Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebiasaannya Menggunakan Hadis Palsu

Syiahindonesia.com - Hadis Nabi Muhammad SAW merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an yang berfungsi memperjelas, mempertegas, dan merinci hukum-hukum Allah SWT. Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, penyeleksian terhadap hadis dilakukan dengan standar metode ilmiah (Musthalahul Hadits) yang sangat ketat. Para ulama kritikus hadis mempertaruhkan integritas demi memisahkan mana sabda Nabi yang sahih dan mana riwayat yang cacat, lemah, atau palsu (mawdhu').

Namun, dalam tradisi teologi dan literatur propaganda Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), kebiasaan memproduksi, menggunakan, dan menyebarkan hadis palsu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Demi melegitimasi doktrin-doktrin sektarian yang tidak berlandaskan Al-Qur'an—seperti Imamah, penghafalan celaan kepada para Sahabat, hingga pengkultusan Imam—mereka membangun narasi agama di atas tumpukan riwayat buatan dan manipulasi teks.

Berikut adalah beberapa bukti dan bentuk kebiasaan kelompok Syiah dalam menggunakan hadis palsu:

1. Pengakuan Para Ulama Salaf tentang Maraknya Kedustaan Syiah

Maraknya pembuatan dan penggunaan hadis palsu oleh sekte Syiah bukanlah tuduhan baru, melainkan temuan para pakar hadis sejak abad-abad awal Hijriah.

Bukti Historis: Para ulama besar penyusun Kutubus Sittah dan kritikus hadis secara tegas memperingatkan umat dari riwayat-riwayat penganut Raafidhah/Syiah:

  • Imam Ash-Syafi'i (w. 204 H) bersabda: "Aku belum pernah melihat di antara pemeluk hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu (berdusta) melebihi kelompok Raafidhah."

  • Imam Malik bin Anas (w. 179 H) ketika ditanya tentang kelompok Raafidhah, beliau menasihatkan: "Jangan berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena sesungguhnya mereka selalu berdusta."

  • Yahmya bin Ma'in (w. 233 H), seorang pakar Jarh wa Ta'dil, menyatakan bahwa mayoritas pemalsu hadis pada zamannya berasal dari kalangan ekstremis Syiah di Kufah.

2. Metode Isnad Internal Syiah yang Cacat dan Longgar

Salah satu kelemahan terbesar literatur hadis Syiah terletak pada kriteria transmisi perawi (Isnad) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara kaidah keilmuan.

Bentuk Penyimpangannya: Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, Tahdzib al-Ahkam karya Ath-Thusi, atau Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi:

  • Ribuan riwayat bersumber dari sanad yang terputus (mursal), perawi anonim (mubham), atau jalur periwayatan yang sengaja dipalsukan.

  • Kriteria perawi yang dianggap "sahih" atau "terpercaya" dalam ilmu hadis Syiah bukan dilihat dari kejujuran dan kekuatan hafalan perawi, melainkan dari kesetiaannya pada doktrin pimpinan Syiah. Seorang pembohong sekalipun dapat dinilai terpercaya (tsiqah) asalkan ia penganut Syiah yang fanatik dan membenci para Sahabat Nabi.

3. Jenis-Jenis Hadis Palsu yang Sering Dipopulerkan Syiah

Demi menanamkan doktrin mereka kepada masyarakat awam, kelompok Syiah menyebarkan berbagai tema hadis palsu melalui penceramah, buku, dan media sosial:

  • Hadis Celaan terhadap Sahabat dan Istri Nabi: Mereka menciptakan puluhan riwayat palsu yang menggambarkan Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Sayyidah Aisyah dan Hafshah RA sebagai sosok-sosok yang jahat dan murtad.

  • Hadis Pengkultusan Imam Secara Berlebihan: Memproduksi riwayat buatan bahwa para Imam diciptakan dari cahaya khusus sebelum penciptaan alam, mengetahui ilmu gaib secara mutlak, dan bahwa bumi tidak akan berdiri tanpa keberadaan Imam.

  • Hadis Fadhilah Ritual Buatan: Memenangi emosi pengikutnya dengan menjanjikan pahala ribuan kali haji bagi siapa saja yang melakukan ritual Thathbir (melukai diri pada hari Asyura) atau berziarah ke makam-makam Imam di Karbala dan Najaf.

4. Manipulasi Kitab-Kitab Hadis Ahlus Sunnah

Selain mengandalkan kitab-kitab internal mereka yang penuh riwayat bermasalah, dai-dai Syiah memiliki kebiasaan menyusupkan hadis palsu atau memutarbalikkan fakta saat berargumen di hadapan masyarakat Sunni.

Bentuk Manipulasinya:

  • Mengutip Hadis Dhaif/Palsu yang Ditolak Ulama Sunni: Mereka kerap membawa riwayat dari kitab-kitab klasik Sunni yang memuat riwayat-riwayat dhaif (lemah) atau mawdhu' (palsu)—yang sebenarnya sudah dikritik dan dibuang oleh pakar hadis Sunni—lalu berakting seolah-olah riwayat tersebut disepakati keabsahannya oleh Sunni.

  • Memotong Kontekstual Teks (TadlÄ«s): Mengambil potongan kalimat dari Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, lalu memberi interpretasi liar yang jauh dari maksud asli sabda Nabi dan pemahaman para ulama syarah.

Kesimpulan

Kebiasaan menggunakan dan memproduksi hadis palsu merupakan mekanisme pertahanan teologi Syiah demi menjaga doktrin-doktrin sektarian mereka agar tidak runtuh. Tanpa tumpukan riwayat palsu dan fitnah terhadap para Sahabat, bangunan doktrin Imamah dan pengkultusan individu yang mereka gaungkan tidak akan memiliki pijakan sama sekali.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, berpegang teguh pada metodologi penelitian hadis yang sahih dan berguru kepada para ulama yang lurus adalah kuncinya. Dengan memahami kerentanan dan cacatnya sanad literatur Syiah, kita dapat membentengi akidah dari penyesatan riwayat-riwayat palsu yang mengancam kemurnian Sunnah Nabi Muhammad SAW.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: