Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebiasaannya Mengkafirkan Umat Islam

Syiahindonesia.com – Di tengah gempuran wacana toleransi dan ukhuwah Islamiyah yang kerap digaungkan di ruang publik, terdapat sebuah realitas teologis mendasar yang kerap ditutupi oleh para misionaris Syi'ah Rafidhah. Di balik slogan-slogan persatuan, literatur primer dan doktrin inti mazhab Syiah menyimpan tradisi takfir (penghafiran) yang sangat ekstrem terhadap mayoritas umat Islam (Ahlussunnah wal Jama'ah).

Bagi kaum muslimin, status keislaman seseorang diikat oleh dua kalimat syahadat, penegakan salat, pembayaran zakat, serta keimanan kepada rukun iman yang termaktub dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Namun, di dalam teologi Syiah, tolok ukur keimanan telah digeser secara mendasar: keyakinan terhadap kewilayahan (wilayah) 12 imam dijadikan sebagai syarat mutlak sahnya iman dan Islam seseorang. Akibat dari doktrin ini, siapa saja yang tidak memercayai kepemimpinan 12 imam—yang mencakup mayoritas umat Islam sepanjang sejarah—dianggap keluar dari lingkaran Islam atau setidaknya berstatus kafir di akhirat.

1. Doktrin Wilayah sebagai Syarat Mutlak Keislaman

Di dalam kitab-kitab otoritatif Syiah, seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, disebutkan berbagai riwayat yang menempatkan rukun Wilayah (kepemimpinan 12 imam) di atas rukun-rukun Islam lainnya. Salah satu riwayat yang sangat terkenal dalam kitab tersebut berbunyi:

"Islam dibangun di atas lima perkara: salat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Dan tidak ada seruan yang lebih ditekankan sebagaimana seruan terhadap wilayah."

Dampak teologis dari penetapan wilayah sebagai rukun utama ini sangat fatal. Dalam pandangan ulama-ulama klasik Syiah seperti Ibn Babawayh (Syaikh Ash-Shaduq), Al-Mufid, hingga Al-Majlisi, barang siapa yang mengabaikan atau menolak salah satu dari 12 imam, maka posisinya sama seperti orang yang menolak seluruh nabi. Dari sudut pandang ini, ratusan juta umat Islam Sunni yang tidak meyakini doktrin Imamah secara otomatis terkategori sebagai pihak yang menyimpang dan tidak beriman.

2. Penghafiran Terhadap Para Sahabat Utama Nabi SAW

Sikap takfir kelompok Syiah tidak hanya menyasar umat Islam awam, tetapi juga menyasar generasi terbaik Islam, yaitu para sahabat Nabi Muhammad SAW. Doktrin ini berakar dari keyakinan bahwa mayoritas sahabat telah murtad pasca-wafatnya Rasulullah SAW karena dianggap mengkhianati penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin.

Di dalam kitab Al-Kafi (Jilid 8, Halaman 245), tertulis narasi takfir yang sangat lugas:

"Manusia (para sahabat) murtad setelah wafatnya Nabi SAW kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dharr Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi."

Tiga Khulafaur Rasyidin—Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan—beserta para istri Nabi seperti Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar, kerap menjadi sasaran utama penistaan (Tha'n) dan penghafiran dalam tradisi doa serta ritual mereka, seperti dalam bacaan Dua Sanamain Quraish (Doa Dua Berhala Quraisy).

3. Pengecap Sebutan Nawashib bagi Umat Islam Sunni

Untuk mengelabui pandangan publik, para mullah Syiah zaman modern sering kali menyatakan bahwa mereka tidak mengkafirkan kaum Sunni, melainkan hanya mengkafirkan kelompok Nawashib (orang-orang yang membenci Ahlul Bait). Namun, apabila dibongkar dalam literatur fikih dan akidah internal mereka, definisi Nawashib versi Syiah memiliki makna yang sangat manipulatif.

Ulama besar Syiah seperti Al-Hurr Al-Amili dan Asy-Syarif Al-Murtada menegaskan dalam karya-karya mereka bahwa yang dimaksud dengan Nashibi (bentuk tunggal dari Nawashib) bukan hanya orang yang terang-terangan membenci Ali bin Abi Thalib, melainkan siapa saja yang mendahulukan kepemimpinan Abu Bakar dan Umar di atas Ali bin Abi Thalib. Dengan definisi ini, seluruh pengikut mazhab Ahlussunnah wal Jama'ah—yang memuliakan Abu Bakar dan Umar—secara otomatis dimasukkan ke dalam kategori Nawashib yang halal darah dan hartanya dalam hukum internal mereka.

4. Taktik Taqiyyah dalam Menyembunyikan Doktrin Takfir

Jika doktrin takfir ini begitu mengakar dalam ajaran Syiah, mengapa di panggung diplomasi publik para tokoh mereka selalu menyerukan "Ukhuwah Islamiyah"? Jawabannya terletak pada doktrin Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan/berpura-pura).

Dalam kondisi mayoritas atau ketika berada di lingkungan umat Islam Sunni, pengikut Syiah diperintahkan untuk menjalankan taqiyyah guna melindungi diri dan melancarkan agenda propaganda. Mereka akan menunjukkan sikap bersahabat, salat di belakang imam Sunni, dan menyuarakan toleransi. Namun, ketika berada dalam majelis tertutup (Husainiyyah) atau dalam literatur-literatur tulisan mereka, ajaran takfir dan pengultusan imam tetap diajarkan secara masif.

Kesimpulan

Kebiasaan mengkafirkan umat Islam yang berseberangan paham merupakan akar bahaya laten dari ideologi Syiah Rafidhah. Doktrin takfir ini tidak hanya merusak nilai-nilai persaudaraan Islam yang sejati, tetapi juga mengancam stabilitas sosial-keagamaan di tengah masyarakat Muslim.

Mengenali hakikat ajaran takfir Syiah bukan bertujuan untuk menyebarkan kebencian, melainkan sebagai bentuk kewaspadaan akidah (Hifdhul 'Aqidat). Umat Islam perlu bersikap kritis terhadap narasi-narasi manis yang dibawakan oleh misionaris Syiah dan tetap berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah yang menghormati seluruh sahabat Nabi serta merangkul sesama Muslim yang menegakkan syahadat secara benar dan murni.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: