Syiahindonesia.com - Konsep Al-Mahdi atau sosok pemimpin adil yang akan muncul di akhir zaman untuk menegakkan keadilan merupakan keyakinan yang dikenal dalam literatur Islam. Namun, terdapat perbedaan fundamental antara konsep Mahdi menurut ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan doktrin Mahdi dalam teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas).
Dalam pemahaman Ahlus Sunnah, Al-Mahdi adalah seorang manusia biasa dari keturunan Rasulullah SAW yang lahir secara normal pada waktunya, menjadi pemimpin yang adil, dan berjuang menegakkan syariat Islam bersama umat. Sebaliknya, Syiah mengkonstruksikan sosok Mahdi sebagai Imam ke-12 (Muhammad bin al-Hasan al-Askari) yang diklaim telah lahir pada pertengahan abad ke-3 Hijriah, masuk ke dalam gua (Sardab) di Samarra pada usia balita, dan hidup bersembunyi selama lebih dari 1.100 tahun.
Konstruksi teologi Syiah mengenai Imam Mahdi ini tidak hanya menghadapi kritik historis, tetapi juga memuat berbagai kontradiksi internal secara dogmatis, logis, dan syar'i.
1. Kontradiksi Antara Fungsi Imamah dan Realitas Ghaibah
Pilar utama teologi Syiah menetapkan bahwa keberadaan seorang Imam maksum adalah keharusan mutlak (wajib 'aqli) bagi setiap zaman. Menurut doktrin mereka, bumi tidak boleh kosong dari Imam sebagai pembimbing dan Hujjah (bukti) Allah atas manusia.
Namun, doktrin ini langsung bertabrakan dengan realitas keghaiban (Ghaibah) Imam ke-12:
Imam Tanpa Peran Bimbingan: Jika fungsi utama seorang Imam adalah membimbing umat dari kesesatan, menegakkan hukum, dan memimpin secara nyata, maka keghaiban selama lebih dari seribu tahun membatalkan fungsi tersebut.
Keberadaan yang Tidak Memberi Manfaat Riil: Pemimpin yang tidak dapat dihubungi, tidak dapat dimintai fatwa, dan tidak hadir dalam realitas kehidupan keagamaan umat secara praktis tidak menjalankan fungsi kepemimpinannya.
2. Kontradiksi Karakter: Membawa Rahmat vs Misi Pembantaian
Dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih, Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin). Al-Mahdi yang dijanjikan dalam riwayat otentik bertugas memakmurkan bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman.
Namun, kitab-kitab induk Syiah (seperti Al-Ghaibah karya Al-Numani dan Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi) menggambarkan misi Mahdi Syiah dengan karakter yang berseberangan:
Sentimen Pembongkaran Makam Sahabat: Literatur Syiah menyebutkan bahwa ketika Mahdi keluar dari keghaiban, tugas pertamanya adalah membongkar makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhuma untuk membakar dan menghukum keduanya.
Penumpahan Darah Mayoritas Umat: Mahdi dalam versi Syiah digambarkan tidak menerima taubat dari mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah) dan melakukan pembantaian masif khusus terhadap bangsa Arab dan pengikut Sunnah. Karakteristik ini kontradiktif dengan sifat kepemimpinan Islam yang mengedepankan keadilan dan kasih sayang.
3. Kontradiksi Hukum dan Sumber Syariat
Syariah Islam telah disempurnakan pada masa Rasulullah SAW dan berlandaskan pada Al-Qur'an serta Sunnah. Namun, dalam riwayat-riwayat internal Syiah mengenai Imam Mahdi, muncul kontradiksi mengenai hukum yang akan dibawanya:
Penerapan Hukum yang Berbeda: Dinyatakan dalam sebagian riwayat Syiah bahwa Al-Mahdi akan memerintah menggunakan hukum آل داوود (Ali Daud / Hukum Keluarga Daud) dan tidak meminta kejelasan bukti shahih melainkan memutuskan berdasarkan ilham pribadi.
Klaim Membawa Al-Qur'an Baru: Beberapa riwayat Syiah mengklaim Mahdi akan membawa mushaf Al-Qur'an yang tersimpan secara utuh (Mushaf Fatimah atau mushaf kumpulan Sayyidina Ali) yang berbeda susunannya dengan Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini. Klaim ini secara langsung mencederai jaminan Allah SWT atas pemeliharaan Al-Qur'an dalam Surah Al-Hijr ayat 9.
4. Kontradiksi Teologis dengan Konsep Wilayatul Faqih
Munculnya konsep Wilayatul Faqih di era modern yang diterapkan di Iran memperlihatkan ketidakselarasan logis dalam doktrin penantian (Intizhar):
Satu sisi, penganut Syiah diwajibkan percaya bahwa hanya Imam Maksum yang berhak memegang kekuasaan politik dan keagamaan tertinggi.
Di sisi lain, penerapan Wilayatul Faqih memberikan otoritas mutlak tersebut kepada ulama biasa (Faqih) yang tidak maksum. Hal ini menunjukkan implikasi praktis bahwa fungsi kepemimpinan tidak bisa selamanya digantungkan pada sosok yang gaib.
Kesimpulan
Konsep Mahdi dalam ajaran Syiah Itsna Asyariyyah memuat berbagai ketidakselarasan bila diuji dengan Al-Qur'an, Sunnah yang otentik, maupun prinsip logika keilmuan. Keyakinan akan munculnya Al-Mahdi dalam ajaran Islam yang lurus (Ahlus Sunnah wal Jamaah) berdiri di atas batas-batas syariat yang jelas, tanpa pengkultusan berlebihan, tanpa narasi dendam sejarah, dan tanpa menyisip-nyisipkan ajaran baru yang merusak kesempurnaan Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: