-ayat istighfar menduduki posisi kunci dalam pembentukan akidah dan moralitas seorang Muslim. Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja), istighfar adalah bentuk penghambaan (ubudiyah), kesadaran diri, serta pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan keagungan Allah SWT. Akan tetapi, di tangan para mufassir Syiah, ayat-ayat istighfar kerap dipelintir maknanya demi menyesuaikan dengan doktrin-doktrin keimaman yang ekstrem (ghuluw). Pembahasan ini bertujuan untuk menguraikan secara kritis bagaimana kelompok Syiah memalingkan makna ayat-ayat istighfar dan dampak bahayanya terhadap akidah umat Islam di Indonesia.
Konsep Istighfar dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang Murni
Secara syar'i, istighfar merujuk pada tuntunan bagi seorang hamba untuk memohon perlindungan dari keburukan dosa-dosanya serta penutupan atas kesalahan yang telah dilakukan. Al-Qur'an menegaskan bahwa memohon ampunan adalah perintah yang berlaku bagi seluruh manusia, termasuk para Nabi dan Rasul. Para Nabi—meskipun dijaga oleh Allah dari dosa-dosa besar serta penistaan risalah—tetap diperintahkan untuk beristighfar sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri), ketundukan, serta keteladanan bagi umatnya.
Allah SWT secara tegas memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon ampunan dalam Al-Qur'an:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan." (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan keagungan sifat ketundukan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW sendiri menegaskan kebiasaan beliau beristighfar setiap hari:
وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
"Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari)
Bagi Ahlus Sunnah, ayat dan hadits ini adalah bukti kerendahan hati para Nabi dan pengajaran nyata bagi seluruh hamba Allah agar senantiasa bertaubat.
Bentuk-Bentuk Kesalahan Syiah dalam Menafsirkan Ayat Istighfar
Keharusan menyesuaikan Al-Qur'an dengan doktrin teologi Syiah memaksa para ulama mereka melakukan ta'wil (penafsiran terpisah dari makna lahir) yang jauh dari kaidah bahasa Arab maupun kesepakatan mufassir otentik. Berikut adalah bentuk-bentuk kesalahan fatal Syiah dalam menafsirkan ayat-ayat istighfar:
1. Penolakan Makna Lahir demi Doktrin Ismah yang Ekstrem
Dalam doktrin Syiah, para Nabi dan Imam Dua Belas diyakini memiliki sifat ma'shum mutlak tanpa batas, yaitu mutlak tidak pernah melakukan kesalahan, kelalaian, lupa, atau kekhilafan kecil sekalipun, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Nabi atau Imam. Akibat dari doktrin ismah yang berlebihan ini, kelompok Syiah merasa terancam oleh ayat-ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit menyebutkan permohonan ampun para Nabi.
Ketika membaca ayat tentang ampunan Nabi Muhammad SAW, Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, atau Nabi Yunus AS, mufassir Syiah menolak makna tekstual ayat tersebut. Mereka mengklaim bahwa "dosa" (dzanb) yang dimaksud dalam Al-Qur'an bukanlah dosa atau kesalahan Sang Nabi, melainkan dosa orang lain atau dosa para pengikutnya yang dibebankan kepada Nabi. Penafsiran ini jelas merupakan pemutaran balik makna ayat yang sangat dipaksakan dan merusak keutuhan bahasa Al-Qur'an.
2. Memalingkan Makna Istighfar Menjadi Penolakan Terhadap Wilayah
Salah satu penyimpangan tafsir paling ekstrem dari kalangan Syiah adalah menghubungkan ayat-ayat istighfar dengan penerimaan kepemimpinan (wilayah) Ali bin Abi Thalib RA. Dalam beberapa kitab tafsir Syiah seperti Tafsir Al-Qummi atau Tafsir Al-Ayyashi, kata "dosa" (dzanb) dalam firman Allah QS. Muhammad: 19 dita'wilkan secara liar sebagai: "dosa karena tidak menyampaikan kepemimpinan Ali."
Dengan kata lain, mereka menafsirkan perintah beristighfar bukan sebagai permohonan ampunan kepada Allah, melainkan sebagai bentuk teguran atas penundaan pengangkatan Ali RA. Penafsiran batiniah (bathiniyah) semacam ini membuang aspek tauhid dan peribadatan dari ayat Al-Qur'an dan menggantikannya dengan prasangka ideologis sekte.
3. Eksklusivisme Permohonan Ampunan Hanya untuk Kelompok Syiah
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengabarkan bahwa para Malaikat senantiasa memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman di bumi:
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا
"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman." (QS. Ghafir: 7)
Ahlus Sunnah meyakini bahwa ayat ini mencakup seluruh orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa terkecuali. Namun, dalam tafsir-tafsir Syiah, frasa "orang-orang yang beriman" dalam ayat ini dipangkas secara sepihak dan dibatasi maknanya hanya untuk penganut ajaran Syiah yang meyakini keimaman Dua Belas Imam. Orang-orang Muslim di luar kelompok mereka—termasuk para Sahabat Nabi dan mayoritas umat Islam—dianggap tidak beriman, sehingga diputus dari doa dan istighfar para Malaikat.
4. Pelarangan Istighfar untuk Para Sahabat Utama Nabi
Penyimpangan paling menyedihkan dari doktrin Syiah terkait istighfar adalah penolakan mereka untuk memohonkan ampunan bagi para Sahabat Rasulullah SAW, khususnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan RA. Padahal, Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan generasi Islam berikutnya untuk mendoakan dan memohonkan ampun bagi para Sahabat yang telah mendahului mereka:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّام لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Generasi Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'" (QS. Al-Hasyr: 10)
Dengan mencaci, mengkafirkan, dan menolak beristighfar untuk para Sahabat Nabi, kelompok Syiah secara mendasar telah menyelisihi perintah tegas Al-Qur'an dalam surat Al-Hasyr tersebut.
Dampak Bahaya Penyimpangan Tafsir Syiah Bagi Akidah Umat
Manipulasi terhadap ayat-ayat istighfar oleh kelompok Syiah membawa konsekuensi teologis yang sangat berbahaya:
Merusak Metodologi Tafsir Al-Qur'an: Mengabaikan makna tekstual (dhahir) dan kaidah bahasa Arab demi ta'wil batiniah merusak keotentikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum dan hidayah.
Menanamkan Kebencian Terhadap Generasi Sahabat: Membatasi istighfar hanya untuk kelompok sendiri dan mengharamkannya bagi para Sahabat mendidik pengikut Syiah untuk memelihara kedengkian (ghill) dalam hati mereka.
Pengikisan Nilai Taubat dan Kerendahan Hati: Doktrin ismah ekstrem yang menafikan makna istighfar para Nabi mengurangi pemahaman umat tentang hakikat penghambaan dan perlunya bertaubat secara terus-menerus kepada Allah.
Langkah Strategis Menjaga Kemurnian Tafsir Al-Qur'an di Indonesia
Di Indonesia, di mana mayoritas masyarakat Muslim memegang teguh ajaran Aswaja, penguatan literasi Al-Qur'an berdasarkan kitab-kitab tafsir mu'tabar (seperti Tafsir Ibn Katsir, At-Thabari, dan Al-Qurtubi) merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar.
Umat Islam perlu diajarkan untuk bersikap kritis terhadap narasi-narasi tafsir yang dipaksakan dan mengandung syubhat. Mengembalikan pemahaman Al-Qur'an kepada metodologi para Sahabat dan ulama Salafus Shalih adalah satu-satunya jalan untuk memelihara kesucian wahyu dari penyelewengan sekte-sekte sesat.
Istighfar adalah pintu rahmat Allah yang terbuka lebar bagi setiap Mukmin. Memahami ayat-ayat istighfar sebagaimana mestinya akan menuntun umat Islam menuju kerendahan hati, keikhlasan beribadah, serta kecintaan yang tulus kepada seluruh hamba Allah yang beriman—terutama para Sahabat Nabi yang mulia. Dengan menjaga kemurnian pemahaman Al-Qur'an, umat Islam di Indonesia akan senantiasa kokoh dan terhindar dari penyebaran doktrin sesat Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: