Syiahindonesia.com - Sabar merupakan salah satu pilar utama akhlak dan akidah dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, sabar didefinisikan sebagai keteguhan jiwa dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahan diri dari kemaksiatan, serta menerima ujian dan takdir-Nya dengan penuh keridaan. Sabar adalah dorongan positif yang membimbing seorang muslim untuk optimistis, bertawakal, dan terus beramal saleh.
Namun, di bawah konstruksi teologi sekte Syiah—khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah)—konsep sabar mengalami pergeseran makna dan penyimpangan fundamental. Nilai sabar yang mulia diubah menjadi doktrin kepasifan yang dibungkus dendam sejarah, legitimasi taktik manipulatif (Taqiyyah), serta ritual ratapan yang bertentangan dengan syariat Islam.
1. Penyimpangan Utama dalam Pemaknaan Sabar versi Syiah
Perbedaan mendasar antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dan Syiah dalam memahami konsep kesabaran dapat dipetakan ke dalam beberapa poin krusial:
A. Taqiyyah Diberi Label "Sabar"
Salah satu bentuk penyimpangan paling nyata adalah pengidentikan sabar dengan praktik Taqiyyah (menyembunyikan akidah dan memamerkan kebohongan untuk mengelabui mayoritas umat Islam). Ulama-ulama Syiah mempabrikasi riwayat yang menyatakan bahwa ber-Taqiyyah di tengah penganut Sunni adalah bentuk "kesabaran tertinggi" dalam mempertahankan doktrin Imamah.
Bantahan Ahlus Sunnah: Sabar dalam Islam berarti teguh menyuarakan kebenaran dan bertahan di atas syariat, bukan menyembunyikan keimanan secara permanen atau bersikap munafik dalam kehidupan bermasyarakat.
B. Sabar Diartikan Sebagai Kepasrahan Menunggu "Imam Gaib"
Dalam doktrin Syiah, penganutnya dituntut untuk "sabar" menanti kemunculan Imam ke-12 (Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari) dari tempat persembunyiannya (Ghaibah Kubra). Kesabaran ini diwujudkan dalam bentuk pasif secara teologis—menerima keadaan bahwa syariat Islam tidak dapat ditegakkan secara sempurna hingga sang Imam hadir untuk melakukan pembalasan dendam.
Bantahan Ahlus Sunnah: Islam tidak pernah mengajar umatnya untuk pasif dan meratapi nasib. Sabar yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah sabar aktif, yaitu tetap amar ma'ruf nahi munkar, menegakkan hukum Islam, dan bekerja keras membangun peradaban tanpa menggantungkan nasib pada figur misterius yang tidak hadir secara riil.
C. Meratapi Duka (Niyahah) Sebagai Bentuk "Sabar dan Ibadah"
Setiap bulan Muharam (khususnya hari Asyura), umat Syiah menggelar ritual meratapi kematian Sayyidina Husain r.a. dengan cara menampar wajah, memukul dada, mengiris kepala dengan pedang, hingga melukai diri sendiri. Mereka mengklaim bahwa penderitaan fisik dan ratapan tersebut adalah bentuk "kesabaran" dan "partisipasi emosional" atas duka Ahlul Bait.
Bantahan Ahlus Sunnah: Perbuatan melukai diri dan meratapi kematian secara histeris (niyahah) ditolak secara tegas oleh Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ bersabda: "Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliah (saat tertimpa musibah)." (HR. Bukhari dan Muslim). Sabar yang syar'i saat tertimpa musibah adalah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji'un dan mengikhlaskan takdir Allah.
2. Matriks Perbandingan Konsep Sabar: Sunni vs Syiah
Untuk melihat kontras antara hakikat kesabaran menurut petunjuk syariat dengan penyimpangan doktrin Syiah, berikut tabel komparasinya:
3. Implikasi Distorsi Sabar Terhadap Jiwa Umat
Penyimpangan pemaknaan sabar oleh doktrin Syiah berdampak buruk pada pembentukan karakter penganutnya:
Eksploitasi Emosional dan Trauma Kolektif: Dengan menanamkan bahwa "sabar" adalah ikut menanggung penderitaan masa lalu Karbala, penganut Syiah terus-menerus berada dalam kondisi trauma psikologis dan kebencian kepada mayoritas umat Islam.
Krisis Kejujuran dan Integritas: Mengidentikkan sabar dengan Taqiyyah melatih penganutnya untuk terbiasa hidup bermuka dua dan membenarkan kebohongan atas nama dogma agama.
Kesimpulan
Konsep sabar dalam teologi Syiah telah dicabut dari akar maknanya yang lurus. Sabar yang dalam ajaran Islam merupakan sumber kekuatan moral dan optimisme, diubah oleh ideologi Syiah menjadi sarana legitimasi Taqiyyah, ritual histeris melukai diri, serta pemeliharaan dendam sektarian secara turun-temurun.
Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sabar adalah meneladani kesabaran hakiki para Sahabat dan Ahlul Bait—seperti Sayyidina Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain r.a.—yang tidak pernah mengajarkan ratapan histeris atau dendam, melainkan keteguhan di atas tauhid, keikhlasan, dan perjuangan menegakkan agama Allah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: