Syiahindonesia.com - Fondasi terpenting dalam akidah Islam yang murni adalah Tauhidullah—mengesakan Allah SWT dalam hal rububiyah, uluhiyah, serta asma' wa shifat. Di dalam Islam, kedudukan makhluk setinggi apa pun, termasuk para Nabi dan Rasul, tetaplah sebagai hamba Allah yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Namun, dalam bangunan teologi Syiah (khususnya Syiah Dua Belas Imam atau Rafidhah), terjadi pergeseran akidah yang sangat ekstrem. Mereka melahirkan doktrin Imamah yang berujung pada pengkultusan yang sangat berlebihan terhadap para imam mereka.
Pengkultusan ini telah melampaui batas-batas kemanusiaan, bahkan menyejajarkan—dan dalam beberapa aspek, melebihi—derajat para Nabi dan sifat-sifat khusus milik Allah SWT. Artikel ini akan mengupas secara detail dan ilmiah bagaimana sekte Syiah mengkultuskan para imamnya, serta bagaimana Islam memandang penyimpangan ekstrem ini demi mengantisipasi infiltrasi paham radikal-teologis tersebut di Indonesia.
1. Menyejajarkan Imam dengan Sifat Ketuhanan: Mengetahui Hal Ghaib
Salah satu bentuk pengkultusan paling fatal dalam ajaran Syiah adalah keyakinan bahwa para imam mereka memiliki pengetahuan mutlak terhadap segala hal yang ghaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi di masa depan.
Bukti Otentik dari Kitab Al-Kafi:
Ulama pilar mereka, Al-Kulaini, menulis bab-bab khusus dalam kitab Al-Kafi yang secara vulgar mengklaim sifat-sifat ketuhanan ini bagi para imam. Di antaranya adalah bab yang berjudul:
“Bab bahwasanya para imam 'alaihimus salam mengetahui kapan mereka akan mati, dan sesungguhnya mereka tidak mati melainkan atas pilihan (kehendak) mereka sendiri.” (Al-Kafi, Jilid 1, Halaman 258).
Ada pula bab lain yang menegaskan:
“Bab bahwasanya para imam 'alaihimus salam apabila mereka berkehendak untuk mengetahui sesuatu, maka mereka pasti langsung mengetahuinya.” (Al-Kafi, Jilid 1, Halaman 258).
Klaim-klaim di atas adalah bentuk perampasan terhadap hak prerogatif Allah SWT. Di dalam Islam, ilmu ghaib mutlak dan penentuan ajal adalah milik Allah semata, bahkan Rasulullah SAW sendiri tidak mengetahuinya kecuali apa yang diwahyukan oleh Allah.
2. Doktrin Ismah: Kesucian Mutlak yang Melebihi Para Nabi
Dalam teologi Syiah, para imam diklaim memiliki sifat Ismah (maksum/terjaga dari dosa). Namun, konsep maksum versi Syiah jauh berbeda dan melompat jauh melampaui konsep maksumnya para Nabi dalam Islam.
Klaim Kedudukan di Atas Malaikat dan Nabi:
Tokoh revolusi Syiah Iran, Ayatullah Ruhollah Khomeini, secara tegas menuliskan pengkultusan ini dalam kitabnya yang sangat terkenal, Al-Hukumah Al-Islamiyyah (Halaman 52):
“Dan sesungguhnya di antara perkara aksiomatik (dasar/terpenting) dalam mazhab kami adalah bahwa para imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh Malaikat yang dekat (dengan Allah) dan tidak pula oleh Nabi yang diutus.”
Doktrin ini secara otomatis merendahkan kedudukan para Nabi Ulul Azmi (seperti Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa 'alaihimus salam). Bagaimana mungkin seorang imam yang tidak menerima wahyu dan tidak membawa syariat baru diklaim memiliki kedudukan spiritual yang lebih tinggi daripada para utusan Allah yang berdarah-darah menegakkan tauhid? Ini adalah pelecehan nyata terhadap institusi kenabian.
3. Menjadikan Imam sebagai Pengatur Alam Semesta (Wilayah Takwiniah)
Puncak dari pengkultusan berlebihan Syiah terhadap para imamnya masuk ke dalam ranah syirik akbar dalam hal Rububiyah, yaitu doktrin Wilayah Takwiniah. Mereka meyakini bahwa atom-atom di alam semesta ini tunduk di bawah kendali dan perintah para imam.
Ulama-ulama Syiah mengajarkan bahwa:
Para imam mengendalikan turunnya hujan dan tumbuhnya tanaman.
Para imam memiliki otoritas penuh atas bumi dan segala isinya.
Segala bentuk penciptaan dan pemberian rezeki secara tidak langsung didelegasikan Allah kepada para imam (paham Tafwidh).
Oleh karena itu, dalam praktik ibadah harian Syiah, sangat sering terdengar lafal istighatsah (meminta tolong saat darurat) yang diarahkan kepada makhluk, seperti meneriakkan kalimat "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain", alih-alih memohon langsung kepada Allah SWT. Ini adalah bentuk nyata dari perbuatan menyekutukan Allah dalam berdoa.
Tabel Komparasi: Kedudukan Manusia Agung dalam Islam vs Syiah
Untuk memberikan visualisasi yang scannable dan kontras mengenai batas akidah yang tegas, berikut adalah tabel perbandingannya:
4. Hantaman Al-Qur'an Terhadap Pengkultusan Makhluk
Segala bentuk pengkultusan berlebihan yang menaikkan derajat manusia ke tingkat ketuhanan dibantah secara telak oleh Al-Qur'an. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW—manusia paling mulia di jagat raya—untuk menegaskan keterbatasan dirinya sebagai manusia di hadapan ilmu ghaib Allah:
“Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula dapat menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemaslahatan...’” (QS. Al-A'raf: 188).
Jika Nabi Muhammad SAW saja diperintahkan Allah untuk mengumumkan bahwa beliau tidak mengetahui hal ghaib dan tidak memiliki kuasa atas kemudharatan, bagaimana mungkin sekte Syiah dengan begitu berani mengeklaim bahwa para imam mereka menguasai ilmu ghaib dan mengatur jalannya alam semesta? Sungguh ini adalah kesesatan berpikir yang sangat nyata.
Kesimpulan
Pengkultusan berlebihan sekte Syiah terhadap imam-imamnya telah keluar dari lingkaran akidah Islam yang hanif dan jatuh ke dalam jurang ghuluw (melampaui batas dalam agama). Dengan menyematkan sifat-sifat khusus ketuhanan—seperti mengetahui ilmu ghaib mutlak, mengendalikan alam semesta, dan memosisikan mereka di atas derajat para Nabi—Syiah telah meruntuhkan kemurnian tauhid.
Bagi umat Islam di Indonesia, memahami hakikat pengkultusan Syiah ini adalah benteng krusial agar tidak terbuai oleh jargon-jargon palsu mereka yang mengeklaim sekadar "mencinta Ahlul Bait". Cinta yang sejati kepada keluarga Nabi adalah dengan meneladani kesalehan dan ketauhidan mereka, bukan dengan mendudukkan mereka sebagai tandingan bagi Allah SWT. Kita wajib menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk noda syirik sekte Rafidhah demi keselamatan iman di dunia dan akhirat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: