Breaking News
Loading...

Syiah dan Fitnah terhadap Ibnu Taimiyyah

Syiahindonesia.com - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, 661–728 H) merupakan salah satu ulama terbesar dalam sejarah pembelaan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karya fenomental beliau, khususnya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, menjadi rujukan ilmiah paling komprehensif, mendalam, dan tak tertandingi dalam membongkar serta meruntuhkan argumentasi teologi Syiah (khususnya karya Ibnu al-Muthahhar al-Hilli, Minhaj al-Karamah).

Karena kerapuhaan argumen teologis mereka yang dibedah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyyah, para ideolog dan ulama Syiah mengalihkan serangan ilmiah menjadi kampanye demonisasi, pembunuhan karakter (character assassination), serta penyebaran fitnah masif terhadap pribadi Syaikhul Islam. Mereka berupaya melempar berbagai tuduhan keji untuk menjauhkan umat dari karya-karya beliau.

Berikut adalah tuduhan-tuduhan fitnah utama Syiah terhadap Ibnu Taimiyyah beserta pembongkaran hakikat faktualnya:

1. Fitnah Tuduhan Nashibah (Membenci Ahlul Bait)

Tuduhan paling sering diulang-ulang oleh propagandis Syiah adalah stempel bahwa Ibnu Taimiyyah adalah seorang Nasibi (orang yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keluarga Ahlul Bait).

Pembongkaran Fitnah:

Tuduhan ini merupakan kedustaan nyata yang bertentangan langsung dengan teks tulisan Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya:

  • Sikap Resmi Ibnu Taimiyyah terhadap Ahlul Bait: Dalam kitab Aqidah al-Wasithiyyah (pilar ajaran Ahlus Sunnah), Ibnu Taimiyyah secara eksplisit mencantumkan kewajiban mencintai Ahlul Bait:

    "Dan mereka (Ahlus Sunnah) mencintai keluarga Rasulullah SAW (Ahlul Bait), memberikan loyalitas kepada mereka, serta menjaga wasiat Rasulullah SAW tentang mereka... namun mereka berlepas diri dari sikap Ghuluw (pengkultusan) orang-orang Syiah dan sikap Nawashib (kebencian) orang-orang yang memusuhi Ahlul Bait."

  • Pujian terhadap Keutamaan Sayyidina Ali: Dalam Minhaj as-Sunnah, beliau menegaskan keutamaan, keberanian, keilmuan, dan keabsahan kekhalifahan Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu, serta menetapkan bahwa orang yang memusuhi atau mencaci Sayyidina Ali adalah pelaku bid'ah yang sesat.

  • Bantahan terhadap Tuduhan: Ibnu Taimiyyah bukan membenci Sayyidina Ali, melainkan mendudukkan Sayyidina Ali pada martabatnya yang mulia sebagai Sahabat dan Khalifah yang lurus—tanpa mengangkatnya ke derajat kemaksuman atau ketuhanan sebagaimana yang dipaksakan oleh teologi Syiah.

2. Fitnah Tuduhan Tajsim dan Tasybih (Menganggap Allah Memiliki Fisik/Serupa Makhluk)

Untuk merusak reputasi keilmuan beliau di mata mayoritas umat Islam, ulama Syiah menuduh Ibnu Taimiyyah menganut paham Anthropomorphism (memvisualisasikan Allah seperti bentuk fisik manusia/berbadan).

Pembongkaran Fitnah:

  • Prinsip Itsbat bila Tasybih: Ibnu Taimiyyah secara konsisten memegang teguh akidah Salafush Shalih dalam memahami Sifat-Sifat Allah (Asma' was-Sifat), yakni menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tanpa Tahrif (pengubahan), Ta'thil (penolakan), Takyif (mempertanyakan bagaimananya), maupun Tamsyil/Tasybih (disamakan dengan makhluk).

  • Penegasan Al-Qur'an: Beliau berpatokan pada firman Allah SWT: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11). Beliau justru secara tegas mengafirkan orang yang menyerupakan Sifat Allah dengan sifat makhluk (Al-Musyabbihah).

3. Tuduhan Memalsukan dan Menolak Hadis-Hadis Keutamaan Ahlul Bait

Syiah sering mengklaim bahwa Ibnu Taimiyyah bertindak tidak objektif dengan menolak semua hadis yang memuat keutamaan (Fadhail) Sayyidina Ali dan Ahlul Bait.

Pembongkaran Fitnah:

  • Penerapan Metodologi Hadis yang Ketat: Ibnu Taimiyyah adalah seorang Hafiz dan pakar kritik hadis (Naqd al-Hadits). Beliau tidak menolak hadis karena kedengkian, melainkan mengujinya dengan standar keilmuan sanad yang baku dalam ilmu hadis (Musthalah al-Hadits).

  • Menerima Hadis Shahih: Beliau menerima dan menggunakan hadis-hadis keutamaan Sayyidina Ali yang ber-sanad shahih (seperti Hadis Manzilah, Hadis Kisa', dan keutamaan Perang Khaibar).

  • Menolak Hadis Palsu (Maudhu'): Yang ditolak oleh Ibnu Taimiyyah adalah riwayat-riwayat palsu buatan para pemalsu hadis Syiah (Wadhdha'un) yang tidak memiliki asal-usul sanad yang sah, atau riwayat yang memuat penyimpangan teologis yang nyata.

4. Mengapa Syiah Sangat Membenci Ibnu Taimiyyah?

Kebencian mendalam dan kampanye fitnah tiada henti yang dilancarkan Syiah terhadap Ibnu Taimiyyah berakar pada satu alasan utama: Efikasi Pembongkaran Ilmiah.

Melalui kitab Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah berhasil:

  1. Meruntuhkan bangunan teologi Imamah dengan argumen Al-Qur'an, Sunnah, dan logika rasional yang kokoh.

  2. Membongkar kepalsuan sanad-sanad riwayat yang dijadikan sandaran doktrin Syiah.

  3. Menelanjangi kontradiksi internal ajaran Syiah, seperti doktrin Taqiyyah, Ismah, dan konsep keghaiban Imam ke-12.

Karya-karya Ibnu Taimiyyah hingga hari ini menjadi benteng akademis paling ampuh yang menyulitkan penyebaran propaganda Syiah di dunia Islam.

Kesimpulan

Fitnah dan tuduhan yang diarahkan oleh kelompok Syiah kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah reaksi emosional akibat kekalahan ikhtiar argumentatif. Tuduhan seperti Nashibah maupun Tajsim sama sekali tidak terbukti dan runtuh sewaktu disandingkan langsung dengan teks-teks otentik dalam kitab-kitab beliau.

Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang Ibnu Taimiyyah sebagai mujaddid, ulama besar, dan pembela Sunnah Nabi SAW yang gigih memurnikan akidah Islam dari noda-noda penyimpangan teologis.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: