Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyesatan Pemahaman tentang Takdir

Syiahindonesia.com - Rukun iman merupakan fondasi utama akidah seorang Muslim. Salah satu pilar yang sangat krusial di dalamnya adalah beriman kepada qada dan qadar (takdir baik maupun takdir buruk yang telah ditetapkan oleh Allah SWT). Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi dan telah menuliskan seluruh ketetapan-Nya di Lauh Mahfuzh adalah syarat sahnya keimanan seseorang.

Namun, di dalam bangunan teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), konsep takdir ini mengalami penyesatan pemahaman yang sangat mendasar. Karena mengadopsi pemikiran rasionalis ekstrem dari sekte Mu'tazilah serta terbentur oleh berbagai kegagalan ramalan para imam mereka, teologi Syiah melahirkan doktrin Bada' yang merusak pemahaman tauhid tentang sifat Kemahailmuan Allah SWT.

Berikut adalah beberapa penyesatan pemahaman kelompok Syiah terkait takdir dan ketetapan Allah:

1. Menisbatkan Sifat "Lupa" dan "Ketahuannya Hal Baru" pada Allah (Doktrin Bada')

Penyesatan paling membahayakan dalam teologi Syiah terkait takdir adalah doktrin Bada' (al-Bada'). Secara bahasa, Bada' berarti tampak setelah sebelumnya tersembunyi, atau munculnya pemikiran baru setelah sebelumnya tidak tahu.

Sisi Penyesatannya: Di dalam kitab-kitab induk Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab khusus bernama Bab al-Bada'. Mereka meriwayatkan klaim bahwa Allah bisa "mengubah pikiran-Nya" karena baru mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak Dia ketahui, atau Allah menetapkan suatu takdir lalu baru menyadari ada kekeliruan/perubahan sehingga Dia membatalkan ketetapan tersebut.

Ulama Syiah bahkan menyebutkan riwayat ekstrem: "Tidak ada bentuk peribadatan kepada Allah yang lebih agung dibandingkan dengan meyakini al-Bada'." Secara tidak langsung, doktrin ini menuduh Allah SWT memiliki kebodohan (al-jahl), ketidaktahuan atas masa depan, dan sifat bolak-balik sebagaimana makhluk—sebuah penodaan berat terhadap kemuliaan Tauhid Rububiyah.

2. Menggunakan Mitos Bada' untuk Menutupi Ramalan Palsu Para Imam

Awal mula munculnya doktrin Bada' dalam sejarah Syiah bukanlah murni diskusi akademis, melainkan legitimasi teologis untuk menyelamatkan muka para ulama dan pimpinan Syiah dari kebohongan ramalan.

Sisi Penyesatannya: Dalam catatan sejarah, Imam Ja'far ash-Shadiq (salah satu tokoh Ahlul Bait yang dicatut namanya oleh Syiah) pernah diramalkan oleh penganut Syiah akan diteruskan keimamannya oleh putranya yang bernama Ismail. Namun, Ismail ternyata wafat terlebih dahulu sewaktu ayahnya masih hidup.

Untuk menutupi janji palsu dan kekecewaan para pengikutnya, para teolog Syiah saat itu menciptakan dalih bahwa "Allah telah mengubah keputusan-Nya (terjadi Bada' pada Allah) terkait kepemimpinan Ismail." Setiap kali ramalan atau klaim gaib para imam Syiah tidak terbukti di lapangan, mereka dengan mudah berdalih bahwa "Allah baru saja mengubah takdir-Nya". Takdir Allah dijadikan alat pembenaran atas kebohongan narasi sektarian mereka.

3. Mengadopsi Paham Jabariyyah dan Qadariyyah Secara Bersamaan (Kontradiksi Teologi)

Dalam memahami perbuatan manusia (af'al al-'ibad) dan kaitannya dengan takdir, Syiah terjebak dalam kontradiksi ekstrem yang meminjam pemikiran sekte-sekte menyimpang dalam sejarah Islam.

Sisi Penyesatannya:

  • Sisi Qadariyyah/Mu'tazilah: Dalam banyak pembahasan, Syiah menegaskan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara mutlak tanpa ada campur tangan kehendak (masyi'ah) dan takdir Allah. Ini mencabut kekuasaan Allah atas alam semesta.

  • Sisi Jabariyyah Ekstrem (Pengkultusan): Di sisi lain, ketika membahas para imam mereka, Syiah berubah menjadi ekstrem Jabariyyah. Mereka meyakini bahwa para imam dikendalikan oleh takdir khusus yang maksum, memiliki wewenang mengontrol atom-atom alam semesta (wilayah takwiniyyah), dan takdir seluruh alam berada di bawah kendali ruhaniah para imam.

4. Meruntuhkan Keyakinan terhadap Lauh Mahfuzh dan Ilmu Ghaib Allah

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah SWT telah menuliskan takdir seluruh makhluk di Lauh Mahfuzh 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih. Ilmu Allah bersifat azali (tanpa permulaan) dan abadi (tanpa akhir).

Sisi Penyesatannya: Dengan menyisipkan doktrin bahwa catatan takdir bisa berubah-ubah di tingkat ilmu zat Allah secara mendadak (Bada'), Syiah secara implisit meragukan kepastian isi Lauh Mahfuzh. Jika Takdir Allah bisa berubah karena Allah "baru tahu" situasi di lapangan, maka tidak ada lagi kepastian hukum syariat, janji surga, ancaman neraka, maupun kebenaran nubuat para Nabi. Semuanya menjadi spekulatif dan tidak pasti.

Kesimpulan

Penyesatan pemahaman kelompok Syiah terhadap takdir melalui doktrin Bada' merupakan salah satu penyimpangan akidah yang paling fatal. Demi membela keharusan kesucian ramalan para imam mereka, teolog Syiah tega mengorbankan sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT dan menisbatkan ketidaktahuan serta sifat pelupa kepada Sang Pencipta.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, menjaga kemurnian tauhid dengan meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi tanpa ada kekeliruan sedikit pun adalah benteng utama. Memahami cacat teologi Bada' Syiah membantu kita semakin bersyukur atas indahnya akidah Islam yang memuliakan Allah di atas segala prasangka manusia.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: