Syiahindonesia.com – Dalam rekam jejak sejarah Islam, cucu Rasulullah SAW, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, memiliki kedudukan mulia sebagai pemimpin pemuda ahli surga (Sayyidu Syababi Ahlil Jannah). Salah satu peristiwa monumental dalam perjalanan hidup beliau adalah peristiwanya perdamaian (Shulh) dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA pada tahun 41 H—yang dikenal sebagai Aamul Jama'ah (Tahun Persatuan)—demi menghentikan tumpahnya darah kaum muslimin.
Namun, tindakan mulia ini justru menghadirkan dilema teologis yang besar bagi doktrin sekte Syi'ah Rafidhah. Demi mempertahankan dogma Imamah (kepemimpinan politik mutlak yang wajib dipegang imam maksum), literatur dan tradisi Syiah secara historis maupun teologis melontarkan fitnah dan pencitraan buruk terhadap keputusan serta kepribadian Imam Hasan RA.
1. Kegagalan Teologis Syiah Memahami Keputusan Imam Hasan
Doktrin dasar Syiah mewajibkan seorang Imam untuk selalu menjadi pemimpin dan tidak boleh menyerahkan kekuasaan politik kepada sosok yang mereka anggap "tidak berhak". Ketika Imam Hasan RA secara sadar dan sukarela menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Mu'awiyah RA, bangunan dogma Syiah terguncang.
Untuk menutup celah kontradiksi ini, sekte Syiah melahirkan beberapa narasi dan fitnah:
Tuduhan Pengkhianatan dari Pengikut Syiah Sendiri: Dalam catatan sejarah klasik (termasuk literatur Syiah sendiri seperti Al-Irsyad karya Syaikh Al-Mufid), para pengikut Syiah pada zaman itu melontarkan hinaan tajam kepada Imam Hasan. Beliau dijuluki dengan sebutan "Mudzillul Mu'minin" (sosok yang menghinakan kaum mukminin) karena bersedia berdamai dan berbaiat.
Narasi Ketakutan dan Kelemahan: Beberapa narasi Syiah menggambarkan penyerahan kekuasaan tersebut sebagai bentuk kepasrahan karena ditinggalkan pengikutnya atau ketakutan, bukan sebagai keputusan strategis berjiwa besar demi kemaslahatan seluruh umat Islam.
Tuduhan Kejam terhadap Para Sahabat: Demi membenarkan tindakan Hasan, narasi Syiah memfitnah seluruh kaum muslimin pada saat itu sebagai para pengkhianat yang memaksa sang Imam bertindak di luar kehendaknya.
2. Fitnah seputar Sebab Wafatnya Imam Hasan RA
Distorsi narasi Syiah tidak berhenti pada peristiwa Shulh, melainkan berlanjut pada sebab wafatnya beliau:
Klaim Racun dan Kambing Hitam Politik: Syiah menyebarkan narasi bahwa Imam Hasan RA diracun oleh istrinya sendiri, Ja'dah binti Al-Asy'ats, atas perintah dan janji hadiah dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA.
Bantahan Kritis Historiografi: Para ulama dan sejarawan kritis Ahlussunnah wal Jama'ah (seperti Ibnu Katsir dan Adz-Dzahabi) menjelaskan bahwa tuduhan keterlibatan Mu'awiyah RA dalam peracunan Imam Hasan adalah kisah fabrikasi tanpa sanad sahih yang dapat dipertanggungjawabkan (la yashihhu). Motif politik Mu'awiyah untuk meracun Hasan sama sekali tidak relevan karena Hasan telah mengundurkan diri secara permanen dari arena politik dan menyerahkan kekhalifahan secara damai.
3. Kontras Antara Nubuat Nabi dan Dogma Syiah
Tindakan Imam Hasan RA merealisasikan nubuat (nubuwah) kakeknya, Rasulullah SAW, sebagaimana tertuang dalam hadis sahih:
"Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang Sayyid (pemimpin), dan semoga Allah mendamaikan melaluinya dua kelompok besar dari kaum muslimin yang berselisih." (HR. Bukhari)
Hadis ini secara tegas memberikan penegasan penting:
Kedua Kelompok Adalah Muslim: Nabi SAW menyebut pasukan Hasan dan pasukan Mu'awiyah sama-sama sebagai "dua kelompok besar dari kaum muslimin", sekaligus membantah doktrin Syiah yang mengafirkan atau menyesatkan sahabat yang berselisih dengan Ahlul Bait.
Pujian atas Perdamaian: Rasulullah SAW memuji perdamaian tersebut sebagai tindakan kepemimpinan yang agung (Sayyid), bertentangan dengan ratapan dan kekecewaan ajaran Syiah atas hilangnya tampuk kekuasaan.
Kesimpulan
Sikap dan narasi sekte Syiah terhadap Imam Hasan bin Ali RA menunjukkan ketidakjujuran dalam memuliakan Ahlul Bait. Ketika tindakan nyata Ahlul Bait—seperti perdamaian Imam Hasan—bertentangan dengan doktrin politik Imamah, mereka tidak segan-segan mendistorsi sejarah, menyebarkan fitnah, dan mengabaikan pujian langsung dari Rasulullah SAW.
Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, Imam Hasan RA adalah teladan keagungan jiwa, pahlawan persatuan umat, dan sosok yang mendahulukan keselamatan darah kaum muslimin di atas segala syahwat kekuasaan politik.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: