Syiahindonesia.com - Ulama merupakan pewaris para Nabi (Waratsatul Anbiya') yang mengemban amanah besar dalam menjaga keotentikan syariat, mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah, serta membimbing moralitas umat Islam. Sepanjang sejarah peradaban Islam, ulama-ulama ternama Ahlus Sunnah wal Jamaah—mulai dari para imam mazhab fikih (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal), para pakar hadis (Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan Kutubus Sittah), hingga para pembela akidah Salaf—telah mendedikasikan hidup mereka untuk menjaga ketepatan ajaran agama dari pemalsuan dan penyesatan.
Namun, di dalam literatur dan tradisi teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), para ulama pengawal Sunnah ini justru dijadikan target pencemaran nama baik, narasi fitnah, dan pengafiran secara sistematis. Demi mempertahankan dogma Imamah dan doktrin penolakan terhadap warisan ilmu para Sahabat Nabi, para ideolog Syiah berupaya meruntuhkan kredibilitas para ulama Sunni di mata masyarakat umum.
1. Narasi Pengafiran dan Pembunuhan Karakter Ulama Hadis
Fokus utama serangan fitnah kelompok Syiah tertuju kepada para ulama pilar penyusun kitab-kitab hadis shahih, seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Dawud. Karena kitab-kitab hadis shahih tersebut memuat ribuan riwayat otentik yang memuji keutamaan Khulafaur Rasyidin dan para Istri Nabi, keberadaan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim menjadi ancaman langsung bagi narasi teologi Syiah.
Beberapa bentuk fitnah yang direproduksi dalam literatur Syiah meliputi:
Tuduhan Pembenci Ahlul Bait (Al-Nawasib): Para ulama hadis Sunni dituduh secara sepihak sebagai Nashibi (kelompok yang membenci Sayyidina Ali dan keluarganya) hanya karena mereka juga meriwayatkan hadis-hadis yang memuji Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Pemalsuan Niat dan Kredibilitas: Ulama penyusun hadis dituduh sebagai "alat propaganda penguasa" Bani Umayyah atau Bani Abbas yang sengaja merekayasa hadis palsu demi uang atau jabatan. Padahal, sejarah mencatat secara shahih bagaimana ketatnya penyaringan sanad (rijalul hadits) dan independensi ketakwaan para ulama tersebut.
2. Penyesatan terhadap Para Imam Mazhab Fikih
Empat Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) yang menjadi rujukan fikih mayoritas umat Islam di dunia juga tidak luput dari penyesatan dan tuduhan destruktif dari pihak Syiah:
Tuduhan Mengabaikan Ilmu Ahlul Bait: Kaum Syiah mempropagandakan klaim fiktif bahwa para Imam Mazhab secara sengaja membuang ajaran Fikih Ahlul Bait dan membuat-buat hukum baru menggunakan akal (ra'yu) semata.
Klaim Kepemilikan Sepihak: Di sisi lain, ketika menghadapi publik Sunni, propagandis Syiah sering mengklaim bahwa Imam Abu Hanifah dan Imam Malik adalah "murid" dari Imam Ja'far ash-Shadiq, lalu menyimpulkan bahwa seluruh mazhab Sunni secara tidak langsung berada di bawah bayang-bayang otoritas Syiah. Klaim historis ini dipotong dari konteksnya, sebab para Imam Mazhab mengambil ilmu dari ratusan guru ulama di Makkah, Madinah, Kufah, dan Basrah, serta tetap teguh pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
3. Taktik Penyesatan Berbasis Syubhat di Era Modern
Di era digital dan ruang akademik modern, strategi fitnah terhadap ulama Sunni dikemas secara lebih halus namun berbahaya melalui beberapa pendekatan:
Pemelintiran Biografi (Tahrif al-Siyar): Mengambil penggalan kisah atau perbedaan pendapat kecil di antara para ulama klasik Sunni, lalu membesar-besarkannya untuk mengesankan bahwa internal ulama Sunni diliputi permusuhan dan ketidakjelasan metodologi.
Uji Kritis Palsu terhadap Kitab Hadis: Mengkritik beberapa hadis shahih menggunakan logika awam atau kriteria historis modern tanpa menggunakan kaidah Musthalah al-Hadits, dengan tujuan akhir meruntuhkan kepercayaan umat terhadap otoritas ulama klasik.
Dampak Fitnah Ulama terhadap Umat Islam
Serangan fitnah yang dilancarkan oleh kelompok Syiah terhadap ulama Sunni membawa implikasi teologis dan sosiologis yang destruktif:
Meruntuhkan Sanad dan Rujukan Agama: Jika kredibilitas para ulama penyampai hadis dan penganalisis hukum runtuh, maka umat Islam awam akan kehilangan pegangan hukum Islam yang sah.
Menumbuhkan Sikap Skeptis dan Inkar Sunnah: Umat digiring untuk meragukan keabsahan kitab-kitab induk fikih dan hadis, sehingga lebih mudah disusupi oleh doktrin-doktrin baru yang menyimpang.
Memecah Belah Ukhuwah Umat: Mengorbankan figur-figur ulama yang dihormati secara lintas generasi dapat memicu ketegangan dan disintegrasi di tengah kehidupan bermasyarakat.
Kesimpulan
Fitnah dan pencemaran nama baik yang diarahkan oleh kelompok Syiah kepada para ulama Sunni merupakan bagian dari strategi ideologis untuk melemahkan pilar-pilar keotentikan Islam. Ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah membuktikan keilmuan, ketakwaan, dan kesucian sanad mereka dalam menjaga syariat Nabi SAW.
Umat Islam di Indonesia wajib membentengi diri dengan terus mengkaji karya-karya otentik para ulama salaf, menghormati jasa dan kedudukan para pembela Sunnah, serta mewaspadai setiap narasi syubhat yang berupaya merusak kepercayaan terhadap warisan keilmuan Islam yang lurus.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: