Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahannya dalam Menafsirkan Hadis Manzilah

Syiahindonesia.com - Dalam upaya membangun landasan teologis untuk doktrin Imamah (hak kepemimpinan mutlak dan maksum Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu beserta keturunannya), para ulama dan ideolog Syiah sering kali mencatut dalil-dalil dari kitab hadis Ahlus Sunnah. Salah satu riwayat yang paling sering dieksploitasi adalah Hadis Manzilah (Hadits al-Manzilah).

Hadis ini memang shahih dan dirawi oleh Imam Al-Bukhari serta Imam Muslim. Namun, kelompok Syiah melakukan penyimpangan metodologis melalui tahrif ma'nawi (pemelintiran makna) dan pemotongan konteks historis (Asbab al-Wurud) agar hadis ini terkesan mendukung klaim bahwa Sayyidina Ali ditunjuk sebagai penganti (khalifah) mutlak penerus kepemimpinan Nabi SAW.

1. Teks dan Konteks Historis Hadis Manzilah

Hadis Manzilah diucapkan oleh Rasulullah SAW pada peristiwa Perang Tabuk (tahun 9 H). Ketika itu, Nabi SAW memutuskan untuk berangkat memimpin pasukan Muslimin melawan tentara Romawi dan meninggalkan Sayyidina Ali di Madinah untuk menjaga keluarga beliau dan mengurus urusan kota.

Melihat orang-orang munafik mulai membual dan menuduh bahwa Nabi SAW meninggalkan Ali karena benci atau merasa berat membawanya, Sayyidina Ali menyusul Rasulullah SAW dan berkata: "Apakah Engkau meninggalkan aku bersama wanita dan anak-anak?"

Maka Rasulullah SAW menenangkan hati Ali dengan bersabda:

"Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?" (HR. Bukhari no. 4418, Muslim no. 2404)

2. Kesalahan dan Pemelintiran Syiah dalam Menafsirkan Hadis

Kelompok Syiah mengklaim bahwa sabda Nabi "kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa" merupakan bukti penetapan Ali sebagai wakil mutlak, penguasa setelah Nabi wafat, dan bukti kemaksuman serta hak Imamah. Penafsiran ini runtuh jika diuji secara kritis:

A. Mengabaikan Asbab al-Wurud (Konteks Peristiwa)

Penunjukan Sayyidina Ali oleh Nabi SAW di Madinah bersifat sementara (Istikhlaf Mu'aqqat) khusus selama Perang Tabuk, sebagaimana Nabi SAW juga pernah menunjuk sahabat-sahabat lain sebagai penanggung jawab sementara di Madinah dalam perang-perang lainnya (seperti Ibnu Ummi Maktum, Muhammad bin Maslamah, atau Siba' bin 'Arfathah). Nabi penyamakan tugas Ali dengan Nabi Harun AS yang ditugaskan menjaga kaumnya ketika Nabi Musa AS pergi ke Bukit Sinai selama 40 hari.

B. Nabi Harun AS Wafat Lebih Dahulu daripada Nabi Musa AS

Secara fakta sejarah Al-Qur'an dan Al-Kitab, Nabi Harun AS wafat terlebih dahulu sewaktu Nabi Musa AS masih hidup. Ketika Nabi Musa AS wafat, kepemimpinan Bani Israil diteruskan oleh Yusa' bin Nun, bukan keturunan Harun. Jika Syiah memaksakan qiyas bahwa Ali menggantikan Nabi sebagaimana Harun menggantikan Musa setelah wafatnya, maka analogi ini batal (batal al-qiyas) secara fakta historis.

C. Penggelembungan Makna Kata Manzilah (Kedudukan)

Penyamaan manzilah (kedudukan) dalam hadis ini merujuk pada kedekatan, kecintaan, dan kepercayaan tugas sementara, bukan pelimpahan seluruh otoritas kenabian atau kepemimpinan politik setelah beliau wafat. Pengecualian kalimat "hanya saja tidak ada nabi setelahku" justru menegaskan pembatasan (takhshish) bahwa Ali bukanlah seorang nabi seperti Harun.

3. Kontradiksi Klaim Syiah dengan Praktik Para Sahabat

Jika Hadis Manzilah dipahami oleh para Sahabat Nabi (termasuk oleh Sayyidina Ali sendiri) sebagai ikrar penunjukan khilafah secara eksplisit:

  • Sikap Sayyidina Ali: Mustahil Sayyidina Ali membaiat Sayyidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum jika beliau meyakini hadis ini adalah wahyu pembaitan atas dirinya.

  • Sikap Umat Islam: Mustahil ribuan Sahabat radhiyallahu 'anhum yang dipuji Al-Qur'an secara kompak bersepakat melanggar perintah Nabi SAW dalam perkara fundamental agama.

Kesimpulan

Hadis Manzilah adalah bukti keutamaan, kemuliaan, dan kedekatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di sisi Rasulullah SAW. Namun, menjadikannya sebagai dalil penetapan kekhalifahan mutlak dan doktrin Imamah Syiah merupakan bentuk pemaksaan penafsiran yang mencabut hadis dari konteks aslinya.

Ahlus Sunnah wal Jamaah mencintai dan memuliakan Sayyidina Ali sesuai dengan porsinya yang agung tanpa perlu melakukan pemelintiran dalil demi kepentingan sektarian.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: