Syiahindonesia.com - Keyakinan akan datangnya Imam Mahdi di akhir zaman merupakan bagian dari iktikad yang dikenal dalam khazanah pemikiran Islam. Di dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), keberadaan Imam Mahdi dipahami berdasarkan riwayat-riwayat hadis yang sahih: beliau adalah seorang manusia biasa dari keturunan Nabi Muhammad ﷺ yang akan lahir pada waktunya, memimpin umat dengan keadilan, serta menegakkan syariat Islam bersama Nabi Isa a.s.
Namun, di dalam bangunan teologi sekte Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep tentang Imam Mahdi mengalami distorsi dan eskapisme teologis. Mereka menciptakan sosok figur rekaan yang diselimuti berbagai kejanggalan naratif, kontradiksi sejarah, serta doktrin-doktrin mistis yang bertentangan dengan rasionalitas dan kaidah Al-Qur'an maupun As-Sunnah.
1. Mitos Kelahiran dan Keberadaan di Dalam Gua (Sardab)
Kejanggalan paling mendasar dalam teologi Syiah mengenai Imam Mahdi—yang mereka juluki Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari (Imam ke-12)—terletak pada klaim historis keberadaannya.
Doktrin Syiah: Syiah mengeklaim bahwa Imam ke-12 ini telah lahir pada tahun 255 Hijriah (lebih dari 1.100 tahun yang lalu). Menurut narasi mereka, pada usia balita (sekitar 5 tahun), ia masuk ke dalam sebuah gua (Sardab) di Samarra, Irak, lalu menghilang hingga hari ini dalam fase Gaib Besar (Ghaibah Kubra).
Fakta Sejarah dan Realitas: Ulama ahli sejarah (Muwarrikhin) dan silsilah nasab Islam menegaskan bahwa Imam Hasan Al-Askari (Imam ke-11 Syiah) meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan (aqim). Klaim tentang adanya anak laki-laki yang bersembunyi selama seribu tahun lebih di dalam gua adalah dongeng rekaan yang diciptakan oleh para pimpinan teologis Syiah pada masa itu demi mencegah runtuhnya sistem kepemimpinan dan aliran dana Khums (pajak 20%) dari para pengikutnya.
2. Paradoks Fungsi Kepemimpinan dan Kema'shuman
Doktrin Syiah menetapkan bahwa keberadaan seorang Imam yang ma'shum (terbebas dari dosa dan salah) adalah syarat mutlak bagi keberlangsungan bumi dan petunjuk manusia. Namun, konsep Imam Mahdi mereka justru memunculkan paradoks teologis yang tajam:
Penyembunyian Diri yang Menghilangkan Fungsi: Jika alasan diutusnya seorang Imam adalah untuk memimpin umat, menegakkan hukum, dan memberi petunjuk secara langsung, lantas apa gunanya seorang Imam yang bersembunyi selama lebih dari sebelas abad?
Sikap Keharusan Bertahan Diri: Misionaris Syiah sering berdalih bahwa Imam ke-12 bersembunyi karena takut dibunuh oleh penguasa. Penjelasan ini menjatuhkan martabat kepemimpinan Islam, sebab menuduh calon pemimpin akhir zaman tersebut memiliki rasa takut yang melebihi para Nabi dan Sahabat yang pantang mundur dalam berjuang.
3. Matriks Perbandingan Konsep Imam Mahdi: Sunni vs Syiah
Untuk melihat perbedaan mendasar dan kejanggalan konsep ini, berikut adalah tabel komparasi antara iktikad Ahlus Sunnah dan dogma Syiah:
4. Misi Balas Dendam dan Hukum Torat dalam Narasi Syiah
Kejanggalan lain yang sangat destruktif adalah gambaran karakter Imam Mahdi dalam kitab-kitab induk rujukan Syiah (seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi). Karakter yang digambarkan jauh dari sifat rahmat dan keadilan Islam:
Membawa Misi Balas Dendam: Dalam literatur internal Syiah, Imam Mahdi digambarkan akan membongkar makam Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.), membangkitkan mereka, lalu menjatuhkan hukuman cambuk dan salib. Misi utamanya dipenuhi oleh motif dendam politik sektarian.
Memerintah dengan Hukum Keluarga Daud: Di dalam kitab Al-Kafi (kitab paling otoritatif Syiah), disebutkan bahwa ketika Imam Mahdi keluar, ia tidak lagi memutus perkara menggunakan syariat Al-Qur'an dan Al-Khulafa, melainkan memerintah dengan hukum Al-Daud (Taurat/hukum Syariat Nabi Daud a.s.) tanpa memerlukan saksi dan bukti. Ini merupakan indikasi infiltrasi ajaran non-Islam ke dalam teologi mereka.
Kesimpulan
Keyakinan sekte Syiah terhadap sosok Imam Mahdi dipenuhi oleh berbagai kejanggalan teologis, kontradiksi sejarah, dan narasi balas dendam yang merusak citra keagungan Islam. Konsep ini sengaja dirancang sebagai sarana eskapisme politik atas kegagalan historis teori Imamah mereka di masa lalu.
Bagi umat Islam di Indonesia, penting untuk memegang teguh iktikad yang lurus berdasarkan As-Sunnah yang sahih. Memahami hakikat kebenaran tentang Imam Mahdi versi Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan menghindarkan masyarakat dari jebakan propaganda mistis dan penyesatan akidah yang terus dilancarkan oleh misionaris Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: