Syiahindonesia.com - Kedudukan Sunnah atau Hadis Nabawi dalam ajaran Islam merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. Seluruh pilar syariat, mulai dari tata cara shalat, zakat, puasa, hingga hukum-hukum muamalah, dijelaskan secara terperinci melalui lisan dan perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh para sahabat rida. Namun, dalam aliran doktrin ajaran Syiah, otoritas hadis-hadis shahih yang dikumpulkan oleh ulama Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni) terus-menerus diragukan, ditolak, dan dituduh sebagai fitnah serta rekayasa.
Serangan terhadap keabsahan hadis Sunni merupakan strategi mendasar yang dilancarkan Syiah untuk meruntuhkan syariat Islam yang murni. Dengan mendiskreditkan kitab-kitab induk hadis seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Kutubus Sittah lainnya, paham Syiah berusaha memutus rantai transmisi ajaran Islam dari generasi sahabat kepada generasi berikutnya. Antisipasi terhadap ancaman ini di Indonesia menjadi prioritas penting guna membentengi keutuhan akidah dan tradisi keilmuan Islam yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
Kedudukan Penting Hadis dalam Memahami Islam
Al-Qur'an dan Hadis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Tanpa hadis, umat Islam tidak akan mampu menjalankan perintah-perintah dalam Al-Qur'an secara sempurna karena Al-Qur'an memuat hukum-hukum secara umum (ijmal), sedangkan hadis berfungsi sebagai penjelas (bayan).
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan fungsi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan sabdanya dalam Surah An-Nahl ayat 44:
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan."
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengancam siapa saja yang menolak keputusan dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Surah An-Nisa ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
Ulama Ahlussunnah telah menyusun ilmu Mustalahul Hadits dan Rijalul Hadits dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi, sebuah sistem verifikasi sejarah terketat di dunia yang tidak pernah dimiliki oleh peradaban maupun agama mana pun.
Bentuk Fitnah dan Propaganda Syiah terhadap Hadis Sunni
Guna menggolkan doktrin ketaatan mutlak kepada 12 Imam mereka (Imamah), ajaran Syiah melancarkan berbagai tuduhan palsu dan fitnah terhadap bangunan keilmuan hadis Ahlussunnah. Beberapa bentuk propaganda tersebut di antaranya:
1. Penolakan terhadap Periwayatan Para Sahabat Nabi
Akar utama penolakan Syiah terhadap hadis-hadis Sunni adalah akidah mereka yang mengkafirkan dan memvonis murtad mayoritas sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah beliau wafat, kecuali beberapa orang saja seperti Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, Salman Al-Farisi, dan Abu Dzar Al-Ghifari.
Tokoh-tokoh periwayat hadis terbesar seperti Abu Hurairah, 'Aisyah binti Abi Bakar, Umar bin Khattab, dan Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhum dituduh sebagai pembohong dan pembuat hadis palsu oleh ulama Syiah. Padahal, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah perawi terbanyak yang menjaga ribuan sunnah Nabi. Dengan menolak periwayatan para sahabat, ajaran Syiah secara otomatis membuang mayoritas ajaran Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala secara tegas telah meredhai para sahabat Nabi dalam Surah At-Taubah ayat 100:
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
2. Tuduhan Bahwa Kitab Hadis Sunni Adalah Rekayasa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
Ulama dan propaganda Syiah sering membodohi umat dengan narasi bahwa kitab-kitab hadis seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah hasil pesanan politik dari para penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah untuk menindas Ahlul Bait.
Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar secara historis. Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasa'i, dan Imam Ibn Majah adalah para ulama independen yang menjelajahi berbagai penjuru dunia Islam demi menyaring ratusan ribu riwayat dengan kaidah sanad yang sangat ketat tanpa terpengaruh oleh dominasi politik mana pun.
3. Mengganti Hadis Nabi dengan Ucapan Para Imam (Kutubul Arba'ah)
Sebagai ganti dari kitab-kitab hadis shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Syiah menyusun kitab-kitab Rujukan Utama (Kutubul Arba'ah) mereka sendiri, yaitu:
Al-Kafi karya Al-Kulaini
Man La Yahduruhu Al-Faqih karya Al-Shaduq
Tahdzib Al-Ahkam karya At-Tusi
Al-Istibshar karya At-Tusi
Dalam kitab-kitab ini, mayoritas riwayat tidak memiliki sanad yang bersambung sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan hanya berujung pada ucapan para Imam mereka yang dianggap memiliki sifat ma'shum (terbebas dari dosa dan salah). Bahkan, periwayat-periwayat dalam kitab Syiah banyak yang dikenal sebagai perawi penderma kebohongan (Kadzdzab) dan penganut paham Ghulat (ekstrim).
Perbandingan Metodologi Hadis Sunni vs Syiah
Untuk memahami betapa jauhnya penyimpangan ajaran Syiah dalam menjaga ajaran Islam, kita dapat melihat perbedaan mendasar metodologi penetapan hadis antara Ahlussunnah dan Syiah:
Bahaya Laten Penolakan Hadis Sunni bagi Umat Islam Indonesia
Penyebaran paham yang meragukan hadis-hadis Sunni di Indonesia memicu ancaman serius bagi ketahanan akidah dan stabilitas umat:
Munculnya Paham Ingkar Sunnah Baru: Keraguan yang ditanamkan Syiah terhadap Shahih Bukhari dan Shahih Muslim membuat sebagian awam terjerumus menjadi penolak hadis secara keseluruhan (Inkarus Sunnah).
Perusakan Syariat Islam: Tanpa hadis-hadis shahih, pelaksanaan ibadah harian seperti shalat dan amalan praktis lainnya kehilangan landasan hukum, sehingga membuka ruang bagi bid'ah dan modifikasi ibadah.
Pencemaran Nama Baik Para Sahabat Nabi: Narasi kebencian terhadap para sahabat Nabi yang menjadi periwayat hadis merusak akhlak dan kehormatan sejarah perjuangan Islam awal.
Urgensi Membentengi Keabsahan Hadis Nabawi
Melihat masifnya fitnah dan keraguan yang disebarkan oleh penganut Syiah di Indonesia, upaya penanggulangan harus dilakukan secara terstruktur:
Meningkatkan Literasi Ilmu Hadis: Pengajaran dasar-dasar ilmu Mustalahul Hadits harus ditingkatkan di pesantren, sekolah, dan majelis taklim agar masyarakat memahami betapa kokohnya sistem verifikasi hadis Sunni.
Membongkar Kepalsuan Kitab Rujukan Syiah: Para ulama dan akademisi Islam perlu secara aktif menjelaskan kelemahan metodologi dan kepalsuan isi kitab-kitab utama Syiah kepada publik.
Menegaskan Pengagungan terhadap Para Sahabat: Menanamkan rasa cinta, hormat, dan prasangka baik (husnuzhan) kepada seluruh sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Islam yang jujur dan terpercaya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim:
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
"Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (takaran) emas salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan
Fitnah dan tuduhan yang dilancarkan ajaran Syiah terhadap keabsahan hadis-hadis Sunni pada hakikatnya adalah usaha untuk menghancurkan fondasi agama Islam itu sendiri. Dengan merusak kepercayaan umat terhadap para sahabat sebagai pembawa hadis, ajaran Syiah berupaya meruntuhkan seluruh syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia wajib bersatu untuk mempelajari, membela, dan memegang teguh hadis-hadis shahih berdasarkan pemahaman Salafus Shalih demi kemurnian agama hingga akhir zaman.
(albert/syiahindonesia.com
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: