Breaking News
Loading...

Syiah dan Pemalsuan Dalil untuk Menguatkan Ajarannya

Syiahindonesia.com - Keutuhan dan otentisitas ilmu dalam Islam terjaga berkat tradisi sanad (al-isnad). Para ulama salaf menetapkan kaidah kritis yang sangat ketat untuk menyaring mana riwayat yang benar-benar berasal dari Rasulullah SAW dan mana yang buatan manusia. Imam Abdullah bin al-Mubarak menegaskan: "Sanad bagian dari agama. Jika bukan karena sanad, niscaya setiap orang akan berkata sekehendak hatinya."

Dalam perjalanan sejarah, kelompok Syiah—terutama sekte Rafidhah/Itsna Asyariyyah—mencatat rekor terbanyak dalam memproduksi dan merekayasa riwayat palsu (hadits maudhu'). Langkah ini ditempuh demi menegakkan konstruksi dogma mereka, seperti Imamah, pengafiran Sahabat Nabi, hingga Taqiyyah, yang semuanya tidak memiliki landasan kokoh dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih.

1. Kesaksian Ulama Klasik tentang Kebiasaan Pemalsuan Riwayat oleh Syiah

Keterlibatan penganut Syiah dalam fabrikasi dalil bukan sekadar tuduhan tanpa dasar, melainkan fakta historis yang dicatat oleh para pemuka ulama hadis dan pemikir Islam lintas zaman:

  • Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H): Beliau memberikan kesaksian tegas mengenai kejujuran kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu:

    “Aku belum pernah melihat pengikut hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu (berdusta) melebihi kelompok Rafidhah (Syiah).” (Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala')

  • Imam Malik bin Anas (wafat 179 H): Ketika ditanya tentang kelompok Rafidhah, beliau menasihati:

    “Jangan berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena sesungguhnya mereka selalu berdusta.”

  • Hammad bin Salamah: Beliau menceritakan kesaksian seorang mantan tokoh Syiah Rafidhah yang telah bertaubat: "Jika kami menyukai atau menyepakati suatu pendapat, kami langsung menjadikannya sebagai hadis (dengan merekayasa sanadnya)."

2. Modus Operandi Pemalsuan Dalil oleh Kelompok Syiah

Untuk menancapkan akidahnya di tengah masyarakat, para ideolog dan penyusun kitab Syiah menggunakan beberapa pola rekayasa riwayat:

A. Menisbatkan Dusta kepada Para Imam Ahlul Bait (Al-Kadzib 'ala Ahlil Bait)

Pola paling dominan adalah mencatut nama tokoh-tokoh mulia Ahlul Bait—seperti Sayyidina Ali, Ja'far ash-Shadiq, dan Muhammad al-Baqir. Ribuan riwayat fiktif dimasukkan ke dalam kitab-kitab induk Syiah (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini) seolah-olah diucapkan oleh para Imam tersebut. Padahal, para Imam Ahlul Bait lepas tangan dari doktrin-doktrin penyimpangan tersebut.

B. Tahrif (Pemelintiran Makna Ayat Al-Qur'an)

Karena tidak menemukan satu pun ayat Al-Qur'an yang menyebutkan kewajiban Imamah atau nama 12 Imam mereka secara eksplisit, kaum Syiah melakukan tahrif ma'nawi (pemelintiran penafsiran). Kata-kata umum dalam Al-Qur'an seperti Al-Amanah, An-Nur, Ash-Shirath, atau Al-Imam dipaksakan artinya hanya merujuk kepada Sayyidina Ali dan para Imam Syiah.

C. Memotong Context dan Merekayasa Sanad Hadis Sunni

Di hadapan publik Ahlus Sunnah, dai Syiah sering menggunakan taktik mencatut penggalan hadis dari Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, lalu membuang konteks asli (Asbabun Nuzul/Wurud) serta menyisipkan tafsiran liar agar terkesan dukung terhadap doktrin Imamah atau celaan kepada Sahabat.

3. Contoh Hadis Palsu Populer Buatan Syiah

  1. Hadis Kota Ilmu dan Ali Pintunya Version Pemalsuan Ekstrem: Memutarbalikkan riwayat-riwayat keutamaan menjadi klaim teologis bahwa ilmu agama terputus dari para Sahabat lain dan hanya tersisa pada Sayyidina Ali.

  2. Hadis Penciptaan Nur para Imam: Riwayat-riwayat ghaib yang menggambarkan bahwa para Imam diciptakan dari cahaya khusus sebelum penciptaan alam semesta, sebuah konsep pengkultusan (ghuluw) yang menyerupai dogma mistisisme asing.

  3. Riwayat Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar: Hadis-hadis buatan yang menggambarkan dua mertua dan khalifah Rasulullah SAW tersebut sebagai figur jahat yang akan diazab secara khusus.

Kesimpulan

Metode pemalsuan dalil merupakan pilar penopang utama keberlangsungan teologi Syiah. Tanpa riwayat-riwayat rekayasa dan pemelintiran makna, doktrin Imamah, Ismah, hingga keghaiban Imam ke-12 akan runtuh secara ilmiah.

Bagi umat Islam, menyadari taktik kedustaan ini adalah langkah penting untuk membentengi akidah. Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW telah sempurna dan disampaikan secara transparan melalui sanad para Sahabat dan Ulama yang jujur, tanpa memerlukan sandiwara kepalsuan maupun cerita rekaan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: