Syiahindonesia.com - Akhlak mulia (Makarim al-Akhlaq) merupakan salah satu misi utama dari diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi. Dalam syariat Islam yang lurus, akhlak bukanlah sekadar pilihan etis atau etika sosial semata, melainkan buah langsung dari ketakwaan dan keotentikan akidah seorang Muslim. Kejujuran, keadilan, cinta kasih sesama Muslim, serta pemeliharaan lisan merupakan pilar-pilar utama akhlak Islam.
Namun, di dalam konstruksi teologi dan praktik keagamaan Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), konsep akhlak mengalami kerancuan metodologis dan distorsi yang mendasar. Penerapan doktrin-doktrin sektarian seperti Taqiyyah (kepura-puraan) dan tradisi Tabarra' (pencelaan terhadap para Sahabat Nabi) secara langsung mengikis nilai-nilai akhlak Islam yang murni.
1. Melegitimasi Kebohongan Melalui Doktrin Taqiyyah
Kejujuran (Ash-Shidq) adalah pondasi dasar akhlak Islam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kejujuran membimbing menuju kebaikan, sedangkan kebohongan membimbing menuju kejahatan.
Namun, dalam ajaran Syiah, batas antara kejujuran dan kebohongan menjadi kabur akibat pelembagaan doktrin Taqiyyah:
Dusta sebagai Ibadah: Kitab-kitab induk Syiah (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini) meriwayatkan bahwa Taqiyyah adalah sembilan persepuluh dari agama, dan barangsiapa tidak ber-Taqiyyah maka ia dianggap tidak memiliki agama.
Pengikisan Integritas Sosial: Ketika menyembunyikan keyakinan, berpura-pura menyetujui hal yang diyakini salah, dan melakukan manipulasi lisan dilegitimasi atas nama agama, maka integritas moral dan nilai kejujuran murni dalam berinteraksi sosial secara otomatis tercederai.
2. Tradisi Caci Maki dan Penistaan (Lahn dan Subāb)
Islam mengajarkan kesantunan lisan dan melarang keras caci maki, umpatan, maupun tuduhan jahat, bahkan terhadap musuh sekalipun. Nabi SAW bersabda: "Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, dalam literatur dan ritual Syiah, penistaan lisan justru dijadikan bagian dari ekspresi keagamaan melalui doktrin Tabarra' (berlepas diri dari musuh-musuh Ahlul Bait):
Pencelaan Terhadap Sahabat dan Istri Nabi: Ulama-ulama Syiah secara terbuka maupun terselubung mengajarkan ritual celaan (La'n) terhadap figur-figur mulia seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah radhiyallahu 'anhum.
Merusak Kesantunan Beragama: Mendidik umat untuk membenci, mengutuk, dan mencaci para generasi terbaik Islam (Khairul Qurun) merupakan penyimpangan akhlak yang sangat bertolak belakang dengan karakter keislaman yang meneduhkan dan beradab.
3. Standar Ganda Akhlak: Sektarianisme di Atas Keadilan
Akhlak Islam bersifat universal dan berlandaskan keadilan mutlak ('Adl). Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berlaku adil kepada siapa pun, tanpa memandang suku, ras, maupun kelompok.
Dalam teologi Syiah, standar akhlak dan persaudaraan (Ukhuwah) mengalami penyempitan sektarian:
Eksklusivisme Persaudaraan: Nilai kasih sayang, kehormatan darah, dan harta sesama Muslim sering kali hanya dibatasi untuk sesama penganut doktrin Imamah (Syiah).
Penolediran Terhadap Mayoritas Muslim: Literatur klasik Syiah kerap menempatkan mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah) dalam kategori Nawashib (musuh Ahlul Bait) yang berimplikasi pada rendahnya pemenuhan hak-hak akhlak syar'i terhadap mereka.
Kesimpulan
Penyimpangan Syiah dalam memahami akhlak Islam terjadi karena nilai-nilai moralitas diintimidasi oleh doktrin teologi sektarian. Ketika kepura-puraan (Taqiyyah) dianggap sebagai kesalehan dan caci maki (La'n) dijadikan bentuk pengabdian, maka akhlak telah dicabut dari ruh aslinya yang lurus.
Bagi umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah), akhlak mulia adalah cerminan dari kemurnian tauhid. Kejujuran lisan, kebersihan hati dari kebencian terhadap para Sahabat, serta sikap adil kepada seluruh manusia merupakan teladan abadi yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: