Breaking News
Loading...

Syiah dan Pemutarbalikan Makna Hadis "Tsakalain"

Syiahindonesia.com - Hadis Tsakalain merupakan salah satu dalil yang paling sering digaungkan oleh kalangan Syiah untuk mendukung klaim keimamaan (imamah) Ahlulbait serta menegaskan bahwa kepemimpinan umat Islam pascamangkatnya Rasulullah SAW harus berada di tangan keturunan Ali bin Abi Thalib RA. Dalam propaganda yang masif, teks hadis ini kerap dipotong, ditafsirkan secara sepihak, dan dibenturkan dengan kaidah-kaidah ilmu hadis serta konteks historis penyampaiannya. Pembongkaran terhadap distorsi makna Hadis Tsakalain menjadi penting sebagai langkah antisipatif agar umat Islam di Indonesia tidak terampiluk oleh pemahaman yang menyimpang dari ajaran Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Memahami Teks dan Sanad Hadis Tsakalain

Secara etimologi, kata tsakalain (الثَّقَلَيْنِ) merupakan bentuk ts تثنية (dua) dari kata at-tsaqal (الثَّقَلُ) yang berarti sesuatu yang berat, berharga, atau bernilai tinggi. Hadis ini diriwayatkan dalam beberapa jalur (turuq) dengan redaksi (mataan) yang bervariasi.

Salah satu redaksi shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Zaid bin Arqam RA, di mana Rasulullah SAW berkhotbah di suatu tempat bernama Ghadir Khumm, sebuah mata air antara Makkah dan Madinah:

أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ، فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ... وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي.

“Amma ba’du: Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku (malaikat maut) lalu aku memperkenankannya. Dan aku meninggalkan di tengah-tengah kalian dua hal yang berat (Tsakalain): Yang pertama adalah Kitabullah (Al-Qur'an), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitabullah dan berpegang teguhlah kepadanya... Dan Ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku.” (HR. Muslim no. 2408)

Dalam jalur lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, terdapat redaksi yang menyebutkan:

مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا: كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

“...yang jika kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat: Kitabullah dan 'Ithrati (keturunanku/keluargaku) Ahlulbaitku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3788)

Modus Pemutarbalikan Makna oleh Syiah

Kelompok Syiah memanfaatkan perbedaan variasi redaksi ini untuk membangun argumen bahwa Rasulullah SAW mewajibkan umat Islam untuk menjatuhkan kepemimpinan politik dan keagamaan mutlak kepada Ahlulbait setelah beliau wafat. Mereka memutarbalikkan pesan hadis melalui beberapa penyimpangan metodologis:

1. Menyamakan Ithrah dengan Doktrin Keimamaan Imamiyn (Ma'shum)

Syiah membatasi makna 'Ithrah atau Ahlulbait hanya pada 12 imam tertentu (dimulai dari Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, hingga Imam Mahdi versi mereka). Padahal, secara linguistik dan sejarah, keluarga Nabi mencakup seluruh kerabat dekat yang diharamkan menerima sedekah, seperti keturunan Ali, keturunan Ja'far, keturunan Aqil, dan keturunan Abbas, serta istri-istri Nabi sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Ahzab ayat 33:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu semurni-murninya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

2. Memutarbalikkan Perintah "Mencintai" Menjadi "Kewajiban Mengikuti Keimamaan Politir"

Dalam redaksi Shahih Muslim, penekanan Rasulullah SAW terhadap Ahlulbait adalah dengan kalimat "Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku". Ini adalah wasiat untuk menghormati, memuliakan, mencintai, dan menjamin hak-hak mereka, bukan perintah untuk menjadikan mereka sebagai pemegang kekuasaan politik mutlak atau pimpinan doktrinal yang terbebas dari dosa (ma'shum).

3. Membenturkan Hadis Tsakalain dengan Wasiat Berpegang Teguh pada Sunnah

Kelompok Syiah sering mendegradasi riwayat shahih lain yang berbunyi:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha' no. 1594)

Mereka mengklaim bahwa riwayat "Al-Qur'an dan Sunnah" adalah rekayasa penguasa Bani Umayyah untuk menyingkirkan Ahlulbait. Padahal, secara substansi, Sunnah Nabi dan petunjuk Ahlulbait yang lurus tidak pernah bertentangan. Ahlulbait yang sejati adalah praktisi Sunnah yang paling terdepan.

Sanggahan Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Umat Islam dan para ulama mutaqaddimin (generasi terdahulu) telah memberikan bantahan ilmiah dan sistematis terhadap klaim Syiah terkait hadis ini.

+-----------------------------------------------------------------------------------+
|                        PERBANDINGAN PEMAHAMAN HADIS TSAKALAIN                     |
+------------------------------------+----------------------------------------------+
|        Pandangan Ahlus Sunnah      |               Penyimpangan Syiah             |
+------------------------------------+----------------------------------------------+
| 1. Al-Qur'an adalah sumber hukum  | 1. Al-Qur'an dan Ahlulbait sejajar sebagai   |
|    dan petunjuk utama yang mutlak. |    sumber hukum yang wajib diikuti.          |
|                                    |                                              |
| 2. Wasiat Ahlulbait berisi ajakan  | 2. Wasiat Ahlulbait adalah penetapan hak     |
|    menghormati dan menjaga hak.    |    imamah/kepemimpinan politik mutlak.       |
|                                    |                                              |
| 3. Ahlulbait mencakup seluruh      | 3. Ahlulbait dibatasi secara eksklusif hanya |
|    keluarga beriman & istri Nabi.  |    pada 12 Imam terentu yang diyakini ma'shum.|
+------------------------------------+----------------------------------------------+

Konteks Historis (Asbabul Wurud)

Sebab disampaikannya khotbah di Ghadir Khumm adalah karena adanya riak-riak ketidaksukaan dari sebagian prajurit terhadap tindakan Ali bin Abi Thalib RA sewaktu menjalankan tugas di Yaman. Setibanya di Ghadir Khumm dalam perjalanan pulang dari Haji Wada', Rasulullah SAW meluruskan pemahaman para sahabat dan menegaskan kedudukan Ali serta Ahlulbait agar dicintai dan tidak dimusuhi, bukan dalam rangka mengangkat Ali sebagai khalifah pengganti secara mendadak di hadapan ribuan jamaah.

Jika memang Hadis Tsakalain atau peristiwa Ghadir Khumm berisi penetapan Ali sebagai khalifah secara eksplisit (nash shahih sharih), mustahil ribuan sahabat Nabi—termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman—bersepakat untuk mengabaikannya. Para sahabat adalah generasi yang dipuji oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100)

Tuduhan bahwa mayoritas sahabat membelot dari perintah Nabi dalam Hadis Tsakalain secara tidak langsung mendegradasi integritas para sahabat dan kebenaran Al-Qur'an itu sendiri.

Bahaya Penyebaran Ajaran Syiah di Indonesia

Di Indonesia, narasi Hadis Tsakalain kerap dijadikan pintu masuk (entry point) oleh para dai Syiah untuk menarik simpati masyarakat yang awam. Mereka menggunakan pendekatan "cinta Ahlulbait" (muhibbin) sebagai simpati awal, sebelum perlahan-lahan menyuntikkan doktrin-doktrin destruktif lainnya, seperti:

  1. Pencelaan Terhadap Para Sahabat (Tsubb al-Shahabah): Mengafirkan atau menyesatkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan mayoritas sahabat yang tidak mendukung kepemimpinan Ali.

  2. Penolakan Terhadap Kitab Hadis Shahih: Menolak Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, lalu menggantinya dengan kitab-kitab rujukan Syiah seperti Al-Kafi yang sarat dengan riwayat bermasalah.

  3. Doktrin Taqiyyah: Menyembunyikan keyakinan asli di hadapan mayoritas Muslim Sunni demi mengamankan agenda penyebaran paham mereka.

  4. Ancaman terhadap Disintegrasi Bangsa: Membenturkan tatanan sosial keagamaan di Indonesia yang telah kokoh bertumpu pada mazhab Syafi'i dan akidah Asy'ariyah.

Urgensi Benteng Akidah Umat

Untuk mengantisipasi semakin meluasnya penyusupan paham ini, ada beberapa langkah strategis yang harus terus dilakukan oleh segenap elemen masyarakat dan ulama di Indonesia:

  • Edukasi Literasi Hadis: Mengajarkan kaidah musthalah hadis serta pemahaman hadis yang mutakalim dan proporsional kepada generasi muda di pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi.

  • Mendudukkan Posisi Ahlulbait Secara Proporsional: Menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kelompok yang paling sejati dalam mencintai Ahlulbait tanpa sikap ghuluw (berlebihan) seperti Syiah, dan tanpa sikap nashb (membenci) seperti Khawarij/Nawashib.

  • Penguatan Peran Lembaga Keagamaan: Mendorong peran aktif MUI, NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya dalam memberikan rambu-rambu keagamaan yang tegas terkait bahaya penyimpangan Syiah.

Penyimpangan makna Hadis Tsakalain oleh kelompok Syiah merupakan bentuk pemaksaan teks agar sesuai dengan konstruksi ideologi keimamaan mereka. Dengan memahami redaksi asli, konteks historis, dan penjelasan para ulama terpercaya, Umat Islam di Indonesia dapat membentengi diri serta keluarga dari ancaman ajaran sesat yang merusak akidah dan persatuan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: