Syiahindonesia.com - Dalam syariat Islam, Istighatsah adalah memohon pertolongan atau bantuan khusus dalam situasi sulit, darurat, dan di luar batas kemampuan manusia biasa. Karena Istighatsah merupakan bagian dari inti ibadah (mukhkhul 'ibadah), maka dalam prinsip Tauhid, permohonan tersebut wajib diarahkan secara langsung dan eksklusif hanya kepada Allah SWT (Ibadaat Mubaasyirah).
Namun, dalam praktik dan teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), konsep Istighatsah mengalami pergeseran makna dan penyimpangan doktrinal yang sangat mendasar. Mereka melegitimasi seruan permohonan pertolongan langsung kepada para Imam Ahlul Bait yang telah wafat—seperti “Ya Ali Madad” (Wahai Ali, tolonglah aku) atau “Ya Sahibaz Zaman Adrikni” (Wahai Pemilik Zaman/Imam Mahdi, temui dan tolonglah aku)—dengan keyakinan bahwa para Imam memiliki otoritas kosmis untuk mengabulkan doa dan menyelesaikan hajat manusia.
1. Pelanggaran terhadap Fondasi Tauhid Uluhiyyah
Penyimpangan utama Istighatsah ala Syiah terletak pada benturannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan pemurnian doa hanya kepada Allah SWT.
Setiap Muslim mengucapkan komitmen ini sekurang-kurangnya 17 kali sehari dalam shalat:
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Allah SWT juga menegaskan ketidakmampuan segenap makhluk—termasuk para hamba yang telah meninggal dunia—untuk mendengar dan mengabulkan doa dari kejauhan:
“Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (QS. Fathir: 13–14)
Meminta perlindungan, keselamatan, dan rezeki secara langsung kepada sosok yang sudah meninggal dunia (Ghaib/Ghairu Haadhir) merupakan bentuk perbuatan menyekutukan Allah (Syirik fi al-'Ibadah), sebab kemampuan mendengar seruan dari seluruh penjuru bumi dan mengabulkannya adalah sifat mutlak milik Allah semata.
2. Pengangkatan Derajat Imam Menjadi Tafwid (Kekuasaan Kosmis)
Untuk melegitimasi praktik Istighatsah ini, para ulama Syiah menciptakan doktrin Tafwid (penyerahan wewenang). Mereka mengklaim bahwa Allah SWT telah menyerahkan pengelolaan alam semesta, pembagian rezeki, dan penyelamatan hamba kepada para Imam Maksum.
Penyamaan Sifat Ketuhanan: Dalam kitab-kitab amalan Syiah (seperti Mafatih al-Jinan karya Abbas Al-Qummi), dimuat doa-doa yang meminta para Imam untuk mengampuni dosa, menyembuhkan penyakit, dan menyelamatkan dari azab neraka.
Pengkultusan Melebihi Batas (Ghuluw): Keyakinan bahwa para Imam hadir di mana-mana dan mengetahui segala kebutuhan batin pemohonnya merupakan bentuk atributif sifat Allah (Asma' was-Sifat) kepada manusia, yang secara tegas ditolak oleh ajaran Islam yang murni.
3. Rancunya Pemaknaan Tawasul dengan Istighatsah
Para da'i Syiah kerap mengelabuhi masyarakat dengan menyamakan antara Tawasul yang Disyariatkan dengan Istighatsah Syirkiyyah:
Tawasul Syar'i (Sesuai Sunnah): Memohon doa kepada Allah SWT dengan bertawasul melalui nama-nama-Nya yang agung (Asma'ul Husna), amal saleh diri sendiri, atau meminta doa dari hamba Allah yang masih hidup dan berada di hadapan kita.
Istighatsah Syi'i (Menyesatkan): Mengalihkan arah seruan doa (Nida') langsung kepada figur yang telah wafat agar ia membagikan rezeki atau menghilangkan musibah. Ini bukanlah bertawasul (menjadikan perantara kepada Allah), melainkan menjadikan figur tersebut sebagai sesembahan tandingan selain Allah.
4. Sikap Lepas Tangan para Imam Ahlul Bait
Praktik Istighatsah yang diarahkan kepada Sayyidina Ali dan para Imam Ahlul Bait sejatinya merupakan kedustaan atas nama mereka. Para Imam Ahlul Bait adalah keturunan Nabi yang paling murni tauhidnya dan paling taat beribadah hanya kepada Allah SWT.
Dalam riwayat-riwayat sejarah yang shahih, Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu secara konsisten mengajarkan anak-anaknya dan umat Islam untuk senantiasa menggantungkan segala hajat hanya kepada Allah. Beliau tidak pernah mengajarkan atau meredhai namanya dipanggil-panggil sebagai penolong ghaib di saat manusia menghadapi kesusahan.
Kesimpulan
Konsep Istighatsah dalam ajaran Syiah yang mengarahkan permohonan pertolongan ghaib kepada para Imam adalah bentuk penyimpangan teologis yang merusak ketauhidan seorang Muslim. Minta tolong dalam hal-hal di luar batas kemampuan makhluk wajib ditujukan secara murni dan langsung kepada Allah SWT, Tuhan pencipta alam semesta.
Ahlus Sunnah wal Jamaah memuliakan para Imam Ahlul Bait dengan mendoakan mereka, meneladani ketakwaan mereka, dan menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk pengkultusan dan kesyirikan—sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabatnya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: