Syiahindonesia.com - Persatuan dan kedamaian di dalam tubuh umat Islam merupakan salah satu nikmat syariat yang wajib dijaga oleh setiap Muslim. Al-Qur'an secara tegas melarang kaum Muslimin untuk saling bermusuhan, memutus tali persaudaraan, dan menyebarkan kebencian di antara sesama ahli kiblat. Fondasi Ukhuwah Islamiyah dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dibangun di atas ketulusan hati, kelapangan dada, dan komitmen untuk menjaga kehormatan darah, harta, serta nama baik setiap individu yang telah bersaksi dengan kalimat syahadat yang murni.
Namun, lembaran sejarah dan realitas teologis menunjukkan pemandangan yang bertolak belakang di dalam tubuh sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah). Demi mengamankan dan melestarikan doktrin kepemimpinan politik mereka (Imamah), sekte Syiah melancarkan propaganda kebencian secara sistematis dan masif terhadap umat Islam Sunni. Propaganda ini bukan sekadar letupan konflik horizontal yang bersifat kontemporer, melainkan sebuah kurikulum doktrinal yang terstruktur di dalam kitab-kitab suci mereka untuk memelihara dendam sejarah lintas generasi.
1. Narasi Al-Ammah dan An-Nawasib: Labelisasi Kebencian
Langkah awal propaganda kebencian Syiah terhadap Ahlus Sunnah dimulai dari metode pelabelan atau stigmatisasi teologis di dalam literatur internal mereka. Dalam kitab-kitab babon Syiah, umat Islam Sunni tidak pernah dipandang sebagai saudara seiman yang sah, melainkan dijuluki dengan istilah-istilah yang merendahkan, seperti:
Al-Ammah (Kaum Awam yang Buta): Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bahwa mayoritas umat Islam Sunni adalah kelompok manusia yang tersesat, bodoh, dan kehilangan petunjuk karena tidak mengikuti 12 Imam maksum versi mereka.
An-Nawasib (Musuh Ahlul Bait): Ini adalah fitnah paling keji. Kaum rabi Syiah secara sengaja menyamakan status umat Islam Sunni dengan kelompok Nawashib (orang-orang yang membenci keluarga Nabi). Padahal, mencintai Ahlul Bait adalah kewajiban iman di dalam akidah Sunni. Pelabelan ini bertujuan agar pengikut Syiah merasa halal untuk memusuhi dan membenci kaum Sunni.
2. Fatwa Diskriminasi: Menganggap Darat dan Harta Sunni Halal
Propaganda kebencian sekte Syiah tidak berhenti pada tataran retorika verbal, melainkan bermanifestasi menjadi fatwa-fatwa hukum syariat internal yang sangat ekstrem dan diskriminatif. Tokoh-tokoh besar Syiah, baik klasik maupun modern, memproduksi hukum yang merusak tatanan kemanusiaan antarsesama Muslim.
Di dalam kitab-kitab fikih mereka yang otoritatif, terdapat riwayat dan fatwa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya, pahala, ibadah, dan amalan kaum Sunni adalah batil dan tidak diterima oleh Allah SWT. Lebih jauh lagi, sebagian rabi ekstrem mereka secara tertutup mengajarkan bahwa jika kondisi politik dan populasi mereka telah kuat, maka darah dan harta kaum Sunni yang menolak doktrin Imamah dinilai tidak memiliki kesucian hukum (Ghairu Ma'shum). Pandangan teologis radikal inilah yang memicu terjadinya tragedi kemanusiaan, pembantaian, dan pembersihan etnis terhadap kaum Sunni di wilayah-wilayah konflik Timur Tengah ketika faksi politik Syiah berhasil memegang kendali kekuasaan.
3. Mendustakan Ajaran Al-Qur'an tentang Persaudaraan Islam
Dengan merawat propaganda kebencian ini, sekte Syiah secara sadar telah menabrak dan mendustakan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan umat Islam untuk saling berkasih sayang dan membersihkan hati dari rasa dengki terhadap sesama mukmin. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an melalui Surat Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."
Sekte Syiah merusak ayat persaudaraan universal ini dengan membatasi definisi "Al-Mukminun" hanya kepada orang-orang yang sudi bersujud dan membaiat 12 Imam mereka. Di luar kelompok sekte mereka, seluruh umat Islam Sunni dianggap sebagai entitas asing yang layak mendapatkan permusuhan spiritual melaui ritual laknat (Tabarra') yang dikumandangkan setiap hari.
4. Tabel Perbandingan Karakteristik Interaksi: Sunni vs Syiah
5. Strategi Infiltrasi Propaganda Kebencian Syiah di Indonesia
Di Indonesia, para agen misionaris Syiah bergerak dengan sangat halus untuk menyuntikkan racun propaganda ini ke tengah-tengah masyarakat. Karena posisi mereka masih minoritas, mereka memodifikasi narasi kebencian tersebut agar tidak memicu resistensi dari ormas-ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah.
Modus operandi propaganda halus mereka di bumi Nusantara meliputi:
Propaganda Pengorbanan dan Ketertindasan (Martyrdom): Mereka mengeksploitasi momentum hari Asyura atau duka cita Karbala secara berlebihan di ruang publik. Tujuannya adalah membangun opini publik secara perlahan bahwa kaum Sunni (yang direpresentasikan oleh dinasti politik masa lalu) adalah kelompok yang kejam, zalim, dan haus darah keluarga Nabi, guna menanamkan rasa bersalah dan benci di hati pemuda Muslim awam.
Adu Domba Antar-Elemen Sunni: Mereka aktif memprovokasi dan membenturkan antar-sesama kelompok Sunni di Indonesia (misalnya membenturkan kelompok tradisionalis dengan puritan) lewat media sosial, agar kaum Sunni sibuk bertengkar di dalam internalnya sendiri, sementara gerakan kaderisasi Syiah dapat berjalan melenggang tanpa pengawasan.
Kesimpulan
Propaganda kebencian yang disebarkan oleh sekte Syiah terhadap umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan karakter asli dari sebuah ideologi yang lahir dari rahim dendam sejarah. Slogan-slogan persatuan atau ukhuwah yang mereka dengungkan di Indonesia hanyalah tameng temporer (Taqiyyah) untuk menutupi isi kitab-kitab babon mereka yang sarat akan doktrin pengafiran dan pelaknatan terhadap mayoritas Muslim.
Sebagai langkah antisipasi nasional di Indonesia, umat Islam wajib memperkuat koordinasi, meningkatkan literasi akidah yang lurus, serta merapatkan barisan di bawah komando para ulama Sunni yang ikhlas. Membela kehormatan akidah Sunni dan membongkar syubhat propaganda Syiah adalah tugas suci untuk menyelamatkan keutuhan NKRI dan menjaga kesucian agama dari rongrongan perpecahan sektarian yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: