Breaking News
Loading...

Syiah dan Klaim bahwa Imam Mereka Maksum

Syiahindonesia.com - Salah satu pokok ajaran paling mendasar yang membedakan teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas) dengan mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah) adalah doktrin Ismah, yaitu keyakinan bahwa para Imam mereka memiliki sifat maksum (terpelihara secara mutlak dari segala bentuk dosa, kesalahan, kelalaian, dan kekhilafan).

Dalam pandangan Syiah, derajat kemaksuman para Imam setara—bahkan dalam beberapa literatur dianggap melebihi—derajat para nabi dan rasul. Namun, jika doktrin ini dibedah menggunakan kacamata Al-Qur'an, Sunnah yang otentik, serta rasionalitas sejarah, klaim kemaksuman para Imam menghadapi berbagai tembok benturan teologis dan faktual yang sulit dipertanggungjawabkan.

1. Ketiadaan Dalil Sharih dari Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab petunjuk utama yang memuat prinsip-prinsip akidah Islam secara terang benderang. Jika kemaksuman dua belas sosok manusia setelah Nabi Muhammad SAW merupakan syarat sah keimanan yang menentukan keselamatan di akhirat, niscaya Allah SWT menetapkannya secara eksplisit dalam Al-Qur'an.

  • Pemelintiran Ayat Tathhir (QS. Al-Ahzab: 33): Kaum Syiah sering menjadikan ayat ini ("Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait...") sebagai legitimasi utama doktrin Ismah. Namun, penafsiran ini cacat secara bahasa dan konteks (Sya'n an-Nuzul). Ayat tersebut memuat kehendak syar'i Allah untuk menyucikan rumah tangga Nabi (termasuk istri-istri beliau), bukan penetapan sifat maksum secara otomatis pada silsilah keturunan tertentu.

  • Pengangkatan Nabi Ibrahim AS (QS. Al-Baqarah: 124): Penggunaan ayat "...Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim" untuk mengklaim bahwa Imam harus maksum merupakan bentuk analogi yang dipaksakan (qiyas ma'al fariq). Tidak menjadi zalim tidak otomatis berarti manusia tersebut maksum dari segala kesalahan kecil maupun kelalaian harian.

2. Pertentangan dengan Karakter Hakiki Manusia

Dalam aqidah Islam yang lurus, sifat maksum hanya diberikan secara terbatas kepada para Nabi dan Rasul dalam kapasitas mereka menyampaikan wahyu Allah SWT kepada umat manusia (Ma'shum fi at-Tabligh). Adapun selain para Nabi, seluruh manusia—sehebat dan semulia apa pun kedudukan spiritualnya—tetaplah hamba yang tidak luput dari sifat kemanusiaan.

Rasulullah SAW bersabda secara umum:

"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)

Mengangkat manusia biasa di luar maqam Kenabian menuju derajat maksum mutlak secara dogmatis merupakan bentuk pengkultusan berlebihan (Ghuluw) yang dilarang keras dalam syariat.

3. Kontradiksi Faktual dalam Catatan Sejarah

Jika para Imam Syiah benar-benar maksum dan memiliki pengetahuan ghaib (Ilm al-Ghaib) sebagaimana yang diklaim dalam kitab Al-Kafi, niscaya seluruh keputusan politik, sosial, dan personal mereka akan selalu sempurna tanpa cela dan tidak pernah memicu penyesalan atau kekeliruan strategi. Namun, catatan sejarah justru menunjukkan realitas sebaliknya:

  • Keputusan dan Kepasrahan Politik: Peristiwa perdamaian Sayyidina Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, serta keputusan Sayyidina Husain radhiyallahu 'anhu memenuhi undangan penduduk Kufah—yang berakhir pada tragedi Karbala akibat pengkhianatan warga Kufah—menunjukkan dinamika ijtihad manusiawi, bukan tindakan yang didikte oleh skenario maksum atau pengetahun ghaib yang tak terbatas.

  • Ketidaksepakatan di Antara Keluarga Ahlul Bait: Sejarah mencatat adanya perbedaan pendapat, ijtihad, dan pandangan fikih di antara sesama anggota keluarga Ahlul Bait sendiri. Jika seluruh Imam maksum, mustahil terjadi perbedaan pandangan hukum di antara mereka.

4. Sikap Kerendahan Hati Para Imam Ahlul Bait

Runtuhnya klaim Ismah paling tegas justru datang dari ucapan dan perilaku para Imam Ahlul Bait itu sendiri. Dalam literatur sejarah dan kitab-kitab doa yang shahih, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keturunannya selalu menampilkan sikap menghamba yang tulus, mengakui keterbatasan diri, dan bermohon ampunan kepada Allah SWT.

Dalam salah satu khutbahnya yang dicatat dalam kitab Syiah sendiri (Nahjul Balaghah, Khutbah 216), Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu secara terbuka pernah menyatakan kepada rakyatnya:

"Janganlah kalian menahanku dari memberikan hak... dan janganlah kalian menyangka aku merasa berat terhadap kebenaran yang dikatakan kepadaku, karena aku tidaklah merasa diriku terbebas dari kesalahan (maksum), dan aku tidak merasa aman dari kesalahan dalam perbuatanku, kecuali jika Allah mencukupkan bagiku apa yang Dia lebih kuasai daripada diriku."

Pernyataan lugas dari Sayyidina Ali ini secara langsung membantah doktrin Ismah yang diciptakan oleh para ideolog Syiah generasi belakangan.

Kesimpulan

Klaim kemaksuman para Imam dalam ajaran Syiah merupakan konstruksi teologis yang dibangun untuk menopang otoritas mutlak para pemimpin sektarian. Doktrin ini tidak memiliki pijakan otentik dari Al-Qur'an, menyelisihi hadis-hadis shahih, serta bertentangan dengan pengakuan jujur dari para Imam Ahlul Bait sendiri.

Ahlus Sunnah wal Jamaah memuliakan dan mencintai Ahlul Bait Nabi SAW sesuai dengan porsinya: sebagai hamba-hamba Allah yang saleh, teladan dalam ikhlas dan ketakwaan, namun tetap sebagai manusia biasa yang tidak disifati dengan kemaksuman mutlak milik para Nabi.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: